| Viktor Darung |
Warga yang menempati Kampung Rampasasa di Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Rii dan Kampung Akel di Desa Bere, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai masih menunggu pengumuman hasil pemeriksaan DNA tersebut.
Yoseph Anca (47), warga Akel, dan Viktor Darung (70), asal Rampasasa mengakui bentuk fisiknya berbeda dari warga umumnya. Mereka yakin neneknya berasal dari Homo Floresiensis yang hidup dan tinggal di Liangbua ribuan tahun silam.
Tulang Homo Floresiensis ditemukan dalam penggalian di Liang Bua pada 6 September 2003 oleh tim arkeologi Indonesia dan Australia. Sebuah tulang masih utuh berjenis kelamin perempuan setinggi 115 cm, sedangkan tulang lain
terpisah-pisah diduga dimakan binatang buas. "Saya yakin 80 persen, gen Manusia Flores ada dalam diri saya dan bapak saya. Tinggi badan saya 132 cm, tak beda jauh dengan tinggi badan almahrum ayah (Yohanes Dak) 125 cm," beber Yoseph kepada Pos Kupang, Sabtu (9/52015) di halaman rumahnya di Akel.
Yoseph, bungsu dari 12 bersaudara pasangan Yohanes Dak dan Rosalia Ndidis (almarhumah) menambahkan, bentuk tubuhnya yang paling pendek. Begitu pula dengan sembilan saudara tiri dari istri kedua Yohanes, Rosalia Rinu.
"Hanya saya yang paling pendek," kata Yoseph, alumni SPMA Mano, Kecamatan Poco Ranaka tahun 1990. Cerita ayahnya, kata Yoseph, penelitian golongan darah ayahnya juga sama dengan golongan darahnya. Dia juga percaya ayahnya masih keturunan pertama orang Manggarai, Mpo Paju. Bentuk tubuhnya pendek, kulit ditumbuhi buluh lebat. Turunan Mpo Paju, sampai kepada nenek Yoseph, Lopo Pada yang memiliki empat orang istri.
Yoseph menuturkan, sosok tubuh sang ayah yang pendek meninggal di usia 103 tahun pada 2009. Yohanes Dak menjabat Tua Gendang Akel dikenal kharismatik, berwibawa dan cerdas oleh warga Akel. Dia juga punya wawasan dan bijaksana menyelesaikan berbagai soal yang terjadi di kampung.
Viktor Darung, tak memiliki turunan. Dia yakin turunan Manusia Flores. Viktor sering ditemui wisawatan asing yang ingin tahu langsung keberadaannya. Bentuk tubuhnya setinggi 132 cm menjadi daya tarik. Viktor yang tak mengenyam pendidikan tak mengalami masalah apapun dalam relasi sosial dengan warga lain. (ius)
Sulit Menjalin Komunikasi
KESULITAN menjalin komunikasi dengan sekelompok warga yang merupakan turunan Homo Floresiensis ketika wisatawan hendak menemui mereka dirasakan pemandu wisata Liangbua, Kornelis Jaman. Mereka mencurigai Kornelis memanfaatkan bentuk tubuh mereka untuk mendapatkan keuntungan finansial.
"Wisawatan asing yang datang ke sini ingin ketemu mereka. Tugas saya memberi penjelasan kepada wisatawan tentang keberadaan warga yang diduga masih turunan Homo Floresiensis ini," kata Kornelis, kepada Pos Kupang, Sabtu (9/5/2015) di Rampasasa.
Menurut Kornelis, populasi kelompok warga yang masih turunan Manusia Flores yang tubuh pendek yang domisili di Rampasa 23 orang dan 12 orang Akel. Yang lain telah meninggal dunia. Perkawinan dalam satu turunan (tungku, Bahasa Manggarai) dan cangkang (tidak dalam satu turunan) belum tentu mewariskan bentuk fisik yang sama.
Kepercayaan warga Rampasasa dan Akel, Homo Floresiensis adalah nenek moyangnya. Mereka tinggal di gua (Liangbua). Penemuan tulang manusia purba pada 2003 menggemparkan dunia. Sedangkan Kampung Rampasasa menjadi benteng pertahanan menghadapi perang antarsuku kala itu. Saat ini, Rampasasa didiami sekitar 300 kepala keluarga dari Suku Tuke, Ntala, Lao dan Taga. (ius)
Sumber: Pos Kupang 12 Mei 2015 halaman 12