Sabtu, 16 Mei 2015

Yoseph Yakin Miliki Gen Homo Floresiensis

Viktor Darung
RUTENG, PK -- Beberapa tahun silam, dokter dari Amerika Serikat melakukan pemeriksaan darah dan DNA terhadap segelintir warga yang diduga keturunan  manusia Flores (homo floresiensis).

Warga  yang menempati Kampung Rampasasa di Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Rii dan Kampung Akel  di Desa Bere, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai masih menunggu pengumuman hasil pemeriksaan DNA tersebut.

Yoseph Anca (47), warga  Akel, dan Viktor Darung (70), asal Rampasasa mengakui  bentuk fisiknya  berbeda dari warga umumnya. Mereka  yakin neneknya  berasal dari  Homo Floresiensis yang hidup dan tinggal di Liangbua ribuan tahun silam.

Tulang  Homo Floresiensis ditemukan dalam penggalian di Liang Bua pada 6 September 2003 oleh tim arkeologi Indonesia dan Australia. Sebuah tulang masih utuh berjenis kelamin perempuan setinggi 115 cm, sedangkan tulang lain
terpisah-pisah diduga dimakan binatang buas.  "Saya yakin 80 persen, gen Manusia  Flores ada dalam diri saya dan bapak saya. Tinggi badan saya 132 cm,  tak beda jauh  dengan tinggi badan almahrum ayah (Yohanes Dak) 125 cm," beber Yoseph kepada Pos Kupang, Sabtu (9/52015) di  halaman rumahnya  di Akel.

Yoseph, bungsu dari 12 bersaudara  pasangan Yohanes Dak dan Rosalia Ndidis (almarhumah) menambahkan, bentuk tubuhnya  yang paling pendek. Begitu pula dengan sembilan saudara tiri dari istri kedua Yohanes, Rosalia Rinu.

"Hanya saya yang paling pendek," kata Yoseph, alumni  SPMA Mano, Kecamatan Poco Ranaka tahun 1990. Cerita ayahnya, kata Yoseph, penelitian  golongan darah ayahnya juga sama dengan golongan darahnya. Dia juga percaya ayahnya masih keturunan pertama orang Manggarai, Mpo Paju. Bentuk  tubuhnya pendek, kulit ditumbuhi buluh lebat. Turunan Mpo Paju, sampai  kepada nenek Yoseph, Lopo Pada yang memiliki empat  orang istri.

Yoseph menuturkan, sosok  tubuh sang ayah yang pendek meninggal di usia 103 tahun pada 2009.  Yohanes Dak  menjabat Tua Gendang Akel dikenal kharismatik, berwibawa dan cerdas oleh warga Akel.     Dia juga punya wawasan dan bijaksana menyelesaikan berbagai soal  yang terjadi di kampung.

Viktor Darung, tak memiliki turunan. Dia  yakin turunan Manusia Flores.  Viktor  sering ditemui wisawatan asing yang ingin tahu langsung keberadaannya. Bentuk tubuhnya setinggi 132 cm menjadi daya tarik.  Viktor yang tak mengenyam pendidikan tak mengalami masalah apapun dalam relasi sosial dengan warga lain. (ius)

Sulit Menjalin Komunikasi

KESULITAN  menjalin  komunikasi dengan sekelompok warga  yang  merupakan turunan Homo Floresiensis ketika wisatawan hendak menemui mereka dirasakan pemandu wisata Liangbua, Kornelis Jaman. Mereka mencurigai Kornelis  memanfaatkan bentuk tubuh mereka untuk mendapatkan keuntungan finansial.

"Wisawatan asing  yang datang ke sini ingin ketemu mereka. Tugas saya memberi penjelasan kepada wisatawan tentang keberadaan  warga yang diduga  masih turunan Homo Floresiensis ini," kata Kornelis, kepada Pos Kupang, Sabtu (9/5/2015) di  Rampasasa.

Menurut Kornelis,  populasi kelompok warga yang masih turunan Manusia Flores  yang tubuh pendek yang domisili di Rampasa 23 orang dan  12 orang Akel.  Yang lain  telah meninggal dunia. Perkawinan dalam satu turunan (tungku, Bahasa Manggarai)  dan cangkang (tidak dalam satu turunan) belum tentu mewariskan bentuk fisik yang sama.

Kepercayaan  warga Rampasasa dan Akel, Homo Floresiensis  adalah nenek moyangnya. Mereka tinggal di  gua (Liangbua). Penemuan tulang manusia purba pada 2003 menggemparkan dunia. Sedangkan Kampung Rampasasa  menjadi benteng pertahanan  menghadapi perang antarsuku  kala itu.  Saat ini, Rampasasa didiami sekitar 300 kepala keluarga dari  Suku Tuke, Ntala, Lao dan Taga. (ius)

Sumber: Pos Kupang 12 Mei 2015 halaman 12

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...