Rabu, 14 Desember 2016

Piet A Tallo dan NTT yang Bermartabat


Oleh Viktus Murin

Wartawan Pos Kupang (1992-1995)

ng (1992-1995)

TAK ada yang dapat dilakukan untuk mengenang 'kepergian' orang baik, kecuali merenungkan dalam-dalam tentang kebaikannya dan berupaya meneladani kebaikannya itu. Mungkin inilah yang sedang terjadi pada kita warga Nusa Tenggara Timur hari-hari ini, saat mengenang sosok Piet Alexander Tallo, salah seorang tokoh besar NTT. Wafatnya Piet A Tallo mengguratkan dukacita mendalam bagi segenap warga NTT. 

Gubernur NTT dua periode ini (1998-2003 dan 2003-2008) telah berpulang kepada Sang Khalik Agung, Sabtu 25 April 2009 sekitar jam 20.30 WIB di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Seturut kacamata imaniah, kita percaya bahwa Tuhan telah menyembuhkan beliau secara tuntas dari sakit yang telah lama mendera tubuhnya. Dalam kesedihan yang masih menempel di relung hati, penulis pun membatin: "Masihkah akan lahir lagi pemimpin NTT yang berkarakter kuat seperti Piet A Tallo?"

Mampir Sejenak di Ayasofya Istanbul

Gerbang utama Ayasofya
SEBELUM meninggalkan Jakarta pekan terakhir bulan September 2016 menuju Istanbul, seorang teman yang sudah beberapa kali berkunjung ke kota Turki yang elok itu mengingatkan agar tidak lupa  menyambangi Hagia Sophia.

"Sebaiknya bung ke sana  untuk melihat keunikan dan terutama pesannya yang luar biasa bagi umat manusia," kata rekanku itu. Saya coba menanyakan lebih lanjut apa yang istimewa dari tempat itu sehingga dia getol mempromosikan, namun tidak mendapat jawaban. Rupanya dia sengaja membiarkan rasa penasaran terbawa hingga ke negara yang berada di dua belahan benua tersebut.

Gayung bersambut. Manajemen Karpowership, perusahaan pembuat kapal listrik yang mengundang kami 18 wartawan asal Indonesia  bertandang ke Istanbul ternyata sudah mengagendakan city tour ke Hagia Sophia. Dan, tiba saatnya city tour  hari itu, Sabtu 1 Oktober 2016. Kami sungguh terkagum-kagum melihat Hagia Sophia atau orang Turki umumnya menyapa  Ayasofya.

Kamis, 08 Desember 2016

Menpora RI Resmikan SSB Bintang Timur Atambua

Dion DB Putra (kanan) memandu diskusi bola
Dion Memandu Diskusi Bola di Perbataasan

ATAMBUA, PK -Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Imam Nahrawi, meresmikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Bintang Timur-Atambua sekaligus lapangan sepakbolanya, Senin (5/12/2016). Peresmian ini dihadiri Menpora Timor Leste, Leovagildo da Costa Hornay.

Acara peresmian ditandai tendangan penalti oleh Menpora Imam Nahrawi ke gawang SSB yang dikawal kiper Presiden Klub SSB Bintang Timur, Fary Francis. Tendangan penalti Menpora membuahkan gol. Selesai seremoni tendangan penalti, Menpora menandatangani prasasti dan foto bersama SSB dan anak-anak.

Sebelum melakukan peresmian, ada sejumlah kegiatan yang digelar sejak Sabtu  (3/12/2016). Mulai dari jalan santai sampai pertandingan sepakbola persababatan antara klub dari Indonesia dan dari Timor Leste. Ada juga acara Baomong (diskusi) tentang sepakbola di rumah jabatan Bupati Belu dengan nara sumber, yakni dua Menpora dan dipandu Pemimpin Redaksi (Pemred) Pos Kupang, Dion DB Putra.

20 Mahasiswa di Kupang Ikut Pelatihan Jurnalistik


Peserta pose  bersama ketua PWI NTT Dion DB Putra
KUPANG, PK - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTT memberikan pelatihan kepada 20 mahasiswa di Hotel Greenia Kupang, Selasa (6/12/2016). Materi yang diberikan adalah teknik menulis berita, teknik wawancara, menulis feature, tulisan mendalam dan lainnya.

Pelatihan dibuka oleh Sekretaris PWI NTT, Zacky Wahyudi Fagih. Hadir pada acara pembukaan, Wakil Ketua I PWI NTT, Damianus Ola, Bendahara PWI NTT, Martha Kote Pa, Ketua SIWO PWI, Sipri Seko dan pengurus lainnya, Apolonia Dhiu.

Zacky Wahyudi Faqih, saat membuka kegiatan itu, mengatakan, pelatihan jusnalistik kepada mahasiswa merupakan program tahunan dari PWI NTT. Kali ini, katanya, adalah tahun ketiga PWI NTT memberikan pelatihan.

Menjaga Kepercayaan Publik


KEBEBASAN pers akan lebih besar manfaatnya  jika disertai peningkatan professional competence, termasuk di dalamnya professional ethic. Demikian catatan tokoh pers nasional Jakob Oetama dalam bukunya berjudul "Pers Indonesia, Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus (Penerbit Kompas, 2004, hal 459).

Jakob Oetama tegas menggarisbawahi pentingnya kompetensi profesional bagi wartawan. Jakob juga mengingatkan bahwa seorang wartawan profesional dituntut melaksanakan etika jurnalistik dalam setiap karyanya bagi publik.

Kompetensi profesional  semakin dibutuhkan ketika keran kebebasan pers sangat terbuka di era Reformasi  sekarang. Pers nasional hari ini memang tidak lagi dihantui risiko pembredelan seperti pada masa Orde Baru yang represif itu. Persoalan utama justru ada dalam diri para pelaku  pers sendiri karena kebebasan yang lebih besar tidak otomatis mengubah watak pers yang mudah tergoda. Pers harus terlibat tetapi patut menjaga jarak. Singkatnya dia harus tetap independen dan kredibel. Independen dan kredibel bisa terwujud kalau dia memiliki kompetensi profesional dan junjung tinggi etika.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...