![]() |
| Dion DB Putra (kanan) memandu diskusi bola |
ATAMBUA, PK -Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Imam Nahrawi, meresmikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Bintang Timur-Atambua sekaligus lapangan sepakbolanya, Senin (5/12/2016). Peresmian ini dihadiri Menpora Timor Leste, Leovagildo da Costa Hornay.
Acara peresmian ditandai tendangan penalti oleh Menpora Imam Nahrawi ke gawang SSB yang dikawal kiper Presiden Klub SSB Bintang Timur, Fary Francis. Tendangan penalti Menpora membuahkan gol. Selesai seremoni tendangan penalti, Menpora menandatangani prasasti dan foto bersama SSB dan anak-anak.
Sebelum melakukan peresmian, ada sejumlah kegiatan yang digelar sejak Sabtu (3/12/2016). Mulai dari jalan santai sampai pertandingan sepakbola persababatan antara klub dari Indonesia dan dari Timor Leste. Ada juga acara Baomong (diskusi) tentang sepakbola di rumah jabatan Bupati Belu dengan nara sumber, yakni dua Menpora dan dipandu Pemimpin Redaksi (Pemred) Pos Kupang, Dion DB Putra.
Menpora RI, Imam Nahrawi, dalam kesempatan itu memberi apresiasi kepada Fary Francis yang telah berinisiatif membangun SSB Bintang Timur di wilayah Kabupaten Belu, wilayah perbatasan RI-RDTL.
Menurutnya, SSB Bintang Timur merupakan SSB terbaik Indonesia. Karena itu, lanjutnya, Kemenpora akan menjadikan SSB ini sebagai pilot project atau percontohan bagi SSB lainnya di seluruh Indonesia.
SSB Bintang Timur, katanya, tidak sekedar menyiapkan lapangan, tidak hanya menyiapkan asrama bagi atlet sepakbola, tidak hanya menyiapkan sekolah bagi pendidikan mereka, tapi ada semangat untuk menyatukan persahabatan yang betul-betul bersahabat antara Timor Leste dengan Indonesia di Belu.
"Kami akan jadikan pilot project untuk SSB yang lain. Di sini tidak hanya dilatih tapi digembleng, digodok tentang bagaimana mental spiritual, rasa komunalitas sampai rasa kemanusiaan dan rasa persahabatan," ujarnya.
Menpora menyebutkan, kehadiran SSB Bintang Timur ini semakin mendukung program Kemenpora yakni satu lapangan, satu desa di perbatasan. Program lapangan desa itu lebih pada bagaimana memanfaatkan lapangan yang pernah dimiliki oleh kecamatan maupun desa untuk direvitalisasi, dan sarana prasarana di sana. Ada sekitar Rp 190-an juta per lapangan. Anggaran untuk program ini sudah dialokasikan sebesar Rp 198 miliar dan diharapkan Bupati Belu bisa berpartisipasi dengan mengusulkan nama desa atau kecamatan yang akan mendapatkan bantuan lapangan.
"Program satu lapangan, satu desa untuk perbatasan bisa jadikan satu dengan SSB. Jadi, lapangan utama di SSB Bintang Timur, penyanggahnya di beberapa desa atau kecamatan di perbatasan. Tentu, saya sudah datang maka program harus terlaksana," ujarnya.
Dari program satu lapangan satu desa ini juga mendukung adanya even-even tingkat desa misalnya liga desa atau gala desa. "Klub atau kelompok desa akan dipertandingkan. Yang paling penting adalah kita permanenkan liga perbatasan. Kita permanenkan karena kami sudah siapkan anggaran itu, silahkan kelola dengan baik mulai dari usia dini sampai usia senior. Kita lakukan secara permanen agar hubungan kita semakin dekat, semakin erat dan pasti akan timbal balik yang positif dan berkualitas bagi peningkatan hubungan kita. Lebih dari itu pasti ada tranfer ilmu dan pengetahuan," katanya. (roy/osi)
Kehormatan bagi Timor Leste
MENTERI Pemuda dan Olahraga Timor Leste, Leovagildo da Costa Hornay, pada kesempatan itu menyambut baik rencana Pemerintah Indonesia melalui Kemenpora untuk menggelar liga perbatasan. Baginya, ini suatu kehormatan dan kebanggaan bagi Timor Leste. Dikatakannya, dari Timor Leste sendiri saat ini sedang mendesain suatu konsep kerja sama olahraga di perbatasan, dan fokus padi tiga titik, yakni Belu, Malaka dan TTU.
"Olahraga bisa jadi entri point untuk membina persahabatan. Kami mendukung semua kegiatan yang diinisiatif oleh Menpora dan Bupati," ujarnya.
Mengenai kehadiran SSB Bintang Timur Atambua, Leovagildo memberi apresiasi sekaligus menyatakan ini sebagai tantangan bagi pihaknya untuk mengantisipasi, jangan sampai klub-klub sepakbola di Timor Leste membeli para pemain dari SSB Bintang Timur.
Presiden Klub SSB Bintang Timur, Fary Francis mengatakan, SSB Bintang Timur ini bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia tetapi SSB di wilayah perbatasan seperti Bintang Timur sangat sedikit. Yang mau membangun SSB di perbatasan itu tidak banyak. Kalaupun mungkin ada tapi programnya kurang jelas, fasilitas dan infrastrukturnya belum jelas.
"Kita menginginkan SSB yang memiliki infrastruktur, program dan memiliki jaringan dengan membangun SSB. Ini kita mengawali hubungan yang baik dengan Timor Leste. Kira-kira apa yang bisa kita buat untuk membangun persahabatan dua negara di perbatasan, sudah diwujudkan bagaimana bisa membangun SSB ini," ujarnya.
Dia menyebutkan, SSB Bintang Timur ini akan diasuh pelatih Hery Kiswanto yang merupakan mantan Kapten Timnas Indonesia. Saat ini, tercatat 450 orang sebagai siswa SSB Bintang Timur Atambua.
Selesai acara peresmian, Menpora RI dan Fary Francis menuju ke perbatasan mengantar Menpora Timor Leste, Leovagildo da Costa Hornay. (roy/osi)
Bupati Willy: Saya Malu
DALAM acara Baomong (Diskusi) Bola bertema: Membangun Harapan di Tanah Perbatasan, yang dipandu Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian Pagi Pos Kupang, Dion DB Putra, di Rumah Jabatan Bupati Belu, terungkap sebuah rasa yang mengganjal hati dan pikiran Bupati Belu, Willy Lay.
Pada saat itu, Bupati Belu, Willy Lay, diberi kesempatan pertama untuk memberi sambutan sebagai tuan rumah. Di hadapan Menpora RI, Imam Nahrawi dan jajarannya, Menpora Timor Leste, Leovagildo da Costa Tu Hornay, Bupati Willy mengaku malu karena Kabupaten Belu yang dipimpinnya tidak memiliki lapangan sepakbola kecuali lapangan milik SSB Bintang Timur yang diresmikan hari itu.
"Saya malu karena tidak ada lapangan sepakbola. Yang ada hanya lapangan SSB. Swasta bisa buat seperti ini. Kita pemerintah ya seperti ini," katanya sambil tertawa dan disambut tawa hadirin.
Dia meminta agar dengan kehadiran Menpora pada saat itu bisa memberikan bantuan lapangan bagi kecamatan-kecamatan di perbatasan. "Kami tidak minta dana yang besar seperti yang Pak Fary bangun (SSB Bintang Timur, Red). Tujuannya memasyarakatkan olahraga di Belu. Semoga lewat Pak Menteri bisa tercapai," ujarnya.
Menanggapi permintaan ini, Menpora RI, Imam Nahrawi, meminta Bupati Willy tidak perlu malu dengan kondisi yang ada sekarang. Apa yang sudah dibangun Fary Francis, kata Menpora, sudah merupakan bagian dari pembangunan di Belu.
"Pak Bupati tidak perlu malu karena ada saya dan bupati. Segera akan diselesaikan Pak Fary. Pak Fary selain sebagai Presiden Club SSB Bintang Timur, tapi juga ketua komisi yang membidangi infrastruktur," ujarnya.
Menpora menyebutkan, ada program Kemenpora satu lapangan, satu desa di perbatasan. Anggaran untuk program ini sudah dialokasikan sebesar Rp 198 miliar dan diharapkan Bupati Belu bisa mengusulkan nama desa atau kecamatan yang akan mendapatkan bantuan lapangan. (roy)
Sumber: Pos Kupang 6 Desember 2016 hal 9
