Jumat, 20 Juli 2012

Kegagalan Negara Singkong

CARILAH ironi yang mencabik-cabik harga diri bangsa agraris-maritim dan itu kita  temukan di negeri tercinta ini. Di abad ke-21 yang seharusnya kita lebih tangguh, lebih cerdas dan lebih bermartabat. Faktanya Indonesia terus melapuk karena salah urus, karena pemimpin lebih suka ribut ketimbang berpikir tentang kesejahteraan umum.

Sekadar urusan isi perut pun kita  tidak sanggup menghasilkannya dari tanah sendiri. Kita bergantung dari hasil kerja bangsa lain yang bahkan luas lahan pertanian serta lautnya cuma sejengkal.

Oh My God. Apa yang salah dengan Indonesia? Bayangkan saja dalam kurun waktu lebih dari 15 tahun untuk kebutuhan pangan rakyat negeri tropis yang kaya sumber daya alam ini bergantung dari impor. Sejak lama  Indonesia dikenal sebagai negara pengimpor  beras, garam, kedelai, daging, gula, garam, susu dan buah- buahan.  Paling menggelikan kejadian terakhir. Pemerintah Indonesia  mengimpor singkong dari Vietnam dan China.

Benar-benar berita pilu buat petani Indonesia. Bukan hanya beras, gula dan garam asing yang menyerbu pasar domestik. Hasil pertanian sekelas singkong pun harus bersaing keras   menghadapi gempuran produk impor yang pasti harganya lebih murah. Pemerintah sungguh mau enaknya saja.   Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri kran impor dibuka selebar-lebarnya. Silakan mekanisme pasar yang bekerja. Yang kalah bersaing pasti terjungkal.

Pemerintah tidak berpikir sebaliknya yaitu membangun bidang pertanian dengan sungguh-sungguh agar kebutuhan pangan dalam negeri bisa kita penuhi dari kebun sendiri.   Dari jumlah total penduduk Indonesia, sekitar 75 persen hidup dari pertanian. Maka betapa apesnya nasib mayoritas rakyat negeri ini. Yang disebut pemerintahan  pro rakyat hanyalah jargon. Sekadar pemanis bibir  politisi yang dalam praktiknya hanya berpikir untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

Kaum cerdik cendekia sudah mengingatkan beribu kali bahwa salah satu ciri negara gagal adalah kebutuhan pangan bergantung dari impor.  Bukankah hari-hari ini Indonesia sedang berziarah dengan lekas menuju negara gagal? 

Kalau ada yang berteriak nyaring bahwa warning negara gagal itu berlebihan, sebaiknya tutup mulut karena sekadar singkong dan garam pun kita impor. Laut kita paling luas di Asia. Eh, garam saja dipasok dari luar. Singkong itu tanaman Nusantara yang menghidupkan anak Indonesia  sejak abad ke-15. Di awal abad ke- 21, pemerintahnya malah mengimpor dari negara tetangga. Kemunduran mengerikan!

Bagaimana dengan kita di Sulawesi Utara, di  bumi Nyiur Melambai yang mendapat anugerah dari Tuhan lewat alam yang subur? Berkatalah jujur Kawanua. Tak banyak lagi petani di Sulut yang berkebun singkong. *

Sumber: editorial Tribun Manado 19 Juli 2012 hal 10

Senin, 16 Juli 2012

Omset Puluhan Juta per Hari

* Geliat Pasar Ramadhan di Kotamobagu
 
Setiap bulan Ramadhan, geliat perekonomian warga Kampung Baru, Kelurahan Kotobangon sangat  terasa. Omset per hari puluhan juta rupiah.

HARI Sabtu (14/7/2012) siang,  Hartono Goniobala tampak cermat memperhatikan empat pria yang sedang membuat meja panjang di sisi Jalan Sugiono, Kotamobagu. Los tersebut memanjang dari sisi mini market hingga tikungan di depan RS Datoe Binangkang. Los tambahan juga telah dibuat di depan bekas toko onderdil yang terbakar beberapa waktu lalu.

Warga Borong Daging Sapi dan Ayam

*  Jelang Ramadhan Harga Merangkak Naik
*  Pedagang Beras Bingun Mau Jual Eceran

MANADO, TRIBUN - Menjelang bulan Ramadhan, harga sejumlah bahan kebutuhan pokok (sembako) di berbagai daerah di Sulawesi Utara (Sulut) merangkak naik. Bahkan ada yang kenaikannya sudah mencapai 100 persen.
Kenaikan harga sangat terasa di Kotamobagu.   "Beberapa minggu lalu harga daging ayam satu ekor Rp 25 ribu yang kecil, sementara yang besar Rp 34 sampai 40 ribu satu ekor. Tapi sekarang harganya mencapai Rp 60 ribu per ekor," ujar Emon Mamonto, warga Desa Moyag, Sabtu (14/7/2012).

Tombeng-Lumentut Makan Bersama

* DPP Demokrat Akan Putuskan Cabup Minahasa

MANADO, TRIBUN -  Demikian Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demkorat  Minahasa, Denie Tombeng dan beberapa pengurus makan bersama Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Utara (Sulut) di sebuah restoran siap saji di Manado, Sabtu (14/7/2012) malam.
Denie Tombeng   tampak berbincang serius dengan  Vicky Lumentut. Lumentut yang juga menjabat  Wali Kota Manado terlihat memberikan beberapa arahan kepada  Tombeng dan rombongannya dari Tondano.
Menjawab pertanyaan Tribun Manado usai makam malam bersama  Tombeng, Lumentut mengatakan Tombeng menempati posisi teratas menurut hasil survei  Lembaga Survei  Indonesia (LSI) terhadap calon bupati (cabup) Minahasa yang dilaksanakan Partai Demokrat.

Puluhan Kilogram Narkoba Masuk Manado

TONDANO, TRIBUN - Ini warning bagi masyarakat Manado dan sekitarnya. Berdasar catatan Badan Narkotika Nasional, Manado menjadi sasaran empuk mafia obat-obatan terlarang. Bahkan menurut Deputi Pemberantasan BNN, Brigjen Dr Benny J Mamoto, ada jatah hingga puluhan kilogram narkoba tiap bulan yang dikirim mafia ke Manado.

"Ini angka yang sangat besar. Ini menunjukkan Manado sudah menjadi sasaran pasar narkoba. Kami dari BNN sudah mengincar dan tinggal menunggu waktu untuk menggulung jaringan ini," kata Benny Mamato dalam wawancara khusus dengan Tribun Manado di Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, Minggu (15/7/2012).

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...