Rabu, 28 Januari 2015

Pesan dari Om Herman Darmo (3)

Jualan koran pada HUT Tribun Manado
SAYA tidak berlama-lama untuk santai. Ya, memang kehadiran saya di Manado adalah untuk bekerja bukan pelesiran. Tanggal 7 Maret 2012 datanglah mas Febby Mahendra Putra bersama Om Herman Darmo dan mas Sentrijanto ke Manado. Seperti biasa pertemuan maraton pun berlangsung di ibukota bumi Nyiur Melambai ini. Pertemuan di bisnis maupun di redaksi.

Lalu sampailah saatnya pengumuman dari Om Herman tentang perubahan komposisi di jajaran redaksi Tribun Manado. Sejak bertemu Om Herman di kantor Persda Jakarta bulan Februari 2012 saya sudah diberitahu kalau mas Ribut akan menggantikan posisi Richard Nainggolan sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Manado. 

Mess Kairagi (2)

Natal Bersama 2013
TAK lama berada di kantor, saya diantar ke mess yang letaknya persis di samping kantor, berdampingan dengan ruang percetakan. Rupanya kedatangan saya sudah menjadi rahasia umum  sehingga kamar di mess sudah dibersihkan office boy.

Mess itu terdiri dari empat kamar tidur. Saya mendapat kamar paling besar. Kamar ini sebelumnya pernah ditempati Pemimpin Perusahaan (PP)  Harian  Tribun Manado mulai  dari Triyoba Nataria, Agus Cama, Wakil PP Wakit dan PP yang sekarang Fahmi Setiadi.

Mas Ribut dari Harian  Banjarmasin Post yang sudah lebih dulu tiba di Manado pada bulan November 2011 menempati kamar ukuran lebih kecil, dekat dengan gudang dan kamar mandi. Berbeda dengan tiga kamar tidur lainnya, kamar yang saya tempati mempunyai kamar mandi di dalam. Ruangannya pun luas sekali.

Manado Saya Datang (1)

Saya bersama mas Ribut, Yusran, Taufik Miharga dan Mas Yadi (2013)
BUMI Kawanua baru saja bersimbah hujan  ketika ban pesawat Lion Air jenis Boeing 737  menyentuh landasan pacu Bandara Sam Ratulangi (Samrat) Manado hari itu, 6 Maret 2012 sekitar pukul 11.50 Wita.  Pesawat Lion Air yang take off dari Bandara Internasional Juanda Surabaya mendarat mulus di Samrat  meskipun saat melakukan manuver dari arah Pulau Manado Tua dan Bunaken sedikit mengalami goncangan.

Saya bergegas turun menuju gedung terminal bandara melalui terowongan belalai panjang. Jalan bersama para penumpang lainnya termasuk sekelompok perempuan muda dengan gaya fashion menarik mata yang sama-sama naik dari Surabaya.

Selasa, 20 Januari 2015

"Kembali" ke Kupang


bildad11.jpg

IKAN BAKAR — Menikmati ikan bakar di pantai Kupang (1997) bersama Bildad (paling kiri), Paul Bolla dan pasangannya, kemudian Ana Jukana, Peter A Rohi, dan Hans Christian Louk. Ikan termasuk murah di Kupang, terutama kalau kita mau beli langsung dari nelayan pas mereka naik dari laut. Ikan segar itu langsung dibersihkan dengan air laut, dibakar, disantap. Gurih sekali.

 

Buku Kiriman Dion

“KAKA.. Ini be kirim buku 15 Tahun Pos Kupang. Baca sudah! Tapi jang bilang-bilang orang laen. Be cuma bawa beberapa sa untuk ketong pung teman yang perna di Kupang, na!”

ITULAH yang dibisikkan Dion Dosi Bata Putra, Pemimpin Redaksi Pos Kupang di sela-sela Rapat Kerja pimpinan koran-koran daerah Persda di Ciater, Subang, Jawa Barat, 5 Desember 2007. Ia merogoh ransel, mengeluarkan buku bersampul biru.

Hukum Adat Suku Lise

Dion DB Putra
Oleh Dion Dosi Bata Putra

SUKU
Lise memiliki seperangkat hukum adat yang diwariskan secara turun-temurun. Perkembangan zaman, intevensi agama (Gereja Katolik) ikut melunturkan hokum dat tersebut apalagi dengan praktik hukum kolonial dan hukum positif  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI. Beberapa hukum adat Suku Lise yang masih dikenal antara lain:

1.    Wale Pela

Hukum berupa sanksi atau denda terhadap seseorang yang terbukti berzinah atau istilah pop selingkuh. Zinah dalam pengertian masayarakat Lise sama dengan zinah yang dikenal umum. Artinya seseorang (baik pria maupun wanita) melanggar norma kesusilaan. Yang dikenai wale atau denda dalam kasus zinah adalah pria, sedangkan wanita mendapat sanksi secara moral. 

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...