![]() |
| Saya bersama mas Ribut, Yusran, Taufik Miharga dan Mas Yadi (2013) |
Saya bergegas turun menuju gedung terminal bandara melalui terowongan belalai panjang. Jalan bersama para penumpang lainnya termasuk sekelompok perempuan muda dengan gaya fashion menarik mata yang sama-sama naik dari Surabaya.
"Taksi bos? Mau ke mana?" begitu sapaan seorang pemuda berseragam biru berpadu bis kuning di lengannya saat saya sampai di tempat pengambilan bagasi.
Saya memberi isyarat iya tetapi meminta dia bersabar karena saya masih menunggu koper berisi pakaian dan buku-buku.
Pemuda ini terus merapat menanyakan alamat tujuanku ke Manado. Saya sudah mendapat informasi dari Richard Nainggolan bahwa kantor Harian Tribun Manado yang menjadi tujuan kedatangan saya di Manado tidak seberapa jauh dari bandara. Paling jalan selama 15 menit dari Bandara Samrat sudah sampai ke tujuan.
Si pemuda menyebut biaya taksi Rp 70 ribu ketika saya mengatakan akan ke kantor Tribun Manado di kawasan Kairagi. Saya tidak serta merta mengiyakan karena lazimnya di mana-mana di negeri ini, tarif taksi yang tidak menggunakan agrometer masih bisa ditawar.
"Ah, cuma dekat kok itu kantor Tribun. Bagaimana kalau Rp 50 ribu?" jawabku. "Tambah sedikit bos, Rp 60 ribu ya," katanya. Saya kira tarif Rp 60 ribu itu rasional sehingga langsung menyetujuinya.
Sebenarnya saya bisa saja meminta Richard Nainggolan, pemimpin redaksi Harian Tribun Manado menjemputku di bandara hari itu atau dia dapat menugaskan seorang rekan. Namun, saya tidak mau merepotkan mereka. Apalagi kedatanganku ke Manado dalam rangka tugas. Saya sudah terbiasa bepergian ke mana-mana dan sedapat mungkin menjalani sendiri kalau masih mungkin.
Richard benar. Perjalanan dari bandara ke kantor Tribun hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Kebetulan siang itu arus lalulintas lancar saja. Meskipun berlangsung singkat saya sudah mulai menikmati panorama sudut-sudut Manado,kota yang baru pertama kali saya datangi. Sudah lama saya merindukan datang ke kota ini. Mau menikmati kulinernya yang terkenal enak. Akhirnya baru sekarang kesampaian.
Tidak sulit menemukan kantor Tribun Manado. Letaknya sangat strategis yakni berada persis di sisi jalan utama dari Bandara Samrat ke kawasan pusat Kota Manado. Siapapun yang ke Manado melalui bandara Samrat pasti akan melewati depan kantor Tribun di Kairagi. Papan nama kantor harian ini pun mirip baliho raksasa yang sudah bisa terlihat dengan mata telanjang dari jarak 300-400 meter.
Tiba di sana saya melaporkan diri kepada petugas sekuriti berseragam yang berada di front office. Rupanya Tribun Manado belum menempatkan staf CS (Customer Service). Sekuriti merangkap tugas sebagai CS atau orang pertama yang berhadapan dengan tamu. Saya beritahu nama dan asalku dari Kupang. Mau bertemu dengan Richard Nainggolan atau Ribut Rahardjo.
Sekonyong-konyong sudah berdiri di hadapanku seorang yang cukup familiar wajahnya. Perawakannya pria itu tinggi, bola mata biru, ukuran badan sedang dengan rambut sebagian sudah memutih. "Siapa ya orang ini? Saya pernah bertemu dia di mana dulu" gumamku membatin.
"Ini Om Dion kan?" katanya sebelum sempat saya tanya. "Saya Charles Komaling, Om." Oh saya ingat sekarang. Benar ini Charles Komailing,putra Manado kelahiran Bogor. Saya bertemu dia di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) pada tahun 2005 saat menjalani penugasan kurang lebih satu bulan di Harian Tribun Kaltim. Waktu itu dia merupakan salah seorang redaktur di sana. Sewaktu Tribun Grup mendirikan Harian Tribun Manado tahun 2009, Charles pulang ke tanah leluhurnya untuk ikut mengelola koran harian ini.
Charles termasuk orang-orang pertama yang membidani lahirnya Tribun Manado. Dia dipercayakan sebagai Koordinator Liputan (Korlip) di Redaksi sejak koran ini pertama terbit di bawah komando Pemimpin Redaksi Richard Nainggolan. Richard ini menjadi wartawan pertama kali melalui Harian Pos Kupang. Dia masuk tahun 1996 lalu jatuh cinta sama wartawan desk Ekbis, Vien Daos. Keduanya menikah dan kini punya empat orang anak.
Jadi Richard yang pakai inisial CAT pernah menjadi "anak buah" saya yang saya promosikan sampai menjadi redaktur/editor hingga tahun 2000 dia pindah ke Bandung bergabung dengan Harian Metro Bandung yang diasuh senior kami Yusran Pare. Seiring menanjaknya branding Tribun, Metro Bandung kemudian berubah nama menjadi Harian Tribun Jabar (Jawa Barat).
Charleslah yang mengantar saya ke lantai II kantor Harian Tribun Manado. Redaksi berada di lantai II, sedangkan lantai I untuk bisnis. Saya kemudian menelepon Richard yang waktu itu sedang di luar kantor. Saya beritahu sudah sampai di kantor Tribun Manado. Saya juga memberitahu mas Ribut. Nomor hp-nya diberikan mas Febby Mahendra Putra, GM Redaksi Tribun Group. Mas Ribut yang waktu itu ada di Mess datang ke redaksi.
Setelah Richard datang, saya berkenalan dengan Fahmi Setiadi, pemimpin perusahaan serta para manajer, teman-teman wartawan dan editor Harian Tribun Manado. *
Di sini kucatat penggalan-penggalan kisahku selama berada di bumi Kawanua.
Kisah yang mungkin tidak penting amat.
Dion DB Putra
