RATUSAN Umat Hindu di Kota Kupang berpakaian adat Bali memenuhi halaman Pekuburan Hindu di Kelurahahn Nun Baun Delha, Kota Kupang, Jumat (21/8/2015) pagi. Mereka mengadakan upacara Ngaben (kremasi atau pembakaran jenazah Umat Hindu) secara simbolis terhadap 23 jenazah yang terdiri dari dua dewasa dan 21 anak- anak dan balita.
Hasil pembakaran berupa abu dikumpulkan dan dimasukkan dalam periuk tanah, dalam buah kelapa gading lalu disimboliskan serta dirangkai menjadi sekah. Sekah disucikan dan dihanyutkan ke air (laut) oleh keluarga sawo. "Dihanyutkan ke air, bisa laut atau sungai. Karena diyakini, air adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Brahman (Tuhan). Air bisa mengantar atma atau roh ke Nirwana," kata Ratu Ida Padanda Gde Panji Swota, pemimpin Ngaben Massal.
Setelah pembakaran pendeta dan keluarga sawo menuju Pura Oebanantha Kupang melakukan upacara pemanggilan dan menyucikan Roh sawo atau Ngerorasin. Roh yang dipanggil disimbolkan dan dibakar lagi dan abunya dibuang kembali ke laut. Setelah itu, Ratu Ida Padanda kembali memanggil roh dan disimbolkan lagi lalu diberikan ke setiap keluarga untuk disimpan dan disembahyangkan di Bali.
Pada acara religi ini, tua muda, lelaki perempuan semua bergotong-royong menurunkan berbagai bentuk dan jenis banten, sesajen (sajian atau hidangan yang memiliki nilai sakral) bagi Umat Hindu, termasuk peralatan musik dan lainnya yang digunakan untuk upacara Ngaben dari truk. Berbagai peralatan dan sesajen serta banten itu diletakkan pada tempat yang sudah disiapkan.
Proses penyiapan banten dan sajen dilakukan keluarga sawo (jenazah) bersama ibu Dayu, ahli sajen, yang dihadirkan khusus dari Denpasar. Menurutnya, sajen yang disiapkan berupa beras empat warna, Putih (Tuhan), Kuning (Maha Dewa), Merah (Brahma di selatan), dan Hitam (Wisnu di utara). Ada juga sajen dari kembang dan sari serta kain yang bertuliskan ongkan, yakni simbol Tuhan.
Di luar sajen itu ada banten kunjung putih kuning sebagai persembahan simbol kehidupan antara timur dan barat, laki-laki dan perempuan, simbol air, simbol laut dan simbol gunung. Simbol bumi yang diisi uang kepeng (logam) sebanyak 2-2-5 berjumlah 9. Ada juga banten pengulapan, penyucian.
Ratu Ida Padanda, dan istrinya, yang datang dari Jakarta, sibuk menata dan menyucikan peralatan sembahyang di meja yang digunakan untuk upacara Ngaben.
Di Pura Mraja Pati Nun Baun Delha, beberapa pinandita mendoakan dan menyucikan simbolis sawo (jenazah) yang dibawa setiap keluarga.
Di dalam pura, keluarga sawo mengitari tempat sembahyang sebanyak tiga kali disertai doa dan kidung dan setelahnya membawa simbol sawo ke Pendeta. Bersamaan dengan itu, sejumlah kuburan milik sawo yang berada di sekitar Pura Mrajan Pati itu dihancurkan oleh petugas dengan hamar. Penghancuran kuburan sebagai tanda jenazah sudah diangkat untuk mengikuti proses Ngaben.
Selanjutnya 23 sawo itu kembali didoakan oleh Pendeta Ratu Ida Padanda bersama keluarga para sawo. Seusai doa penghormatan dari keluarga terhadap sawo dimaksud dan kemudian dua sawo dewasa dibakar oleh keluarga bersangkutan. Sedangkan 21 sawo anak dan balita tidak dibakar.
Dua sawo yang dibakar adalah sawo Ni Ketut Sukerti dan sawo Komang Teni Artiningsih, yang meninggal beberapa tahun lalu. Keluarga mengelilingi sawo dan mulai membakarnya hingga menjadi abu diiringi doa dan kidung. Saat itu tiba-tiba ada tiupan angin kencang membuat tanah sekitarnya berterbangan, api Ngaben pun 'terganggu'. Kondisi itu tidak mengganggu konsentrasi keluarga sawo untuk melantunkan kidung dan doa Ngaben selesai.
Ketua PHDI Kota Kupang, Prof. Dr. Ir. I Nyoman Maheyasa menjelaskan, Ngaben ydi Kota Kupang hanya melewati dua dari tiga proses, yakni tahap Ngaben dan Ngerorasin. Sedangkan tahap Ngelinggihan, yakni upacara memanggil roh yang sudah bersih dan sudah menjadi suci atau sudah menjadi dewa. Proses itu akan dilakukan setiap keluarga di Mrajan atau tempat persembahyangan keluarga di Bali. "Dua proses sudah dilakukan di Kupang, tinggal proses Ngelinggihan di keluarga di Bali," kata Nyoman.
Ratu Ida Padanda menilai Ngaben massal di Kupang sudah sah, memenuhi syarat dan diyakini sudah diterima oleh Brahma atau Sang Hyang Widi, termasuk oleh sawo yang di-Ngaben. Menurut dia, upacara Ngaben berhasil atau tidak, diterima atau tidak, ditunjukkan dengan tanda hadirnya roh saat proses Ngaben. Kehadiran roh bisa ditandai adanya angin kecang, tenda terangkat, panas yang sangat terik, hujan, angin sepoi-sepoi, suasana sepi seketika, merinding dan kerasukan saat pelaksanaan Ngaben.
"Roh bisa datang dalam berbagai bentuk," katanya.
Ratu Ida Padanda mengatakan, dengan Ngaben, keluarga bisa membebaskan arwah leluhur dari ikatan duniawi dan roh itu bisa menuju surga, atau menjelma kembali ke dunia melalui reinkarnasi. Perwujudan reinkarnasi itu sangat tergantung karmaphala selama orang itu hidup di dunia. Jika selama hidup di dunia, dia menjalani kehidupan dengan baik, maka setelah mati, orang itu akan menemukan peristirahatan di Moksha, yaitu suatu keadaan di mana jiwa telah bebas dari reinkarnasi dan roda kematian.
Tetapi, jika orang itu menjalani kehidupan yang buruk selama di dunia, maka saat dia mati akan menjalani reinkarnasi. Dalam reinkarnasi itu, roh akan hidup kembali dan menjelma di dunia sebagai manusia lain di dalam garis keturunan keluarganya atau malah bisa menjadi hewan. Saat reinkarnasi, dia akan diberi kesempatan untuk kembali memperbaiki dirinya dalam kehidupan yang baru sehingga nanti ketika mati, dia bisa masuk Surga. (novemy leo/metil dhiu)
Tak Berutang kepada Leluhur
NGABEN merupakan perwujudan rasa hormat dan sayang dari orang yang ditinggalkan kepada leluhur (orang yang sudah meninggal). Dan Ngaben menjadi acara bahagia karena orang tua atau anak-anak telah melaksanakan kewajiban sebagai anggota keluarga untuk mengabeni leluhurnya. Itulah sebabnya upacara Ngaben selalu disambut suka cita tanpa derai air mata dan tangisan. Dipercayai, tangisan justru akan menghambat perjalanan roh (atma) mencapai Surga.
Terbukti, saat pelaksanaan Ngaben massal di Perkuburan Namosain Kupang, Jumat (21/8/2015), tak ada isak tangis dari keluarga sawo (jasad). Wajah orangtua, suami, istri, anak, sanak keluarga serta keturunan dari 23 sawo itu nampak biasa saja. Bahkan mereka terlihat selalu tersenyum mengikuti setiap tahap demi tahap Ngaben.
Saat membakar sawo keluarganya secara simbolis, Made Ladra dan Ayu, bersama sejumlah sanak keluarganya khusuk dan tak menangis. Made Ladra mengatakan, istrinya, Komang Yeni Artiningsih, meninggal dunia Desember 2014 dan dikuburkan di perkuburan Hindu di Namosain, KOta Kupang.
Namun, karena dia belum memiliki banyak uang untuk upacara Ngaben. Karena itu, dia bersyukur acara Ngaben massal ini, sawo istrinya bisa di Ngaben. "Ngaben massal tidak butuh uang banyak sehingga kami sangat terbantu. Saya dan anak-anak, Putu Eka dan Ade Geni, sangat bahagia karena sudah bisa mengabenkan jenazah almarhumah. Tanggal 23 Agustus 2015 ini saya ke Bali untuk upacara Ngelinggihan di Mrajan keluarga di Bali. Terima kasih pemerintah dan panitia," kata Made.
Hal senada disampaikan Ayu, yang mengabenkan ibunya, Nyi Ketut Sukerti (53). "Saya dan dua saudara saya sangat terharu karena hari ini kami bisa mengabenkan jenazah ibu kami. Selama ini kami masih merasa berutang kepada leluhur, ibu, karena belum acara Ngaben jenazahnya. Lega sudah hari ini kami ikut Ngaben massal, kami tidak berutang lagi kepada leluhur," ujar Ayu.
Sejumlah masyarakat Kota Kupang yang ditemui di lokasi Ngaben, mengatakan, terpukau dan senang karena bisa menyaksikan upacara Ngaben massal. "Saya baru pertama kali menyaksikan upacara Ngaben. Ini sesuatu yang baru, unik dan sangat bagus jika diadakan rutin di Kota Kupang,” kata Mariana Wadu. (vel)
Sumber: Pos Kupang 23 Agustus 2015 hal 1
