![]() |
| Bersama rekan Tribun Manado 2013 |
Rupanya kedatangan saya sudah menjadi rahasia umum sehingga kamar di mess sudah dibersihkan office boy. Mess itu terdiri dari empat kamar tidur. Saya mendapat kamar paling besar. Kamar ini sebelumnya pernah ditempati PP Tribun Manado mulai dari Triyoba Nataria, Agus Cama, Wakil PP Wakit dan PP yang sekarang Fahmi Setiadi.
Mas Ribut dari Harian Banjarmasin Post yang sudah lebih dulu tiba di Manado pada bulan November 2011 menempati kamar ukuran lebih kecil, dekat dengan gudang dan kamar mandi. Berbeda dengan tiga kamar tidur lainnya, kamar yang saya tempati mempunyai kamar mandi di dalam. Ruangannya pun luas sekali.
Sebelum saya tiba di Manado, mess itu dihuni Ribut Raharjo (Manajer Produksi) dan Dian Nagara (Manajer Sirkulasi). Dian adalah putera Solo yang sebelumnya bekerja di Harian Tribun Timur di Makassar, Sulawesi Selatan. Setahun kemudian mess ini makin ramai dengan bergabungnya Rahman (Manajer Percetakan). Rahman gabung di mess setelah istri dan anaknya Fadil kembali ke Makassar karena Fadil kerap sakit-sakitan selama di Manado.
Mess Kairagi merupakan tempat kami bercengkerama setelah lelah bekerja seharian di kantor atau setelah acara di luar kantor. Di ruang tengah yang paling luas itu ada tempat duduk sofa tiga buah. Yang panjang satu unit bisa diduduki tiga orang berbadan sedang dan dua buah sofa untuk dudukan satu orang. Satu meja kaca mendampingi sofa ini. Terdapat pula satu meja makan kecil bundar dilengkapi empat buah kursi.
Ruang tengah boleh disebut multifungsi. Fungsi lainnya adalah menjadi gudang penyimpanan barang milik perusahaan seperti sepeda motor, air conditioner (AC), springbad dan lain-lain. Menjelang hari Raya Lebaran dan Natal, dia juga menjadi tempat menyimpan aneka minuman siap saji seperti Coca Cola dan Fanta. Saking banyaknya minuman, kadang mess menjadi begitu pengap. Tetapi biasanya tidak berlangsung lama karena minuman itu langsung dibagi-bagikan kepada setiap karyawan beberapa hari menjelang Hari Raya.
Mess pun dilengkapi dengan dapur yang representatif, mesin cuci serta tempat jemuran portable. Dapur bagi saya amatlah penting karena alasan kesehatan saya harus masak sendiri, mengurangi kebiasaan makan makanan dari rumah makan atau restoran. Ya, dengan masak sendiri pun saya bisa berhemat. Maklumlah penugasan saya makin jauh dari keluarga. Biaya hidup di Manado pun ternyata selangit. Banyak item kebutuhan pokok jauh lebih mahal daripada di Kupang. Yang relatif murah di Manado adalah sayur, buah-buahan dan ikan.
Dapur di mess pun menjadi mainan saya setiap hari. Itulah ruang aktivitas harian saya selain di kantor. Untuk menanak nasi saya dan teman-teman penghuni mess gunakan rice cooker, pemasak nasi otomatis dengan sumber daya listrik. Konfor gas yang disediakan perusahaan dengan tabung gas elpiji ukuran 12 kg lazimnya kami pakai untuk masak air guna menyeduh teh atau kopi serta menggoreng lauk dan sayuran.
Penghuni mess yang paling banyak menggunakan dapur adalah saya. Belakangan dengan bergabungnya Rahman, dia juga kerap masak. Sesekali mas Ribut pun memasak. Paling sedikit menggunakan dapur mess adalah mas Dian. Dia paling banter masak air untuk kopi. Mas Dian termasuk peminum kopi yang setia. *
Di sini kucatat penggalan-penggalan kisahku selama berada di bumi Kawanua.
Kisah yang mungkin tidak penting amat.
Dion DB Putra
Baca Juga
Manado Saya Datang (1)
Gerimis Tipis di Sam Ratulangi
