![]() |
| Dion DB Putra (2011) |
Lalu sampailah saatnya pengumuman dari Om Herman tentang perubahan komposisi di jajaran redaksi Tribun Manado. Sejak bertemu Om Herman di kantor Persda Jakarta bulan Februari 2012 saya sudah diberitahu kalau mas Ribut akan menggantikan posisi Richard Nainggolan sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Manado. Richard akan dimutasi ke Bangka Belitung, menjabat Wakil Pemimpin Redaksi Harian Bangka Post. Di Bangka tak lama. Richard kembali ke Harian Tribun Batam, koran yang dia awaki pula sejak awal terbit.
Saat bertemu Om Herman di Jakarta, saya sempat membayangkan bakal menjadi editor di Tribun Manado. Eh ternyata saya diplot menjadi Manajer Produksi menggantikan posisi mas Ribut yang lebih dulu menghirup udara Manado sejak bulan November 2011.
Ya sudahlah, mau diberi pekerjaan apa saja saya siap saja asal masih di lingkungan redaksi yang menjadi keahlian saya. Aswin Donald Lumintang menjabat Wakil Koordinator Liputan (Wakorlip). Posisi Charles Komaling tetap sebagai Koordinator Liputan (Korlip).
Hari itu juga kami membahas job description (pembagian tugas) Korlip, Wakil Korlip, Manajer Produksi, Pemred. Wakil Korlip selain membantu Korlip juga bertugas sebagai penghubung dengan pihak eksternal. Saya memahami maksud Om Herman dan Mas Febby mengingat Aswin adalah local boy yang memiliki jejaring sangat bagus di Sulawesi Utara.
Selain itu kaderisasi pun bisa berjalan karena suatu waktu diharapkan anak-anak Kawanua-lah yang menjadi nahkoda Harian Tribun Manado ini. Job description tersebut ditandatangani Om Herman Darmo sendiri sebagai Direktur Kelompok (Dirkel) Koran Daerah Grup Kompas Gramedia (Regional Newspapers Group). "Jangan main-main, pembagian tugas ini ditandatangani bos besar," kataku berseloroh dengan teman-teman.
Sebelum meninggalkan Manado untuk kembali ke Jakarta, kepadaku Om Herman berpesan demikian. "Mas Dion bantulah mas Ribut dan teman-teman ya. Tribun Manado ini agak drop, semoga bisa segera membaik lagi." Saya jawab siap Om.
Saya akan berusaha memberikan yang terbaik. Saya juga mengucapkan terima kasih berlimpah kepada beliau karena diberi kesempatan belajar di Manado. Koran baru, suasana pun baru. Saya tak pernah membayangkan suatu saat akan bekerja di Kawanua.
Manado, Minahasa, Kawanua memang telah mengisi ruang imaji saya sejak bocah melalui buku pemberian ayah saya, Thomas Bata, seorang guru SD di Wolonio, kampung terpencil di pedalaman Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Manado pun hadir lewat teman kecilku di SMP Negeri 2 Ende dan saat kuliah. Kini saya benar-benar menginjakkan kaki di Minahasa dan berkarya di sini. Saya bertekad memberi yang terbaik. *
Baca juga
Manado Saya Datang (1)
Manado Saya Datang (2)
Gerimis Tipis di Sam Ratulangi
