![]() |
| Jakarta 18 Septermber 2019 |
Dua menit kemudian beliau mengirim pesan balasan lewat WA. Saya tersenyum membaca isinya. “Oh, Terima kasih banyak Om” jawabku. Hanya begitu. Mau menambahkan lagi, tapi saya kok seolah kehilangan kata-kata. Yah sudah, Om Herman pasti memahami, kataku membatin!
Beri surprise. Begitulah gaya khas Om Herman Darmo. Perhatiannya tak pernah surut kepada kami anak buahnya. Bukan semata soal materi, tapi sentuhan kasih kemanusiaan itu yang tak ternilai.
Bagi saya beliau itu tidak sekadar seorang pemimpin dalam garis hirarkis pekerjaan dan perusahaan yang kaku. Beliau adalah juga orang tua, guru dan pendidik yang membimbing dan mengayomi.
Beliau berulang kali “marah dan menghardik” untuk sesuatu yang keliru saya dan rekan lakukan dalam pekerjaan. Namun serentak pula memberikan solusi, petunjuk dan bimbingan.
Kamis 19 September 2019 petang itu saya baru memulai aktivitas editing di kantor Redaksi Harian Pagi Tribun Bali di kawasan Ketewel, Sukawati, tepian Gianyar Bali.
Sehari sebelumnya kami baru bersua di kantor Tribun di Palmerah Jakarta dalam forum sidang Ombudsman Tribun. Sempat foto-foto bersama. Saya bahkan minta tolong Kaka Yusran Pare ambil foto berdua saja dengan Om Herman Darmo.
Respek dan hormatku selalu untuk Om Herman Darmo. Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat 11 Juni 1954 ini adalah tokoh utama di balik sukses usaha koran-koran daerah dalam naungan Kompas Gramedia Grup sejak awal tahun 2000-an hinga sekarang.
![]() |
| Dari kiri: A Suroso, S Krisna Sumarga, saya. Hadi Prayogo |
Herman Darmo menjabat sebagai Direktur Kelompok Koran Daerah atau Tribun Network sejak tahun 2005. Om Herman mengawali kariernya di Kompas Gramedia Group sebagai Peneliti di Litbang Kompas pada tahun 1981.
Pada tahun 1989 bersama senior dan koleganya di Harian Kompas, Valens Goa Doy (almarhum), Om Herman merintis dan membesarkan Harian Surya di Surabaya. Sejak saat itu hampir seluruh hidupnya beliau dedikasikan untuk membesarlebarkan semua unit koran daerah.
Beliau mengasuh Tribun Network bersama duet serasi, sehati, seiring sejalan dan super kompak yaitu Mas Sentrijanto. Di mana ada Om Herman, pasti ada Mas Sentri. Sebelum kini menjadi Vice CEO GK Media, Sentrijanto lama menjabat Vice Group Director Tribun.
Sentrijanto memulai kariernya di Kompas Gramedia sebagai Auditor (1984). Setelah bergelut di bidang audit selama lebih dari 10 tahun, pria kelahiran Pangkal Pinang 13 Juni 1960 tersebut dipercaya menjabat sebagai Wakil Direktur Bidang Keuangan & Pembinaan di Kelompok Koran Daerah atau Tribun Network pada tahun 2007. Tahun 2009 menjadi Wakil Direktur Tribun Network sampai 2018. Dan sejak itu menjadi Vice CEO KG Media.
Om Herman Darmo itu kuat dan luar biasa dalam hal merawat kualitas produk. Om Herman paham produk semacam apa yang sesuai tuntutan pembaca. Beliau selalu mengikuti tren. Pintar membaca tanda zaman. Sementara Mas Sentrijanto piawai mengelola sisi bisnisnya.
Persda, Tribun Network patut mensyukuri anugerah indah melalui tangan dingin kedua tokoh ini. Bapak Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia kiranya tidak keliru memberikan kepercayaan kepada Om Herman dan Mas Sentri menakhodai Persda – Tribun Network.
![]() |
| Tim Ombudsman bersama pimpinan Tribun |
Mengawali pertemuan penting dengan candaan guna mencairkan suasana. Om Herman top banget menciptakan suasana nyaman bagi audiensnya dulu baru menyampaikan pokok-pokok pikirannya yang tentu saja padat berisi dan juga cukup sering rumit nan pelik.
Beliau pintar membaca tanda-tanda zaman itu bisa saja jelaskan sebagai berikut. Ketika internet dan HP mulai booming tahun 2000-an dan Kompas Grup mencanangkan Megaportal tahun 2007 demi menyongsong era digital, Tribun Network paling lekas dan tepat mengesekusi di lapangan. Tak butuh waktu lama berdiskusi untuk memulai.
Hanya tiga tahun setelah pencanangan Megaportal KG, Tribun meluncurkan Tribunnews.com (2010). Portal berita online memanfaatkan kekuatan seluruh jaringan koran daerah. Banyak yang memandang remeh ketika Tribun mulai serius mengelola unit online kala itu.
Setelah Tribunnews.com bergulir, semua unit koran daerah juga dikerahkan untuk mengembangkan onlinenya masing-masing. Tidak boleh tidak. Guna memastikan keseriusan unit bekerja, kinerja online dikunci melalui KPI (Key Perfomance Indicator).
Apa yang terjadi lima atau enam tahun kemudian sungguh nyata. Ketika distrupsi menyerang hampir semua lini kehidupan termasuk bisnis media yang paling keras merasakan dampak jeleknya, Tribun Network sukses melewati badai itu dengan lebih nyaman dan aman, Bahkan eksis dalam model bisnis media yang baru.
Tribun Network masuk daftar unit usaha KG yang paling siap menyongsong era baru. Bendera Tribun tetap berkibar meskipun hempasan angin perubahan tak kalah beringas menghempas hari demi hari.
Menempati ranking satu portal berita di Indonesia dan masuk 100 besar dunia (Alexa, Agstus 2019)) merupakan bukti pencapaian luar biasa itu. Usaha keras selalu mendapatkan hadiah setimpal.
Setidaknya sejak tahun 2014 hingga sekarang, Tribun Network sudah menangguk untung dari unit digital yang dikelola secara serius.
Kekurangan dan kelemahan tentu saja masih banyak. Namun, seluruh kekuatan jaringan ini tak henti berikhtiar memperbaiki diri sebagaimana yang selalu diingatkan si Pria Berjins Biru itu.
Apa saja upaya memperbaiki konten Tribun Network? Banyak. Satu di antaranya akan saya bagikan di sini. Tanggal 8 Mei 2019, Om Herman Darmo dan Mas Sentrijanto mengukuhkan Tim Ombudsman Tribun di kantor pusat Tribun, Jalan Palmerah Barat Jakarta.
Tim ini dipimpin Kaka Yusran Pare, guru dan seniorku yang sudah makan asam garam di bidang jurnalistik. Anggotanya Hadi Prayogo, Ahmad Suroso, Setya Krisna Sumarga dan saya, Dion DB Putra.
Satu di antara tugas utama tim Ombudsman adalah menelaah konten Tribun Network dan memberikan rekomendasi demi perbaikan dan peningkatan kualitasnya.
Sejak bulan Mei 2019, tim Ombudsman bekerja keras. Tim membuat laporan harian, mingguan dan bulanan kepada pimpinan serta pihak terkait.
Selama empat bulan belakangan, sudah ada secuil perubahan. Paling tidak kesadaran untuk menjaga mutu konten mulai tumbuh kendatipun masih banyak PR yang perlu diselesaikan segera.
Dalam bimbingan dan arahan Om Herman Darmo, Mas Sentrijanto serta kendali Mas Febby Mahendra Putra dan Bung Dahlan Dahi, kami akan terus melakukan pembenahan.
Kami menyadari usaha ke sana tidaklah sempurna, tapi ketidaksempurnaan itu bisa disempurnakan terus-menerus. Tabik. (*)
Banjar Kertagraha, Kesiman, Denpasar Timur, 20 September 2019


