![]() |
| Palmerah, 18 September 2019 |
Ikhtiar kecil melalui Tim Ombudsman sudah bergerak sejak 8 Mei 2019. Kurang lebih 20 telaahan dan rekomendasi yang kami berikan kepada pimpinan unit hingga pimpinan tertinggi.
Respons baik. Semua bergerak menuju Tribun nomor satu, tidak hanya pengunjung, tapi yang tak kalah penting kualitas kontennya.
Konten yang taat dan tertib berbahasa, taat hukum dan etika, akurasi fakta dan data, tidak berselera rendah dan ramah terhadap SARA.
Sidang Ombudsman Tribun bersama petinggi Tribun di Palmerah Jakarta, 17-18 September2019 menyusun agenda aksi konkret demi membenahi mutu konten sekaligus memperkokoh komitmen dan sikap kerja profesional.
Sidang hari pertama, Selasa 17 September 2019 mulai pukul 14.00 WIB di Ruang Jembrana Lantai II Kantor Tribun di Palmerah Barat. Hadir tim Ombudsman Yusran Pare (Ketua) dan anggota Hadi Prayogo, Setya Krisna Sumarga, Ahmad Surono dan saya. Pimpinan puncak hadir lengkap mulai dari Om Herman Damo, Mas Sentrijanto, Febby Mahendra Putra, Dahlan Dahi, C Budiarto dan Domu Ambarita.
Ombudsman membeberkan hasil telaahan dan rekomedasi. Ada 13 poin telaah dan 12 rekomendasi. Dipaparkan pula bukti-bukti kesalahan bahasa, data tidak akurat, berita selera rendah, SARA dan kesalahan ketik (typo).
Respons dari pimpinan sangat baik. Dinamika diskusi pun produktif. Sejumlah solusi tersaji apik.
Selasa malam kami bersua seluruh reporter dan editor Tribunnews. Semua hadir lengkap. Menurut Mas Febby Mahendra Putra inilah pertama kali kehadiran 100 persen. Ruang Jembrana penuh sesak. Hehehehe...
![]() |
| Sidang hari pertama, 17 September 2019 |
Hari kedua, Rabu 18 September 2019 sidang kami mulai pukul 09.00 Wita. Saat saya tiba di Ruang Jimbaran, Mas Krisna dan Mas Hadi Prayogo sudah ada di sana. Mas Krisna sedang menyeduh teh, sedangkan Mas Hadi menikmati makanan kecil. Tak lama berselang datang Mbah Roso (Ahmad Suroso) dan Kaka Yusran Pare.
Sidang hari kedua yang dipandu Mas Febby Mahendra Putra ternyata diikuti Vice CEO KG media, Mas Sentrijanto. Surprise bagi kami. Beliau ikut berdiskusi dan menyimak langkah aksi yang kami rumuskan sebagai rekomendasi. Om Herman Darmo juga sempat datang ke ruangan memantau kami berdiskusi.
Singkat cerita kami berhasil merumuskan sejumlah rekomendasi, agenda aksi bahkan silabus. Hasilnya kami serahkan kepada Mas Sentrijanto dan Om Herman Darmo. Sidang yang sangat produktif.
Setelah makan siang bersama, Mas Febby ajak kami (saya, Kaka Yusran, Mas Krisna dan Mbah Roso) ke Istana Kepresidenan. Kami beli oleh-oleh yang khas.
Pukul 14.40 WIB, saya dan Mbah Roso meninggalkan Stasiun Gambir dengan Bus Damri menuju Bandara Internasional Soekarto-Hatta. Saya terbang ke Denpasar dengan Batik, Mbah Roso ke Jogjakarta dengan Lion Air. Mas Febby, Kaka Yusran dan Mas Krisna kembali ke Palmerah. Rabu malam pukul 20.00, Mas Krisna kembali ke Jogja menumpang kereta api...
Terminal2 Soetta, 18 September 2019, jelang take off ke Bali

