TUTUP mata sejenak. Bayangkan apa yang bakal terjadi jika tidak
ada permainan yang dikelola dengan mengikuti regulasi yang menyata dalam
berbagai cabang olahraga. Aksi-aksi kekerasan akan menjadi pemandangan
rutin setiap hari, setiap saat. Perkelahian, tawuran, saling bunuh
menjadi bagian dari riwayat sejarah manusia.
Aksi kekerasan itu muncul dipicu oleh naluri melawan atau rivalitas yang
menyatu dengan daging manusia. Rivalitas itu, boleh dibilang, sudah
menjadi hakikat yang asali pada setiap manusia, siapa pun dia.
Perang antarkampung di Alor, di Sumba Barat, di Manggarai atau di
Adonara, tawuran antarsekolah di Maumere, baku ro'i antara dua cewek di
Kota Kupang memperebutkan seorang cowok, jika diamati sebetulnya
merupakan ekspresi dari rivalitas itu.
Nafsu mengalahkan itu diperagakan tanpa kendali, tanpa aturan dan karena itu menakutkan untuk ditonton. Homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya) mendapat pembenarannya dalam konteks seperti ini.
Judul : Bola Itu Telanjang
Penulis : Dion DB Putra
Editor : Ferry Jahang, Eugenius Moa dan Sipri Seko
Penerbit : Lamalera, 2010
Tebal : 875 Halaman
Sepak bola dalam sejarahnya juga bermula dari
ekspresi kekerasan seperti itu. Olahraga paling populer, paling gampang
dan paling diminati ini pada mulanya merupakan ekspresi kemenangan dan
kegembiraan dengan mengobok-obok lawan di lapangan luas. Kemenangan itu
dirayakan dengan antusiasme dan heroisme yang luar biasa. Bagian tubuh
lawan yang paling sering menjadi obyek permainan adalah kepala yang
disepak ke sana ditendang kemari sambil bersorak riang. Semua keriangan,
tempik sorak, hura-hura, pada galibnya mau menunjukkan keperkasaan dan
kejantanan atas lawan atau musuh. Sampai dengan beberapa dekade lalu,
ekspresi kemenangan atas musuh dengan mengarak kepala lawan sambil
sesekali 'mempermainkannya' masih dipraktekkan di beberapa tempat di
daerah ini.
Seiring kemajuan peradaban, beragam ekspresi
kekerasan tanpa kendali itu dimodifikasi dan diatur sedemikian rupa
sehingga berubah menjadi permainan yang terpola dengan seperangkat
aturan yang legal. Arenanya dibatasi dalam ukuran tertentu. Aktornya
dipilih dengan jumlah terbatas. Ada orang yang mengatur permainan itu
sehingga tidak lepas kendali dan berubah menjadi tawuran liar. Mereka
yang tertarik boleh menonton dari tempat yang disiapkan tanpa harus
mengganggu permainan itu sendiri.
Demikianlah, sepak bola kemudian mengalami
transformasi menjadi sebuah ajang permainan penuh pesona dan enak
ditonton. Sepak bola dengan segala aturannya yang sekarang kita
saksikan saban pekan dalam berbagai liga di dunia bermula di Inggris
tahun 1815. Barangkali karena itu Inggris kemudian disebut-sebut sebagai
negeri asal sepak bola. Dari tanah Inggris, sepak bola merambah dunia,
terutama dibawa oleh bangsa penjelajah dan penakluk dunia seperti
Spanyol, Portugis, Perancis, Inggris, Belanda.
Tentu saja, selain untuk memburu rempah-rempah
sambil menyiarkan agama, bangsa-bangsa penakluk itu juga membawa serta
piranti budaya ke tanah-tanah jajahan. Di wilayah jajahan bangsa-bangsa
penakluk ini, hampir semua perangkat budaya 'dikopi-paste' begitu saja
tanpa banyak melewati proses seleksi. Proses akulturasi tidak bisa
dihindari. Sepak bola merupakan salah satu budaya permainan impor yang
diperkenalkan bangsa-bangsa penakluk itu kepada warga di tanah jajahan.
Jika dalam fungsi penyiaran agama, moto yang diusung bangsa penakluk
berbunyi cuius regio, eius religio, maka dalam fungsi akulturasi
motonya bisa berbunyi cuius regio, eius cultura. Siapa punya wilayah,
dia punya budaya.
Dalam kaitan dengan sepak bola, di mana bangsa
penakluk ada, di situ sepak bola berkembang menjadi permainan rakyat.
Jangan heran, negara-negara Amerika Latin -- yang ditaklukkan Spanyol
dan Portugis -- umumnya adalah negara-negara dengan tradisi sepak bola
yang sangat kuat. Saking kuatnya, sepak bola bahkan menjadi 'sakramen
penghibur' buat begitu banyak orang. Jangan kaget Stadion Maracana di
Rio de Janeiro, Brazil yang punya kapasitas 96.000 tempat duduk
disesaki sekitar 210.000 penonton ketika Brazil menghadapi Uruguay pada
Piala Dunia tahun 1950. Pemain-pemain hebat dipuja dan dipuji bak santo.
Posternya digantung di dinding kamar dan rumah seperti gambar kudus.
Di belahan dunia lain pun sama juga. Miliaran
pasang mata di seluruh sudut bumi tetap melek di hadapan 'tabernakel'
bernama televisi saban Sabtu dan Minggu malam. Roh sepak bola demikian
kuat menyihir. Dimensinya tidak lagi sebatas lapangan tanah berukuran
100-110 meter panjang x 64-75 meter lebar, tetapi jauh menembus
stadion-stadion kenamaan semisal Old Trafford (markas Manchester
United), Santiago Bernabeu (Real Madrid), Delle Alpi, Turin (Juventus),
San Siro (AC Milan), Nou Camp (Barcelona), dan lain-lain.
Roh sepak bola juga sudah menembus hingga ke meja
judi di kampung-kampung di Manggarai, Rote, Alor; ke meja makan dalam
rupa gelas dan cangkir berbentuk bola, ke pabrik-pabrik konveksi, ke
dapur-dapur minuman kaleng, ke gaya potongan rambut. Bahkan juga mampu
masuk ke aquarium di tanah Jerman.
Singkat kata, roh sepak bola tidak lagi sebatas
teknik mengolah si kulit bundar di lapangan, tetapi juga telah memaksa
para pengusaha memutar otak menangkap peluang melipatgandakan modalnya.
Masuk akal, tuan rumah Piala Dunia selalu jadi rebutan. Dua negara pun
bisa jadi tuan rumah patungan.
Mengapa sepak bola menjadi begitu meluas
dimensinya? Untuk apa? Di samping sebagai 'sakramen penghibur', bola
kaki juga telah menjadi mesin uang. Berapa liter bir diproduksi di
Jerman dan Austria ketika dua negara satu bahasa ini jadi tuan rumah
Piala Dunia 2006? Berapa banyak euro masuk dari tarif hotel, restoran,
transportasi dan pernak-pernik lain yang diproduksi di dua negara ini?
Mengapa pemilik Arsenal mesti membangun stadion
baru yang lebih luas dan berdaya tampung lebih banyak di Emirates?
Karena uang! Asal tahu saja, Stadion Old Trafford, markas Manchester
United, itu mampu mendatangkan uang sekitar Rp 20 miliar untuk satu kali
laga. Urusan membeli satu pemain sudah bisa diperkirakan dari berapa
kali laga di Old Trafford. Itu baru dari karcis, belum termasuk
pernak-pernik yang juga mendulang uang.
Buku Bola Itu Telanjang secara tidak langsung
sebetulnya juga menunjukkan dimensi-dimensi dari sepak bola. Si penulis
buku yang telah diluncurkan, Kamis (9/9/2010) ini, Dion DB Putra, bukan
jagoan lapangan. Dia bukan pesepak bola yang piawai menggocek si kulit
bundar. Tetapi di sepak bola, Dion menunjukkan dirinya dalam perannya
sebagai mata yang mengamati, sebagai otak yang menganalisis dan sebagai
jari yang menari-nari di atas tuts komputer.
Selain (alm) Valens Doy yang punya reputasi di
tingkat nasional, di jagat NTT saat ini agaknya Dion belum ada tandingan
untuk urusan menulis sepak bola. Untuk urusan mengolah bola di
lapangan, NTT punya segudang nama. Dari Sinyo Aliandoe hingga Matias
Bisinglasi. Dari Cor Montero hingga Anton Kia. Tetapi dalam hal melihat
sisi jauh dari sepak bola, rasanya NTT hanya baru punya Dion.
Kumpulan catatan sepak bola dalam buku ini tidak
semata memperlihatkan minat yang besar dan analisis yang tajam melihat
sepak bola, tetapi sekaligus menunjukkan betapa penulisnya juga tampil
sebagai 'lalat liar' yang mampu mengusik ketenangan pencinta sepak bola
melihat sisi jauh dari bola itu. Beragam tema dan sudut pandang
tulisan, lebih jauh dari itu, juga memperlihatkan begitu kaya dan
luasnya dimensi bola dan betapa piawainya si penulis menghadirkan
dimensi itu ke ruang publik.
Membaca tulisan-tulisan dalam buku ini, pembaca
akan kembali ke konteks tempus saat tulisan ini dibuat, membuka kembali
memori dan merasakan ulang debar-debar dan aroma pertandingan dari
setiap tulisan. Karena itu siapa pun yang membaca tulisan-tulisan dalam
buku ini akan mendapat begitu beragam sisi lain, beragam dimensi, sudut
pandang di balik tirai si kulit bundar yang bernama bola itu. Rugi
besar jika tidak membacanya.
Bola Juga Menelanjangi
BUKU ini mengambil judul Bola Itu Telanjang.
Sebuah idiom yang sangat tepat menggambarkan sisi demi sisi, dimensi
demi dimensi dari bola itu. Karena telanjang, bola bisa dibidik dari
banyak sisi. Karena telanjang, maknanya bisa ditafsir dari berbagai segi
dan perspektif.
Tetapi rasanya hanya ada satu makna yang paling
'ultim' di balik bola. Apakah gerangan itu? Tak pelak lagi jawabannya
cuma ini: universalitas. Pergilah ke lapangan bola kaki, ke stadion
tempat dua klub sepak bola berlaga. Perhatikan wajah-wajah manusia di
situ. Tukang parkir sibuk mengatur kendaraan. Penjual makanan kecil
gesit menawarkan jajanan. Penjual rokok berpindah dari satu laki-laki ke
laki-laki lain. Gadis-gadis berwajah menawan menyorong tiket di pintu
masuk.
Di tribun, para bapak sabar melayani kuriositas
anaknya yang barusan belajar berjalan. Sambil mengunyah makanan kecil,
para ibu asyik 'membelanjakan mata' ke sana kemari mengamati orang yang
lalu lalang lalu menebar gosip di antara mereka. Kaum remaja berjalan
berbarengan dengan teman-temannya mencari kawan lain lagi untuk ikut
bergabung.
Dari mana semua mereka itu? Jangan tanya dari
mana. Ini salah pertanyaan. Pertanyaan yang benar, mengapa mereka bisa
menyatu di situ? Mereka menyatu di situ karena dan hanya karena bola.
Bola mempersatukan mereka. Bola mengumpulkan begitu banyak manusia. Dan,
rasanya tidak ada even sehebat dan sekolosal pertandingan bola kaki
karena mampu mendatangkan jumlah manusia sedemikian banyak.
Di stadion atau di lapangan bola kaki tidak
dikenal suku, umur, golongan, laki, perempuan, tua, muda. Tidak ada
tuan, tidak ada hamba. Tidak ada atasan, tidak ada bawahan. Tidak ada
pejabat, tidak ada staf. Bola menembus dan mengatasi semua kategori itu
dan mendudukkan semua elemen masyarakat pada tempat yang sama :
manusia. Bahasa manusia di lapangan juga sama: bahasa cinta. Bahasa
cinta itu terekspresi secara sama di stadion. Berjingkrak-jingkrak jika
ada gol yang tercipta. Tempik sorak diiringi tepuk tangan membahana jika
ada pemain yang mampu memperdayai dan mengecoh lawan. Menggerutu dan
sama-sama mengejek pemain yang salah over bola atau menendang bola tidak
tepat sasaran.
Tanpa halangan -- lebih sering juga tanpa sadar
-- orang bisa mengekspresikan reaksi spontannya di lapangan dengan cara
apa saja. Berteriak sekuat-kuatnya, bertepuk tangan sepuas-puasnya.
Menggoyang pinggul sejadi-jadinya. Tertawa selepas-lepasnya. Segala
kepenatan dan kelelahan sirna di lapangan bola kaki. Di lapangan bola
kaki, manusia tidak cuma menemukan dirinya sebagai homo ludens (manusia
yang suka bermain), tetapi sekaligus juga sebagai homo ridens (manusia
yang suka tertawa).
Di balik semua itu tergambar dan terbaca dengan
jelas perilaku, sifat, pola pikir, pola tindak, dan watak siapa saja di
lapangan. Gambaran seperti itu jarang kita temukan di arena lain.
Di lapangan bola kaki, universalitas menjadi
sangat nyata. Setelah sikut menyikut merebut bola, dua pemain menyorong
tangan dan saling meminta maaf. Seusai pertandingan, kostum akan
berpindah ke pemain lawan dan sebaliknya kostum lawan diambil dan jadi
koleksi. Keakraban pemain dan penonton juga kasat mata. Tanda tangan
pemain adalah pengejawantahan paling kuat dari keakraban itu. Siapa saja
boleh meminta tanda tangan pemain idolanya. Jarak antarsesama manusia
nyaris tidak ada.
Kondisinya persis terbalik dengan keadaan di
kantor-kantor, baik pemerintah maupun swasta. Bawahan yang ingin
mendapat tanda tangan atasan, mesti melapor dan menunggu sang bos
meluangkan waktu. Sebaliknya sang bos bisa sesuka hatinya memasang dada
dan menarik garis batas tegas dengan bawahannya. Jarak kemanusiaan pun
terentang lebar dan dibatasi tembok pemisah yang kokoh.
Tetapi di lapangan bola kaki semua jadi
telanjang. Ketelanjangan itu terbaca dengan amat baik di dalam buku Bola
Itu Telanjang. Dari perilaku pejabat hingga tukang ojek. Dari
ugal-ugalan anak jalanan hingga kegenitan gadis yang masih bau kencur.
Dari bocah-bocah yang kuat ingin tahunya hingga kakek-nenek yang haus
hiburan.
Ketenjangan bola berhasil diangkat dan ditunjuk
dengan amat baik oleh Dion DB Putra, si penulis buku, dengan
memperlihatkan aneka sisi dari bola kaki. Di lapangan bola kaki,
misalnya, kita belajar bahwa sukses besar adalah hasil sebuah kerja
sama tim. Banyak pemain berpredikat bintang, tetapi di pertandingan bola
kaki tidak ada pemain tunggal. Tidak ada pemain bintang yang bercahaya
sendiri tanpa kilatan cahaya dari pemain lain. Karena itu, di lapangan
bola kaki betapa nisbinya predikat pemain bintang.
Juventus (Italia) yang membunuh Ajax (Belanda) di
rumahnya sendiri pada laga semifinal Liga Champions 1997, Kamis 10
April 1997, misalnya, tampil tanpa bintang andalannya, Alesandro Del
Piero. Juventus menggilas Ajax karena sukses mengatur irama pertandingan
dengan menerapkan disiplin ketat dan penetrasi tepat waktu ke jantung
pertahanan Ajax.
Duel wakil Italia dan Belanda ini juga
memperlihatkan sisi lain lagi dari sepak bola. Yakni bahwa bola kaki
sangat kuat membangkitkan nasionalisme setiap bangsa membela bangsanya.
Perdana Menteri Belanda (ketika itu), Wim Kok, hadir di Stadion Arena
untuk menyuntik semangat kesebelasan Ajax dalam pertandingan itu
(halaman 105 - 108).
Bola juga menelanjangi sifat lain lagi dari
manusia, yakni suka merasa besar dan sering lupa diri. Euro 2004
menelanjangi David Beckham dari Inggris dan Luis Figo dari Portugal
ketika kedua negara ini tampil di perempat final. Gagal mengeksekusi
penalti, Beckham membela diri dan dengan seenaknya berkata, "Ada sesuatu
yang salah di bawah sepatu kami. Ketika saya meletakkan kaki saya, bola
terangkat.... Tetapi saya masih bangga sebagai kapten tim ini."
Sedangkan Luis Figo ngambek ketika ditarik keluar
lapangan pada menit ke-75 dan digantikan Helder Postiga. Pelatih
Portugal, Luis Felipe Scolari, menarik Figo karena bermain jelek.
Sejumlah peluang emas gagal dimanfaatkannya untuk menjebol gawang
Inggris yang dijaga David James. Delapan menit kemudian Postiga
membuktikan bahwa dia pantas menggantikan Figo. Tandukannya merobek
gawang Inggris. Buntutnya, di ruang ganti Figo tak menyalami Postiga.
Sikap Beckham dan Figo adalah representasi sikap
kebanyakan orang besar atau penting, yakni sulit mengaku salah dan
merasa diri lebih penting. Tipe orang seperti ini cenderung pongah
dalam mengambil keputusan dan menentukan sikap. Ketika duel Inggris
versus Portugal itu harus diselesaikan melalui adu penalti, pelatih
Inggris, Sven Goran Eriksson, mengumpulkan semua pemainnya. Dia tanya
satu persatu tentang kesiapan mereka. Dengan pongah dan gegabah, Beckham
angkat bicara.
"Aku akan mengambil tendangan pertama," kata
Beckham. Tak dinyana, tendangannya melambung jauh dari mistar gawang
menuju istrinya, Victoria, yang duduk di kursi VIP dengan pakaian tembus
pandang. Apa lacur! Justru kepongahan dan keputusan gegabah ini
meruntuhkan moral Inggris (halaman 611-616).
Bola itu telanjang, menurut si penulisnya, karena
bola menyentuh sesuatu yang sangat mahal : spontanitas, kejujuran,
tanpa basa-basi. Orang berhenti atau menunda aktivitas lain dan bergegas
ke lapangan bola kaki karena spontanitas. Tidak ada yang memaksa.
Mengolah bola di lapangan juga mensyaratkan kejujuran (halaman
495-498).
Di lapangan bola kaki tidak ada tempat untuk tipu
menipu. Semua berjalan sesuai aturannya. Kalau dalam demokrasi rule of
the game lebih banyak cuma pro forma, maka di lapangan bola kaki rule of
the game itu diterapkan relatif jauh lebih baik dan konsisten. Kalau
dalam demokrasi, kalah atau menang dalam pemilu begitu dilebih-lebihkan
seolah-olah menjadi tujuan utama demokrasi, maka di lapangan bola kaki,
kalah-menang cuma akibat dari sebuah pertandingan, bukan tujuan utama
pertandingan itu sendiri.
Bola tidak cuma telanjang. Lebih jauh dari itu,
bola juga menelanjangi. Dia menelanjangi sisi lain dari manusia. Dia
menelanjangi para 'aktor' di lapangan, para penonton di stadion sampai
kepada para pemirsa di rumah-rumah warga yang ribuan kilometer dari
arena pertandingan. Bola menelanjangi watak, tabiat, pola pikir, pola
tindak orang besar dan penting yang duduk manis di tribun kehormatan
hingga tukang parkir di lapangan parkir.
Jika bola tidak menelanjangi, maka arena
pertandingan tak bakal seru dan ramai oleh gelak tawa, tempik sorak dan
pekikan para penonton. Jika bola tak menelanjangi, maka tribun cuma akan
dipenuhi oleh mereka yang dimobilisasi, bukan mereka yang datang secara
spontan.
Yang telanjang, memang selalu menggoda hasrat.
Ingin mengetahui dan merasakan seperti apa bola itu telanjang? Buka
halaman demi halaman, simak isinya, maka Anda akan rasakan sensasi yang
luar biasa dari buku Bola Itu Telanjang. *


