Sabtu, 16 Mei 2015

Hidup Bahagia Jakob Oetama

Jakob Oetama
Oleh Dahlan Iskan


KALAU hidup dimulai dari umur 40 tahun (life begins at fourty), Pak Jakob Utama, pemilik grup Kompas-Gramedia itu, baru mulai hidup lagi untuk yang kedua kalinya pada 27 September minggu lalu.

Jarang ada berita wartawan merayakan ulang tahun ke-80 seperti Pak Jakob Oetama. Yang sering adalah berita wartawan mati muda: sakit lever karena bekerja tidak teratur, terkena kanker karena tiap malam stres terkena deadline, terbunuh di medan pergolakan atau terlibat kecelakaan lalu lintas.

Rasanya kini tinggal tiga wartawan yang berusia di atas 80 tahun: Jakob Oetama dan Herawati Diah. Memang, ada tokoh seperti Harjoko Trisnadi yang juga lebih dari 80 tahun dan sangat sehat. Tapi, dia lebih dikenal sebagai pengusaha pers daripada wartawan, meski awalnya juga wartawan.

Jakob Oetama Belajar dari Ojong

TAWARAN itu tak ditanggapi serius oleh Jakob karena fokus menyelesaikan kuliah di Fakultas Sosial dan Politik UGM. Pada April 1961, Ojong mengajak Jakob membuat majalah baru bernama Intisari, isinya sari pati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Majalah bulanan Intisari terbit pertama kali Agustus 1963.

Untuk menjalani hidup sebagai wartawan, Jakob bergaul akrab dengan kalangan wartawan seperti Adinegoro, Parada Harahap, Kamis Pari, Mochtar Lubis, dan Rosihan Anwar. "Dalam soal-soal jurnalistik, Ojong itu guru saya, selain Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar," katanya.

Di mata Jakob, Ojong kuat di bidang humaniora dan kuat dalam prinsip nilai-nilai kemajuan. Mochtar Lubis sosok yang berani dan memegang teguh prinsip, sedang Rosihan Anwar kuat dalam persoalan humaniora.
Majalah Intisari kemudian diperkuat oleh teman-teman Jakob-Ojong dari Yogyakarta seperti Swantoro dan J Adisubrata. Menyusul kemudian Indra Gunawan dan Kurnia Munaba.

Jakob Oetama Tak Mau Koran Jadi Corong Partai

Jakob Oetama di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (27/9/2011).
KONDISI politik di era 1965 ikut melatabelakangi lahirnya Harian Kompas yang dikomandani duet Jakob Oetama dan Petrus Kanisius (PK) Ojong. Saat itu koran-koran nonkomunis bertumbangan akibat diberedel pemerintah.

Suatu hari di bulan April 1965, Menteri/Panglima TNI AD, Letjen Ahmad Yani menelepon koleganya di kabinet, Menteri Perkebunan Frans Seda. Yani minta agar Frans Seda, saat itu menjadi Ketua Partai Katolik, mendirikan koran .

Jenderal bintang tiga yang kemudian menjadi Pahlawan Revolusi tersebut beralasan, hampir semua partai politik memiliki media massa sebagai corong partai. Sebut saja Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mempunyai Bintang Timur dan Warta Bhakti.

Seda kemudian menemui Ignatius Joseph (IJ) Kasimo, Ketua Umum Partai Katolik, PK Ojong, dan Jakob Oetomo, untuk membahas ide Ahmad Yani. "Ini pasti kemauan Tuhan," kenang Frans Seda.

Bimbang Jadi Guru atau Wartawan

Jakob Oetama (kanan) di ruang redaksi Kompas tempo doeloe. Mesin ketik senjata utama {kompas.com}
TAK pernah terlintas sebelumnya Jakob Oetama bakal menjadi wartawan dan mengelola media massa yang kemudian menjadi terkemuka. Bermula dari keputusan untuk keluar dari seminari (sekolah calon pastor) tinggi di Kota Baru, Yogyakarta, yang baru tiga bulan dijalani.

"Saya tidak tahu sebabnya. Sudah lupa. Keluar begitu saja," ujar founding father Kompas Gramedia tersebut. Yang dilakukan selanjutnya yaitu mencari kerja. Jadi apa? "Jadi guru, cita-cita yang pernah muncul bersamaan dengan cita-cita menjadi pastor," katanya.

Manusia dan Kemanusiaan Ala Jakob Oetama

Buku Syukur Tiada Akhir Jakob Oetama {Tribunnews.Com}
DALAM berbagai kesempatan Jakob Oetama menyampaikan prinsip-prinsip utama gaya bermedia Kompas. Intinya adalah manusia dan kemanusiaan, cobaan dan permasalahannya, aspirasi dan hasratnya, keagungan dan kekerdilannya. "Manusia dan kemanusiaan senantiasa diusahakan menjadi nafas pemberitaan dan komentar."

Konsep Indonesia mini yang secara eksplisit digagas terutama untuk Kompas, dikembangkan bagi unit-unit usaha lainnya dalam Kompas Gramedia. Dalam perjalanannya, Kompas tetap eksis meski mengalami berbagai terpaan, pembatasan, dan kendala, termasuk pemberedelan 21 Januari-5 Februari 1978.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...