TAWARAN
itu tak ditanggapi serius oleh Jakob karena fokus menyelesaikan kuliah
di Fakultas Sosial dan Politik UGM. Pada April 1961, Ojong mengajak
Jakob membuat majalah baru bernama Intisari, isinya sari pati
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Majalah bulanan
Intisari terbit pertama kali Agustus 1963.
Untuk menjalani hidup sebagai
wartawan, Jakob bergaul akrab dengan kalangan wartawan seperti
Adinegoro, Parada Harahap, Kamis Pari, Mochtar Lubis, dan Rosihan Anwar.
"Dalam soal-soal jurnalistik, Ojong itu guru saya, selain Mochtar Lubis
dan Rosihan Anwar," katanya.
Di mata Jakob, Ojong kuat di
bidang humaniora dan kuat dalam prinsip nilai-nilai kemajuan. Mochtar
Lubis sosok yang berani dan memegang teguh prinsip, sedang Rosihan Anwar
kuat dalam persoalan humaniora.
Majalah
Intisari kemudian diperkuat oleh teman-teman Jakob-Ojong dari
Yogyakarta seperti Swantoro dan J Adisubrata. Menyusul kemudian Indra
Gunawan dan Kurnia Munaba.
Begitu juga Irawati, seorang sarjana hukum alumnus Universitas Diponegoro, Semarang, yang rela beberapa bulan tak dibayar asal boleh bergabung di Intisari. Orang-orang tersebut yang kemudian menjadi pemimpin di unit-unit usaha baru Kompas Gramedia.
Sambil
terus memberi perhatian kepada pengembangan Intisari, dilandasi
cita-cita mengembangkan kemajemukan Indonesia, Jakob dan Ojong aktif
dalam gerakan asimilasi Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa
(Bakom PKB). Lembaga itu merupakan sebuah gerakan yang mengajak
keturunan Tionghoa untuk benar-benar solider dan menyatu dengan rakyat
Indonesia di segala bidang.
Bakom
PKB didirikan 30 orang pri dan nonpri, pada 1977, di antaranya Hasjim
Ning, K Sindhunata, Abjan Soleiman, H Syafiudin, Junus Jahja, Ridwan
Saidi, Lo SH Ginting, dan Njoo Han Siang. Nama Jakob dan PK Ojong tidak
tercantum sebagai pendiri Bakom PKB, namun pemikiran mereka mengenai
asimilasi menjadi sadar pijakan pendirian gerakan tersebut. (Laporan
Wartawan Tribunnews.com Febby Mahendra Putra)
