![]() |
Buku Syukur Tiada Akhir Jakob Oetama {Tribunnews.Com}
|
DALAM berbagai
kesempatan Jakob Oetama menyampaikan prinsip-prinsip utama gaya
bermedia Kompas. Intinya adalah manusia dan kemanusiaan, cobaan dan
permasalahannya, aspirasi dan hasratnya, keagungan dan kekerdilannya.
"Manusia dan kemanusiaan senantiasa diusahakan menjadi nafas pemberitaan
dan komentar."
Konsep Indonesia mini yang
secara eksplisit digagas terutama untuk Kompas, dikembangkan bagi
unit-unit usaha lainnya dalam Kompas Gramedia. Dalam perjalanannya,
Kompas tetap eksis meski mengalami berbagai terpaan, pembatasan, dan
kendala, termasuk pemberedelan 21 Januari-5 Februari 1978.
Menurut
Jakob, media digital memang telah menjadi keniscayaan. Oleh karena itu
ia selalu menekankan kepada para wartawan dan karyawan bahwa dunia
media adalah dunia digital, tidak ada lagi periodisasi. Kompas harus
masuk, tak terkecuali melalui platform elektronik, karena menjadi bisa
menyampaikan pesan lebih cepat, lebih lengkap, dan lebih luas.
Namun
bagi Jakob, Kompas harus tetap berpegang pada semangat awal para
pendiri sehingga ia sering mengingatkan pesan yang pernah disampaikan PK
Ojong.
"Surat
kabar haruslah lebih besar daripada individu-individu serta gabungan
individu-individu di dalamnya. Surat kabar haruslah lebih arif daripada
individu wartawan dan karyawannya. Ia harus lebih adil, lebih nalar,
lebih jujur, lebih peka, lebih setia kawan, terutama kepada mereka yang
menderita," begitu pesan sang kolega yang saat ini sudah meninggal dunia
itu. (Tribunnews.com - Kamis, 29 September 2011 09:45 WIB. Laporan
Wartawan Tribunnews.com Febby Mahendra Putra).
