KUAT kesan masyarakat menganggap biasa saja ketika berhadapan dengan kenyataan fasilitas publik tidak terurus atau tidak digunakan sebagaimana mestinya. Fasilitas publik mubazir terjadi hampir di setiap kabupaten dan kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Harian ini sudah berulangkali memberitakan fakta semacam itu. Fasilitas publik yang dibangun dengan dana miliaran rupiah mubazir. Sebut misalnya pembangunan rumah sakit umum di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat yang tidak tuntas. Demikian pula dengan pembangunan kantor bupati di Lewoleba, Kabupaten Lembata.
Di Ende pelabuhan fery di kawasan pantai Nangakeo sudah lama sepi dari aktivitas. Kapal tidak berani berlabuh di dermaga tersebut yang secara teknis dianggap kurang nyaman. Dari sisi konstruksi, dermaga di pantai selatan Pulau Flores itu paling rawan di NTT. Ketika kapal hendak bersandar akan terpukul ombak dan oleng. Kapal tidak nyaman membuang sauh, menurunkan dan menaikkan penumpang dan barang.
Senin, 25 April 2016
Selasa, 12 April 2016
Koro Bhera Butuh Sentuhan

NAMA
desa ini sempat menjadi perhatian masyarakat Kabupaten Sikka dan NTT.
Desa ini berada di wilayah pantai Selatan Flores atau oleh masyarakat
setempat menyebutnya, Panser Sikka dan masuk dalam wilayah Kecamatan
Mego. Desa Koro Bhera. Begitulah namanya.
Ada
tiga dusun di Desa Koro Bhera yaitu Dusun Magetake, Uba Moru dan Wara.
Kehidupan warga desa masih tradisional dan sederhana dan aktivitas warga
ke sawah dan laut.
Masyarakat
di desa ini yang memilih menjadi petani karena memiliki kebun dan lahan
pertanian. Namun, hampir setiap tahun petani di desa ini tidak maksimal
dalam mendapat hasil panen karena terserang hama keong.
Urung Pigang
Namun Urung Pigang yang berada
di Bukit Wailiti dan menghadap ke pantai utara (Pantura) Flores itu
adalah salah satu dusun yang terkenal tandus dan gersang. Siangnya
gersang dan malam penuh kesunyian serta jauh dari kebisingan.
Urung Pigang merupakan daerah
perkampungan dimana warga hidup dalam suasana kekeluargaan. Namun kini,
kehidupan kota yang modern mulai merambah wilayah ini seiring masuknya
wilayah ini ke dalam wilayah Kecamatan Alok (Kota Maumere).
Maronggela yang Jauh
SATU-PERSATU
lubang yang menghiasi jalanan terus dilewati. Demikian pula kilometer
demi kilometer dilalui sejak pagi. Kampung demi kampung penduduk terus
dijumpai sepanjang perjalanan. Kurang lebih sudah 60 kilometer
perjalanan.
"Kuda besi" yang saya tumpangi
juga sudah dua kali diisi bahan bakar, namun tujuan perjalanan ini pun
belum tercapai. Tiba-tiba kuda besi tadi terasa oleng dan hampir keluar
dari bahu jalan. Ternyata bannya gembos lagi.
Kendaraan ini sepertinya sudah
menyerah karena medan yang cukup berat dan kurang bersahabat ini.
Terpaksa saya harus turun dan mendorong kendaraan untuk mencari bengkel
yang paling dekat.
Membuka Tahun Adat dengan Paro
TAHUN
Adat mungkin sesuatu yang cukup asing bagi kebanyakan orang. Tetapi
bila kita berada di Kampung Wewoloe, Kelurahan Towak, Kecamatan Aesesa,
Kabupaten Nagekeo, kita bisa mengerti dan melihat perayaan tahun adat
yang dikenal dengan nama paro.
Paro, sesuai kebiasaan adat Suku
Mbare, dirayakan pada bulan Februari setiap tahunnya. Paro adalah
ritual warga Suku Mbare untuk membuka tahun adat baru.
"Saat
paro berlangsung, secara bersama-sama kita menentukan tanggal-tanggal
untuk perayaan acara adat. Termasuk misalnya tinju adat atau perayaan
lainnya, yakni syukuran panen padi yang dinamakan ghan woja wru," kata
Yakobus Koru, salah satu tokoh masyarakat Suku Mbare, yang ditemui,
Kamis (4/11/2010).
Menurut Yakobus, warga Suku
Mbare sudah mengetahui acara adat apa saja yang harus dirayakan setiap
bulannya dalam satu tahun adat yang sedang berjalan. Tetapi kapan
tanggal acaranya berlangsung, itulah yang harus disepakati bersama-sama
saat paro berlangsung.
Langganan:
Postingan (Atom)
In Memoriam Valentino Luis
Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...

