TAHUN
Adat mungkin sesuatu yang cukup asing bagi kebanyakan orang. Tetapi
bila kita berada di Kampung Wewoloe, Kelurahan Towak, Kecamatan Aesesa,
Kabupaten Nagekeo, kita bisa mengerti dan melihat perayaan tahun adat
yang dikenal dengan nama paro.
Paro, sesuai kebiasaan adat Suku
Mbare, dirayakan pada bulan Februari setiap tahunnya. Paro adalah
ritual warga Suku Mbare untuk membuka tahun adat baru.
"Saat
paro berlangsung, secara bersama-sama kita menentukan tanggal-tanggal
untuk perayaan acara adat. Termasuk misalnya tinju adat atau perayaan
lainnya, yakni syukuran panen padi yang dinamakan ghan woja wru," kata
Yakobus Koru, salah satu tokoh masyarakat Suku Mbare, yang ditemui,
Kamis (4/11/2010).
Menurut Yakobus, warga Suku
Mbare sudah mengetahui acara adat apa saja yang harus dirayakan setiap
bulannya dalam satu tahun adat yang sedang berjalan. Tetapi kapan
tanggal acaranya berlangsung, itulah yang harus disepakati bersama-sama
saat paro berlangsung.
Paro pun
bukan sekadar menentukan tanggal-tanggal perayaan adat, tetapi salah
satu hal yang paling sakral dalam acara paro adalah menanam padi dan
jewawut di kebun adat yang sudah diwariskan.
"Acara paro itu sendiri juga
dimaknai sebagai penghormatan terhadap para leluhur. Sehingga setelah
melakukan penanaman, kita bisa meminta agar hujan turun, serta meminta
agar tanaman kita terhindar dari hewan liar yang merusak tanaman," kata
bapak Yakobus yang juga pensiunan seorang guru itu.
Setelah ritual paro dirayakan,
warga Mbare tidak boleh melakukan kegiatan pembangunan. "Misalnya
membuat rumah adat atau memperbaiki rumah, itu tidak boleh. Selain itu,
membawa kayu mentah ke kampung pun itu dilarang," kata Yakobus.
Larangan tersebut berlangsung
sampai dilakukannya acara ghan woja wru, yakni acara yang bertujuan agar
padi yang telah dipanen diperbolehkan untuk dikonsumsi oleh warga.
Sekaligus acara syukuran atas panenan padi tersebut. Panen biasanya
sudah bisa dilakukan pada bulan Mei setiap tahunnya. Artinya, larangan
tersebut harus dijalankan sejak bulan Februari sampai bulan Mei. Kalau
tidak ditaati, maka yang bersangkutan bisa mendapat musibah.
Dijelaskannya, untuk mengetahui
paro secara detail, harus mengikutinya secara langsung. Karena setiap
tahapan acara paro tidak boleh dibicarakan sebelum hari perayaannya,
yakni setiap bulan Februari.
Di tempat yang sama, Ibu
Rosalina Owa menuturkan, saat pelaksanaan paro setiap warga harus
membawa beras, ayam, moke, dan sayur-sayuran. "Beras dan sayur-sayuran
untuk dimasak secara beramai-ramai di tempat paro, ayam juga untuk
disembelih dan makan bersama-sama. Begitu pun moke untuk diminum," kata
Ibu Rosalina.
Dia menjelaskan, paro biasanya
dilakukan di lahan yang sama dan letaknya di atas bukit. Di tempat yang
sama itulah ritual paro dirayakan setiap kali bulan Februari.
"Kita
lakukan acara seremoninya dulu baru menanam padi dan jewawut secara
bersama-sama. Tidak ditentukan setiap warga harus ditanam di bagian
mana. Semuanya secara bersama-sama menanam di semua bagian lahan yang
ada," kata Ibu Rosalina. (Servatinus Mammilianus)
Pos Kupang, 13 November 2010 hal 5
