Senin, 31 Oktober 2016

Kabupaten Kupang Akan Jadi Model Program PAUD Holistik

Dubes Matheson di Redaksi Pos Kupang
KUPANG, PK - Program Pendidikan Anak Usia Dini Holistik dan Integratif (PAUD HI) yang dilaksanakan Pemerintah Selandia Baru di wilayah Kabupaten Kupang akan menjadi model untuk pengembangan PAUD HI di daerah-daerah lain di NTT bahkan di seluruh Indonesia.

Hal ini disampaikan Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Trevor Matheson, ketika mengunjungi Redaksi Harian Pagi Pos Kupang, Jl. Kenari 1, Naikoten 1 Kupang, Rabu (26/10/2016).

Sebelumnya, Selasa (25/10/2016), Matheson meluncurkan program PAUD HI di Oelamasi, ibukota Kabupaten Kupang. Dalam program ini, Pemerintah Selandia Baru melalui UNICEF Indonesia akan mendirikan 100 lembaga PAUD di Kabupaten Kupang.


Program PAUD akan mengasuh anak dalam upaya menggali seluruh potensi mereka dengan menggunakan pendekatan belajar berbasis bermain. Program tersebut juga akan memenuhi berbagai layanan terkait, termasuk pendidikan orangtua tentang pengasuhan anak yang baik, layanan kesehatan, layanan air dan sanitasi, serta layanan perlindungan anak.

Menurut Matheson, dalam program ini Pemerintah Selandia Baru menyiapkan dana dan tenaga terlatih. Namun, sebelum memulai program ini pihaknya perlu mengetahui kondisi terkini pendidikan anak usia dini di Kabupaten Kupang. Dengan demikian, pihaknya bisa mengetahui titik awal pelaksanaan program, yang pada akhirnya bisa meningkatkan mutu pendidikan di sana.

Dia mengatakan, secara nasional program PAUD HI sudah diluncurkan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Jakarta pada bulan Juli 2016. Kabupaten Kupang dipilih sebagai proyek percontohan (pilot project), yang akan berjalan selama empat tahun ke depan.

"Kalau selama empat tahun, program PAUD HI di Kabupaten Kupang dinilai berhasil, maka ini akan menjadi model untuk pengembangan program yang sama di daerah-daerah lainnya di NTT, bahkan di seluruh Indonesia," ujar Matheson.

Di Redaksi Pos Kupang, Matheson dan rombongan diterima dengan hangat oleh Pemimpin Redaksi, Dion DB Putra, dan jajarannya. Sebagai kenang-kenangan, Matheson memberikan cenderamata kepada Pemimpin Redaksi sekaligus mengajaknya berkunjung ke Selandia Baru.

Dia mengaku senang bisa datang ke NTT, bertemu orang-orang NTT yang selalu tersenyum. Dia pun tertarik melihat wilayah NTT yang terdiri dari ratusan pulau dan lautan dengan segala keunikannya.

Meski demikian, dia melihat potensi bencana, terutama gempa dan tsunami, di wilayah ini. Hal ini hampir sama dengan kondisi di Selandia Baru. Kondisi ini, menurut dia, menuntut adanya sistem peringatan sehingga warga bisa terhindar dari dampak bencana.

Dia menceritakan, Selandia Baru memiliki blue line (garis biru) yang dibuat sebagai tanda akan bahaya gempa dan tsunami. Blue line dibangun di jalan-jalan sepanjang pantai kota Wellington, ibukota Selandia Baru.

"Kalau bisa di sini juga dibuat tanda peringatan seperti itu. Kalau bukan blue line, mungkin bisa dipasang bendera untuk mengingatkan warga akan bahaya bencana tersebut," kata Matheson. (ati)

Sumber: Pos Kupang 27 Oktober 2016 hal 2

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...