![]() |
| Piet A Tallo |
KUPANG, PK--Empat koma empat juta
penduduk Nusa Tenggara Timur berkabung atas meninggalnya Piet Alexander
Tallo, S.H, Gubernur NTT periode 1998-2008, di Rumah Sakit Pusat
Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (25/4/2009) pukul
20.25 WIB.
Piet
Tallo yang meninggal dunai dalam usia 67 tahun, menderita penyakit asma
kronis hingga paru-parunya terganggu. Pada 22 September 2007, sebelum
mengakhiri masa jabatan kedua, Piet Tallo jatuh sakit hingga dirawat di
RS Dr. Soetomo Surabaya, setelah sebelumnya sempat dirawat di RS Tebet,
Jakarta.
Gubernur
NTT, Drs. Frans Lebu Raya yang sedang bertugas di Jakarta langsung
melayat Piet Tallo di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Saat dihubungi ke
telepon selulernya semalam, Lebu Raya mengatakan, pencanang program Tiga
Batu Tungku, itu disemayamkan di rumah duka Gatot Subroto. Dan, pagi
ini dibawa ke Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng untuk diterbangkan ke
Kupang, NTT menggunakan pesawat Mandala.
Diperkirakan
jenazah almarhum tiba di Kupang siang ini sekitar pukul 12.30 Wita.
Untuk pemakamanan akan dikoordinasikan dengan pihak keluarga soal
jadwalnya. Sedangkan tata upacaranya akan ditangani oleh pemerintah
karena beliau adalah mantan pejabat negara.
Atas
nama pribadi, pemerintah dan masyarakat NTT, Lebu Raya menyatakan duka
mendalam atas berpulangnya Gubernur NTT ke-7 itu. Menurut Lebu Raya,
hampir seluruh hidupnya, Piet Tallo mengabdikan diri untuk NTT.
"Pengabdiannya selama ini dan jasanya tetap dikenang. Kita doakan," kata
Lebu Raya.
Hal
penting lainnya, demikian Lebu Raya, keteladanan, kebapaan dan kerja
kerasnya tentu menjadi nilai yang harus diwarisi oleh masyarakat NTT.
Selama mendampingi almarhum lima tahun sebagai wakil gubernur, Lebu Raya
mengaku menimba banyak pengalaman. Almarhum selalu memberikan nasihat,
terutama soal kesejahteraan rakyat NTT.
"Sejak
awal mendampingi beliau, saya menyampaikan hormat. Hormat karena beliau
sebagai gubernur dan sebagai seorang bapak. Saya memetik banyak
pengalaman soal kepemimpinan untuk diteruskan demi kemajuan NTT. Itulah
kesan saya selama mendampingi beliau," kata Lebu Raya.
Menurut
Lebu Raya, almarhum selalu memperhatikan staf dan mengingatkan dalam
petuah-petuah. "Saya bertemu beliau di TTS semasa menjabat bupati di
sana, dan saya Ketua GMNI. Saya ingat betul petuahnya, "Nak Frans,
kalau mau jadi besar harus keluar dari dalam batu.' Bagi saya itu luar
biasa untuk sebuah perjuangan hidup. Saya tidak menduga beliau gubenur
dan saya mendampingi sebagai wakilnya," kata Lebu Raya.
Lebu
Raya mengatakan, banyak masyarakat NTT di Jakarta yang melayat.
"Banyak masyarakat NTT memadati rumah sakit ini untuk melihat dari dekat
jenazah beliau. Itu karena ketokohan dan keteladanan yang ditunjukkan
semasa hidup. Kita doakan semoga arwah beliau diterima di sisi Tuhan,"
ujarnya.
Lebu
Raya mengharapkan warga NTT, terutama masyarakat Kota Kupang
menghargai beliau dengan menjemput jenazah di Bandara El Tari, Kupang.
Selanjutnya partisipasi dalam keseluruhan proses hingga pemakaman perlu
ditunjukkan.
Dalam
suatu kunjungan ke Redaksi Pos Kupang tahun 2007, Piet Tallo sempat
menyampaikan kondisi kesehatannya, yaitu paru-parunya bermasalah
sehingga menyebabkan gangguan jantungnya.
Asma Kronis
Kepala
Dinas Kesehatan Propinsi NTT, dr. Stefanus Bria Seran, berdasarkan
informasi yang diterimanya dari dr. Frans Humalesy (dokter pribadi Piet
Tallo) di Jakarta, mengatakan, Piet Tallo meninggal karena menderita
penyakit asma kronis.
Menurut
Bria, Piet Tallo memasuki puncak masa kritis di ruang perawatan
sekitar pukul 20.00 WIB, Sabtu (25/4/2009, kemudian dipindahkan ke ruang
ICU. Sekitar pukul 20.23 WIB, Piet Tallo menghembuskan nafas
terakhir.
Piet
Tallo ke Jakarta pada 4 Maret 2008 untuk melakukan kontrol rutin di
RSPAD Gatot Subroto sesuai skedul yang dibuat tim dokter. Tentang
riwayat penyakitnya, Bria mengatakan, sakit sejak 24 Juli 2007. Sempat
dilarikan ke RSU WZ Johannes Kupang, lalu dirujuk ke RS Tebet Jakarta.
Selama hampir dua bulan dirawat, kondisinya membaik dan kembali ke
Kupang, 22 Agutus 2008.
Namun,
pada 22 September 2007, ia kembali menjalani perawatan di RS Dr.
Soetomo Surabaya selama empat bulan hingga 30 Januari 2008. Selama di
RS Dr. Soetomo, Piet Tallo dioperasi dan sebuah ventilator dipasang
melalui tenggorokannya sebagai alat bantu pernafasan.
Di
Kupang ia kembali menjalankan tugas sebagai Gubernur NTT, tetapi tidak
maksimal. Sampai dengan berakhirnya masa jabatan gubernur 16 Juli 2008,
ia berkantor di rumah jabatan Gubernur NTT.
Ketika
Frans Lebu Raya dilantik menjadi Gubernur NTT menggantikan Piet Tallo,
bersama keluarga ia pindah ke rumah pribadinya di Jalan
Amabi-Maulafa-Kupang. Alat bantu pernafasan itu tetap menancap di
lehernya. "Kamis (5/3/2009), beliau berangkat ke Jakarta untuk
menjalani pemeriksaan rutin di RS Gatot Soebroto," kata Bria.
Asisten
I Setda NTT, Drs. Yosep A. Mamulak, yang ditemui di rumah duka, di
Jalan Amabi- Maulafat Kupang, menjelaskan, jenazah Piet Tallo akan
diberangkatkan dari Jakarta ke Kupang, Minggu (26/4/2009) siang, dengan
pesawat Mandala. Jenazah tiba di Bandara El Tari sekitar pukul 12.30
Wita. Tentang tempat dan rencana pemakaman, Mamulak mengatakan
pemerintah masih melakukan koordinasi dengan pihak keluarga. "Sampai
dengan malam ini, jenazah Piet Tallo disemayamkan di RSPAD Gatot
Subroto.
Pantauan
Pos Kupang hingga pukul 23.50 di rumah duka Jalan Amabi, Kelurahan
Oebufu, tampak potret Piet Tallo terpampang di ruang tengah rumah duka.
Potret itu diletakkan di atas sebuah meja kecil. Para kerabat dan
kenalan terlihat sibuk, mempersiapkan ruangan itu. Rencananya di ruang
itu menjadi tempat semayam jenazah Piet Tallo.
Sejumlah
pejabat tampak hadir di rumah duka, antara lain Kadistamben Propinsi
NTT, Drs. Yohannes Bria, Karo Umum Setda NTT, Drs. Bruno Kupok, Kasubdin
PLS pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga NTT, Marthen Dira Tome.
Selain para pejabat, di sekitar rumah duka hingga badan jalan, banyak
masyarakat yang datang. Di sisi jalan itu, dipadati mobil dan motor.
Sementara
salah seorang putri Piet Tallo, Ina Tallo mengatakan, beliau ke Jakarta
4 Maret 2009 bersama Ny. Erni Tallo dan putri bungsunya, Vera Tallo
serta dr.Frans Humalesi untuk check up dan memeriksa penyakit asma dan
gangguan tenggorokan yang dideritanya sejak 24 Juli 2007 lalu, di
RSPAD Gatot Subroto.
Menurut
Ina, saat itu Piet Tallo dalam keadaan baik, namun setelah melakukan
check up di RSPAD Gatot Subroto, asma dan gangguan tenggorokan kembali
kambuh sehingga harus menjalani opname di ruang ICU RSPAD Gatot Subroto
hingga menghembuskan nafas terakhir, disaksikan Ny. Erni Tallo dan Vera
Tallo, anak bungsunya.
Pantauan
Pos Kupang, Sabtu (25/4/2009) pukul 22.30 Wita, sanak saudara dan
keluarga serta sahabat kenalan terus berdatangan di rumah duka di Jalan
Amabi, Kupang menyalami Ina Tallo, sebagai tanda turut berduka.
Diantara pengunjung hadir Asisten I Setda NTT, Yos Mamulak dan Kasubdin
PLS Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Propinsi NTT, Ir.Marthen
Luther Dira Tome.
Sambil
memegang foto ayahnya, Ina terus meneteskan air mata. Sesekali ia
menerima telepon yang datang dari berbagai daerah yang menanyakan
keberadaan almahrum dan ia menjawab, bahwa bapak meninggal di Jakarta
dan besok (hari ini) diterbangkan ke Kupang menggunakan pesawat Mandala
Air. Tampak semua keluarga dan semua yang datang ke rumah duka langsung
membersihkan dan membereskan ruangan bagian dalam dan luar. Puluhan
warga yang datang tampak berdiri bergerombolan di halaman rumah di
antara puluhan kendaraan roda dua dan empat. (gem/den/mas)
Riwayat sakit:
24 Juli 2007: Dirujuk
ke RS Tebet Jakarta karena menderita sakit asma kronis dan radang berat
pada saluran pernapasan. Sebelum dirujuk dia sempat dilarikan ke RSU WZ
Johannes Kupang.
22 Agustus 2007: Kembali ke Kupang dalam kondisi segar bugar
22 September 2007: Menjalani
perawatan di RS Dr. Soetomo Surabaya. Di sana lehernya dioperasi untuk
memasukkan ventilator sebagai alat bantu pernapasan melalui
tenggorokannya.
30 Januari 2008:
Kembali ke Kupang dengan selang bantu pernafasan tetap menancap di
leher. Sampai dengan berakhirnya masa jabatan sebagai gubernur NTT 16
Juli 2008, ia menjalankan tugas sebagai gubernur dari rumah jabatan.
16 Juli 2008:
Drs. Frans Lebu Raya dilantik menjadi gubernur NTT menggantikan
dirinya. Ia dan keluarganya pindah ke rumah pribadi di Jalan Amabi,
Maulafa, Kota Kupang. Selang bantu pernafasan tetap menancap di lehernya
sambil terus melakukan kontrol ke rumah sakit.
4 Maret 2009: Ke RSPAD Gatot Subroto Jakarta untuk melakukan kontrol rutin.
25 April 2009: Meninggal dunia di ICU RS Gatot Soebroto.
Pos Kupang edisi Minggu, 26 April 2009 halaman 1
