![]() |
| Piet A Tallo |
Piet
Tallo menjadi Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) 1983-1988. Selama lima
tahun memimpin TTS, rakyat setempat masih mencintainya sehingga melalui
DPRD setempat dipilih kembali menjadi Bupati TTS untuk periode
1988-1993. Ketika memimpin TTS 1983 - 1993, Piet Tallo menjadi sangat
populer tatkala ia mencetuskan Program Cinta Tanah Air.
Di
daerah yang terkenal sebagai penghasil kayu cendana di NTT itu,
kepopuleran Piet Tallo muncul ketika ia memberi makan lumpur kepada
rakyat yang malas bekerja dan tidak mau mengolah lahan untuk bercocok
tanam.
Ternyata
program ini tidak serta merta diterima oleh masyarakat. Piet Tallo
dikecam dan dihujat habis-habisan karena memberi makan lumpur kepada
rakyatnya. Namun, dengan tenang Piet Tallo menampik hujatan itu dengan
menyebutnya sebagai "lumpur kasih sayang kepada rakyat TTS".
Menteri
Dalam Negeri (Mendagri) ketika itu, Soepardjo Rustam (Alm) turun
langsung ke SoE, Ibukota Kabupaten TTS untuk mendengar langsung kisah
"Operasi Cinta Tanah Air" sampai membuat Piet Tallo harus memberi makan
lumpur kepada rakyatnya yang malas bekerja.
Akhirnya,
semua orang pun menyadari bahwa tindakan yang diambil Piet Tallo, itu
semata-mata untuk membangkit semangat rakyatnya untuk bekerja meski
terasa kejam dan sadis, karena tidak mencerminkan prinsip-prinsip dasar
kemanusiaan yang adil dan beradab.
Setelah
mengakhiri masa tugasnya di TTS, hampir dua tahun Piet Tallo tidak
menduduki jabatan dalam pemerintahan. Namun, pada 1995-1996, Piet Tallo
dipercayakan oleh Gubernur NTT (waktu itu), Herman Musakabe, menjadi
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) NTT.
Selepas
dari BKPMD, Piet Tallo ditunjuk menjadi Wakil Gubernur NTT menggantikan
SHM Lerrick sampai tahun 1998 mendampingi Herman Musakabe, yang saat
itu menjabat sebagai gubernur. Habis masa jabatan Herman Musakabe
sebagai Gubernur NTT, Piet Tallo maju menjadi calon Gubernur NTT bersama
Gaspar Parang Ehok dan Daniel Woda Palle. Namun, Piet Tallo, akhirnya
mendapat dukungan suara mayoritas di DPRD NTT menjadi Gubernur NTT
periode 1998-2003.
Posisi
Wakil Gubernur NTT saat itu dijabat oleh Johanis Pake Pani, mantan
Bupati Ende dua periode dan Kadis Pariwisata NTT. Posisi wakil gubernur
hanya ditunjuk oleh Mendagri berdasarkan usulan dari DPRD NTT. Ketika
babak berikutnya suksesi kepemimpinan NTT digelar pada 2003, Piet Tallo
juga kembali mencalonkan diri. Sebagai anggota dewan pertimbangan Partai
Golkar NTT, Piet Tallo, ketika itu kesulitan mendapatkan pintu masuk.
Pasalnya,
Ketua DPD Partai Golkar NTT saat itu, Daniel Woda Palle, juga
mencalonkan diri. Woda Palle akhirnya mengundurkan diri dan menunjukkan
Esthon L Foenay sebagai kandidat Gubernur NTT dari Partai Golkar untuk
berhadapan dengan Piet Tallo.
Piet
Tallo akhirnya memilih Frans Lebu Raya, Ketua DPD PDI Perjuangan NTT
dan Wakil Ketua DPRD NTT pada saat itu untuk mendampinginya sebagai
wakil gubernur.
Ketika pentas
politik suksesi kepemimpinan NTT digelar pada Juni 2003, Piet Tallo dan
Frans Lebu Raya, akhirnya keluar sebagai pemenangnya dengan
menyingkirkan paket dari Partai Golkar atas nama pasangan Esthon L
Foenay dan Gaspar Parang Ehok, serta pasangan dari Gabungan Fraksi NTT
Bersatu DPRD NTT, atas nama Victor Bungtilu Laiskodat dan Simon Hayon.
Di
penghujung akhir masa jabatannya sebagai Gubernur NTT, Piet Tallo mulai
jatuh sakit, sehingga operasional pemerintahan diserahkan sepenuhnya
kepada Wakil Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, yang kini telah menjabat
sebagai Gubernur NTT periode 2008-2013.
Ketika
memimpin daerah ini, ada banyak petuah yang disampaikan Piet Tallo
kepada masyarakat dan para pejabat dalam banyak kesempatan. Misalnya,
kearifan lokal. Ini mengajak rakyat untuk memberdayakan potensi-potensi
lokal yang ada pada rakyat itu untuk kesejahterannya. Untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, Piet Tallo mencanangkan program Tiga Batu
Tungku, yakni pendidikan, kesehatan dan ekonomi.
Selama
masa tugasnya, Piet Tallo mendapat penghargaan Parasamya Purna Karya
Nugraha dari Presiden Soeharto pada 21 Agustus 1989, Manggala Karya
Kencana Kelas II dari Kepala BKKBN Haryono Suyono pada tahun yang sama,
Anugrah Korpri Abdi Negara dari Ketua Umum Korpri H Feisal Tamin pada
2000.
Selain
itu, mendapat Satya Lencana Karya Setia 20-30 tahun dari Presiden
Megawati Soekarnoputri pada 28 Oktober 2002 dan penghargaan dari Komisi
Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR), tropi dari Paus Johannes Paulus II
pada 1997 serta medali imamat 25 tahun Kepausan dari Paus Johannes
Paulus II pada 2004.
Dari Dusun Kecil
Piet
Tallo dilahirkan di Tefas, sebuah dusun kecil di wilayah Kabupaten TTS
pada 27 Mei 1942, dari pasangan Ch B Tallo dan Ny M Tallo-Lodo. Ketika
masih duduk di bangku sekolah rakyat (SR), pria pemilik rambut perak ini
sudah menampakkan dirinya sebagai seorang pemimpin yang ditunjukkannya
lewat sikap disiplin.
Setelah
tamat dari SR GMIT SoE di Ibukota Kabupaten TTS pada 1955, ia
melanjutkan pendidikan di SMP Negeri Kupang. Setelah tamat di SMP Negeri
tersebut pada 1958, Piet Tallo melanjutkan ke SMA Negeri Kupang dan
tamat pada 1970.
Ia pun
merantau ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas
Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Setelah menyelesaikan studinya di kota
"Gudeg" Yogyakarta itu, Piet Tallo kemudian menyunting seorang wanita
Jawa, Erny Christian.
Pada
15 Maret 1967, Piet Tallo dan Erny melangsungkan pernikahan suci sampai
akhirnya dikarunia tiga orang anak, yakni Ch S Tallo, John Christian
Tallo dan HO Tallo.
Selama
masa muda, Piet Tallo dikenal banyak orang sebagai sosok seorang pria
yang suka hidup berorganisasi, baik organisasi kepemudaan, keagamaan dan
sosial politik. Ia pernah menjadi anggota GMKI antara 1961-1970,
anggota Golkar sejak 1970, anggota Law Asian Conference (LAC) 1979.
Ia
juga menjabat Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) sejak 2004,
Sekretaris Dewan Pertimbangan Partai Golkar NTT antara 1994-1998 serta
Ketua Dewan sesepuh SOSKI NTT dari 1990 sampai 1996.
Ketika
masih duduk di bangku kuliah pun, Piet Tallo dipercayakan menjadi
ajudan Rektor UGM Yogyakarta antara 1965-1967. Setelah tamat di UGM
Yogyakarta, ia kembali ke NTT untuk mencari pekerjaan. Pada 1 September
1970, ia mulai meniti karirnya sebagai seorang pamong praja ketika
diterima menjadi pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah daerah
NTT.
Tenaga
sarjana ketika itu masih tergolong langka di NTT sehingga ia
dipercayakan menjadi dosen di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN)
Kupang antara 1972-1983 dan menjadi Pembantu Dekan III Fakultas Hukum
Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang antara 1972-1978.
Dalam
kurun waktu tersebut, Piet Tallo mendapat banyak tugas di lingkungan
pendidikan dan kepemudaan. Antara lain menjadi Ketua Komisariat Daerah
(Komda) PSSI NTT dan Ketua Andalan Daerah Urusan Putra pada Kwartir
Daerah Pramuka NTT. Antara tahun 1974-1983, Piet Tallo dipercayakan
menjadi Kepala Dinas Pendapatan Daerah NTT.
Selamat jalan Pak Piet, jasa dan pengabdianmu tetap akan dikenang oleh seluruh rakyat NTT. (lorens molan/ant/gem)
Pos Kupang edisi Minggu, 26 April 2009 halaman 1
