Jumat, 20 April 2018

Wajah Buram Sepakbola Kita

PERTANDINGAN waktu normal tinggal semenit lagi berakhir. Tinggal sesaat wasit  akan meniup peluit akhir.  Sekonyong-konyong penonton menerobos pagar pembatas lalu masuk ke lapangan.

Petugas kemananan berusaha mengajak penonton agar kembali ke tribun stadion, namun tak digubris secuil pun. Petugas kalah jumlah. Tak sanggup menahan kawanan orang dengan emosi di ubun. Dan, kalap. Papan skor menunjukkan laga Arema vs Persib Bandung imbang 2-2.

Layar televisi menayangkan dahi Pelatih Carlos Mario Gomez berdarah. Lampu stadion meredup. Pertandingan berakhir ricuh. Komentator televisi berkali-kali berseru, sayang nian laga menawan harus berakhir seperti itu.

Demikianlah yang terjadi  di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Minggu (15/4/2018) malam. Pertandingan ricuh antara tuan rumah Arema FC melawan Persib Bandung itu  menambah panjang daftar buram wajah sepakbola Indonesia.


Padahal pemain kedua tim sudah mempertontonkan permainan yang berkualitas tinggi.  Setelah alami kebuntuan gol selama 25 menit pertama, Singo Edan (Arema)  membuka keunggulan pada menit 19. Thiago Furtuoso  sukses mengelabui dua pemain bertahan Maung Bandung, Bojan Malisic dan M Fisabillah sebelum melewati kiper M  Natshir. Thiago mudah saja melesakkan bola ke dalam gawang yang kosong.

Persib tidak tinggal diam. Hanya selang semenit, Ezechiel N'Douassel mencetak gol balasan. Dia lolos dari kawalan pemain bertahan Arema sebelum melepaskan tendangan keras dari kotak penalti yang gagal dihalau kiper  Utam Rusdiana.

Setelahnya, pertandingan memang berjalan lebih keras tapi terkontrol. Permainan makin memikat di babak kedua. Ezechiel N'Douassel kembali mencetak gol bagi Persib. Namun, lagi-lagi langsung dibalas pemain Arema tak lama kemudian.

Penonton mulai berulah setelah pemain tuan rumah Dedik Setiawan mendapat kartu merah dari wasit karena mengganjal lawan sangat keras. Keputusan wasit sudah tepat. Yang menjadi soal penonton kita memang belum dewasa bersikap.Masih seenaknya bertindak ketika emosi meluap-luap. Tindakan mereka masuk lapangan pertandingan merusak atmosfir pertandingan yang sudah berjalan bagus sejak awal.

Jika benar penonton tuan rumah berulah hingga memicu terjadi kericuhan, maka sanksi bakal menimpa klub Arema Malang. Sungguh malang nasib Arema.

Pencapaian mereka musim ini kurang meyakinkan. Masih terbenam di dasar klasemen. Jika terkena sanksi lagi dari otoritas Liga 1 Indonesia dan PSSI, tergenapi sudah jatuh tertimpa tangga pula. Penonton tak sopan, manajemen  klub menelan getahnya.

Insiden di Stadion Kanjuruhan pun menyembulkan pertanyaan,  bagaimana sistem kemananan di stadion sepakbola Indonesia? Mengapa penonton begitu mudah merebos masuk lapangan. Pelanggaran prosedur bukan mustahil terjadi di sana. Polri dan mitra terkait mesti introspeksi dan segera evaluasi guna mengambil langkah perbaikan melalui agenda aksi terukur. *

Sumber: Pos Kupang 17 April 2018 halaman 4

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...