Senin, 13 Maret 2017

Pelanggan Saya Polisi dan Pejabat

KUPANG, PK -Produksi dan penjualan sopi atau arak  buatan lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) marak di Kota Kupang. Pelanggan minuman keras (miras) berkadar alkohol itu datang dari berbagai kalangan termasuk oknum pejabat dan aparat kepolisian.

"Yang pesan arak dari saya campur aduk. Pelanggan saya ada yang polisi, PNS, pejabat, pokoknya banyak sekali karena menurut mereka arak saya keras dan panas. Arak murni tanpa campuran. Katanya bagus diracik untuk minuman obat."

Demikian  pengakuan Fransiskus, seorang warga Kupang yang memproduksi sopi saat ditemui di Kelurahan Bakunase II Kupang, Sabtu (5/3/2016). Hal yang sama dikatakan DM dan GH, produsen sopi yang ditemui di Kelurahan Sikumana.

"Dulu saya produksi arak di Adonara lalu jual kepada para pedagang untuk dibawa ke Kupang. Kisaran harga untuk satu botol kami jual sangat murah sehingga yang untung pedagang yang jual arak di Kupang. Kebetulan ada kawan yang ajak jualan di Kupang, saya  minta izin pada istri dan anak-anak hijrah ke Kupang. Saya ingin buat arak Adonara di Kupang. Saat ini,  puji Tuhan, penghasilan lumayan bagus. Setidaknya kebutuhan istri dan anak tercukupi," ujar Fransiskus.

Kamis, 09 Maret 2017

Matahari Terlihat Mirip Bulan Sabit

KUPANG, PK-Warga Kota Kupang dan daerah lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) antusias menyaksikan langsung Gerhana Matahari Sebagian (GMS) yang melintasi wilayah ini, Rabu (9/3/2016) pagi. Dari wilayah NTT,  matahari umumnya terlihat mirip bulan sabit. Khusus di Kota Kupang warga agak kecewa karena mendung menghalangi mereka melihat GMS.

Getrudis Keo, Theresia dan Adrianus, warga perumahan Lopo Indah, Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang mengaku menunggu sejak pukul 06.30 Wita untuk melihat gerhana matahari. Namun, mereka kecewa karena mendung menghalangi pandangan. "Coba kalau tidak ada mendung pasti kelihatan bagus sekali. Itu matahari mirip bulan sabit," kata Adrianus.

Kamis, 02 Maret 2017

Menepati Janji bagi Atlet NTT

Atlet Kempo NTT
Untuk para atlet NTT  yang meraih medali emas, perak dan perunggu di PON dan Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) tahun 2016,  Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT menggelontorkan dana hampir Rp 5 miliar untuk bonus uang dan rumah.Jumlah tersebut, menurut Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya,  merupakan yang terbesar sepanjang sejarah keikutsertaan NTT dalam pesta olahraga multievent.

Janji bonus dari pemerintah terbukti manjur. Pada kedua event berskala nasional tersebut, sebanyak 52 atlet NTT sukses mempersembahkan medali emas, perak dan medali perunggu. Dengan demikian pemerintah perlu menyiapkan 52 unit rumah tipe 36 sebagaimana dijanjikan sebelum pelaksanaan PON dan Peparnas 2016.

Warga Kolhua Minta Pemerintah Jujur Soal Bendungan

ilustrasi
POS KUPANG.COM, KUPANG -  Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang membangun bendungan di Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa masih terkatung- katung hingga sekarang. Beberapa warga Kolhua meminta pemerintah transparan dan jujur menyampaikan soal ganti rugi dan tempat  untuk mereka direlokasi.

Selain itu, Pemkot Kupang  perlu transparan menjelaskan kepada warga di lokasi bendungan mengenai manfaat dan risiko jika bendungan tersebut dibangun. Hal itu disampaikan Ferdy Taklalu, warga RT 23, Ketua RT 27/RW 8, Alexius Bistolen (46), Alex Tabana (57), warga RT 28/RW 9, dan  Titus Bistolen, warga RT 27/RW 8 kepada ditemui Pos Kupang, Senin (29/2/2016) dan Selasa (1/3/2016) di kediaman mereka masing-masing.

Cara Melihat Gerhana Matahari Total

Pada fase M terjadi kegelapan nyaris sempurna dan masyarakat dapat melepaskan kacamata berfilter matahari.

AWAL bulan Maret 2016 ini Gerhana Matahari Total (GMT) kembali melintasi sebagian wilayah Indonesia. GMT  terakhir kali di Indonesia terjadi pada tahun 1983. Ahli astronomi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Bambang Hidayat saat mengenang kembali GMT 1983 mengatakan kala itu masyarakat diminta tetap berada di dalam rumah dan melihat proses GMT hanya melalui televisi yang kala itu disiarkan secara langsung  TVRI.

Ia berpendapat larangan pemerintah pada 1983 dari segi positifnya adalah melindungi rakyat dari kebutaan jika melihat secara langsung saat bulan belum sempurna menutup matahari secara total.  "Tapi orang-orang desa juga punya wisdom. Zaman dulu orang melihat refleksi gerhana dari air dalam belanga atau kolam, atau melihat dari lubang jarum, orang zaman dulu sudah tahu itu," katanya.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...