KUPANG, PK -Produksi dan penjualan sopi atau arak buatan lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) marak di Kota Kupang. Pelanggan minuman keras (miras) berkadar alkohol itu datang dari berbagai kalangan termasuk oknum pejabat dan aparat kepolisian.
"Yang pesan arak dari saya campur aduk. Pelanggan saya ada yang polisi, PNS, pejabat, pokoknya banyak sekali karena menurut mereka arak saya keras dan panas. Arak murni tanpa campuran. Katanya bagus diracik untuk minuman obat."
Demikian pengakuan Fransiskus, seorang warga Kupang yang memproduksi sopi saat ditemui di Kelurahan Bakunase II Kupang, Sabtu (5/3/2016). Hal yang sama dikatakan DM dan GH, produsen sopi yang ditemui di Kelurahan Sikumana.
"Dulu saya produksi arak di Adonara lalu jual kepada para pedagang untuk dibawa ke Kupang. Kisaran harga untuk satu botol kami jual sangat murah sehingga yang untung pedagang yang jual arak di Kupang. Kebetulan ada kawan yang ajak jualan di Kupang, saya minta izin pada istri dan anak-anak hijrah ke Kupang. Saya ingin buat arak Adonara di Kupang. Saat ini, puji Tuhan, penghasilan lumayan bagus. Setidaknya kebutuhan istri dan anak tercukupi," ujar Fransiskus.
Senin, 13 Maret 2017
Kamis, 09 Maret 2017
Matahari Terlihat Mirip Bulan Sabit
KUPANG, PK-Warga Kota Kupang dan daerah lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) antusias menyaksikan langsung Gerhana Matahari Sebagian (GMS) yang melintasi wilayah ini, Rabu (9/3/2016) pagi. Dari wilayah NTT, matahari umumnya terlihat mirip bulan sabit. Khusus di Kota Kupang warga agak kecewa karena mendung menghalangi mereka melihat GMS.
Getrudis Keo, Theresia dan Adrianus, warga perumahan Lopo Indah, Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang mengaku menunggu sejak pukul 06.30 Wita untuk melihat gerhana matahari. Namun, mereka kecewa karena mendung menghalangi pandangan. "Coba kalau tidak ada mendung pasti kelihatan bagus sekali. Itu matahari mirip bulan sabit," kata Adrianus.
Getrudis Keo, Theresia dan Adrianus, warga perumahan Lopo Indah, Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang mengaku menunggu sejak pukul 06.30 Wita untuk melihat gerhana matahari. Namun, mereka kecewa karena mendung menghalangi pandangan. "Coba kalau tidak ada mendung pasti kelihatan bagus sekali. Itu matahari mirip bulan sabit," kata Adrianus.
Kamis, 02 Maret 2017
Menepati Janji bagi Atlet NTT
![]() |
| Atlet Kempo NTT |
Janji bonus dari pemerintah terbukti manjur. Pada kedua event berskala nasional tersebut, sebanyak 52 atlet NTT sukses mempersembahkan medali emas, perak dan medali perunggu. Dengan demikian pemerintah perlu menyiapkan 52 unit rumah tipe 36 sebagaimana dijanjikan sebelum pelaksanaan PON dan Peparnas 2016.
Warga Kolhua Minta Pemerintah Jujur Soal Bendungan
![]() |
| ilustrasi |
Selain itu, Pemkot Kupang perlu transparan menjelaskan kepada warga di lokasi bendungan mengenai manfaat dan risiko jika bendungan tersebut dibangun. Hal itu disampaikan Ferdy Taklalu, warga RT 23, Ketua RT 27/RW 8, Alexius Bistolen (46), Alex Tabana (57), warga RT 28/RW 9, dan Titus Bistolen, warga RT 27/RW 8 kepada ditemui Pos Kupang, Senin (29/2/2016) dan Selasa (1/3/2016) di kediaman mereka masing-masing.
Cara Melihat Gerhana Matahari Total
Pada fase M terjadi kegelapan nyaris sempurna dan masyarakat dapat melepaskan kacamata berfilter matahari.
AWAL bulan Maret 2016 ini Gerhana Matahari Total (GMT) kembali melintasi sebagian wilayah Indonesia. GMT terakhir kali di Indonesia terjadi pada tahun 1983. Ahli astronomi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Bambang Hidayat saat mengenang kembali GMT 1983 mengatakan kala itu masyarakat diminta tetap berada di dalam rumah dan melihat proses GMT hanya melalui televisi yang kala itu disiarkan secara langsung TVRI.
Ia berpendapat larangan pemerintah pada 1983 dari segi positifnya adalah melindungi rakyat dari kebutaan jika melihat secara langsung saat bulan belum sempurna menutup matahari secara total. "Tapi orang-orang desa juga punya wisdom. Zaman dulu orang melihat refleksi gerhana dari air dalam belanga atau kolam, atau melihat dari lubang jarum, orang zaman dulu sudah tahu itu," katanya.
AWAL bulan Maret 2016 ini Gerhana Matahari Total (GMT) kembali melintasi sebagian wilayah Indonesia. GMT terakhir kali di Indonesia terjadi pada tahun 1983. Ahli astronomi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Bambang Hidayat saat mengenang kembali GMT 1983 mengatakan kala itu masyarakat diminta tetap berada di dalam rumah dan melihat proses GMT hanya melalui televisi yang kala itu disiarkan secara langsung TVRI.
Ia berpendapat larangan pemerintah pada 1983 dari segi positifnya adalah melindungi rakyat dari kebutaan jika melihat secara langsung saat bulan belum sempurna menutup matahari secara total. "Tapi orang-orang desa juga punya wisdom. Zaman dulu orang melihat refleksi gerhana dari air dalam belanga atau kolam, atau melihat dari lubang jarum, orang zaman dulu sudah tahu itu," katanya.
Langganan:
Postingan (Atom)
In Memoriam Valentino Luis
Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...




