Kamis, 09 Maret 2017

Matahari Terlihat Mirip Bulan Sabit

KUPANG, PK-Warga Kota Kupang dan daerah lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) antusias menyaksikan langsung Gerhana Matahari Sebagian (GMS) yang melintasi wilayah ini, Rabu (9/3/2016) pagi. Dari wilayah NTT,  matahari umumnya terlihat mirip bulan sabit. Khusus di Kota Kupang warga agak kecewa karena mendung menghalangi mereka melihat GMS.

Getrudis Keo, Theresia dan Adrianus, warga perumahan Lopo Indah, Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang mengaku menunggu sejak pukul 06.30 Wita untuk melihat gerhana matahari. Namun, mereka kecewa karena mendung menghalangi pandangan. "Coba kalau tidak ada mendung pasti kelihatan bagus sekali. Itu matahari mirip bulan sabit," kata Adrianus.

Warga Kolhua lainnya berbondong-bondong menuju jalan Jalur 40 untuk melihat gerhana matahari. Anak-anak dan remaja senang menyaksikan fenomena alam yang langka tersebut. Warga Kupang juga melihat gerhana dari pesisir pantai seperti di kawasan Teddys dan Lasiana serta lokasi lainnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Klas 1 Kupang secara khusus menyediakan fasilitas berupa dua teropong, kacamata serta display menggunakan proyektor di komplek Masjid Nurul Hidayah Kelapa Lima, Kupang. Warga Kota Kupang antusias  mengamati gerhana matahari menggunakan kacamata yang diberikan BMKG. Kepala BMKG Kupang, Hasanudin hadir bersama warga di masjid  tersebut.

"Gerhana matahari yang terjadi pada Rabu (9/3/2016) di NTT,  khususnya di wilayah selatan seperti Kupang dan sekitarnya hanya 72 persen.   Jadi masih ada sekitar 25 persen matahari yang bisa dilihat. Meski begitu tidak boleh dilihat dalam waktu lebih dari satu menit," kata Hasanudin. Dia mengakui awan mendung sedikit menghalangi masyarakat menikmati peristiwa gerhana sebagian.

"Jadi sebenarnya tepat pukul 07.27 Wita sudah bisa melihat gerhana, tapi karena awan sehingga masih terhalang. Gerhana di NTT berlangsung sampai pukul 09.55 Wita," kata Hasanudin. Seperti disaksikan Pos Kupang, warga antre memantau gerhana menggunakan teropong yang disiapkan BMKG. Bahkan ada yang memantau lewat genangan air di sekitar masjid serta kaca mobil.

Hasanudin mengatakan, pengamatan mereka saat terjadi gerhana menyentuh banyak aspek misalnya magnet bumi, cuaca, gravitasi , pasang surut air laut dan angin. Data dari seluruh Indonesia  akan diolah kemudian hasilnya disampaikan kepada masyarakat.

Di wilayah NTT, gerhana yang teramati berupa Gerhana Matahari sebagian dengan magnitudo gerhana terentang antara 0,699 di sebelah Selatan pulau Rote hingga 0,799 di bagian utara Pulau Flores. Adapun kota dengan magnitudo terbesar adalah Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, dengan magnitudo 0,793.

Secara umum, gerhana di NTT dimulai pada pukul 07.27 Wita. Puncak gerhana terjadi pada pukul 08.35 Wita dan berakhir pada 09.55 Wita. Durasi gerhana yang teramati di NTT rata-rata adalah 2 jam 27 menit dengan durasi terlama di Kota Kalabahi, Kabupaten Alor, yaitu 2 jam 31 menit 35,8 detik. (yel/osi/kcm)

Wisatawan Menangis

RIBUAN warga Palu dan para wisatawan sontak bersorak saat matahari menutupi bulan. Bahkan sejumlah wisatawan meneteskan air mata ketika kawasan pantai Talise, Kota Palu mendadak gelap gulita pada pukul 08.30 Wita.

 Puncak gerhana matahari total (GMT) ditandai dengan gelapnya Kota Palu. Gerhana matahari yang terakhir kali terjadi pada 33 tahun lalu tersebut hanya berlangsung dua menit. Namun, tawa dan linangan air mata pecah seketika pecah saat puncak GMT
terjadi.

Sebagian besar warga mengabadikan momen itu dengan menggunakan kamera. Warga pun tidak segan-segan berteriak menyebut nama Allah. Suasana kota Palu kembali normal saat sinar matahari menyembul kembali. Kota Palu yang tadinya gelap pun kembali bersinar.

Tidak jauh berbeda dengan Kota Palu, di Palembang pun terjadi puncak gerhana matahari total. Kota gelap gulita pada pukul 07.20 WIB saat gerhana matahari total terjadi. Sorak antusias warga membuncah saat peristiwa itu terjadi. Ribuan sorot kamera dan seluler berlomba mengabadikan momen langka ini. Pantauan Tribun, warga pun turut berfoto selfie dan welfie demi mengabadikan peristiwa tersebut.
Berbeda lokasi, ribuan warga Pontianak memilih menggelar salat gerhana  di masjid raya Mujahidin. Salat gerhana pada pukul 07.08 WIB. Cuaca yang kurang bersahabat membuat warga hanya bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian.

Operasional Perekayasa Muda Balai Pengamatan Antariksa dan Atmosfer (BPAA) -Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Pontianak, Iskandar Bakri, mengungkapkan pada momentum Gerhana Matahari Total (GMT) tahun 2016 ini, kawasan Kota Pontianak hanya dapat melihat sekitar 93 persen gerhana.
"Puncaknya jam 07.27, kita di sini hanya dapat melihat sekitar 93 persen. Kita hanya dapat melihat Gerhana Matahari Sebagian (GMS). Dan kita tunggu sampai jam 08.40," urai Iskandar.

Lalu bagaimana gerhana matahari total di kota kelahiran Presiden Joko Widodo. Gerhana matahari di Solo tidak terlihat total. "Di Solo, gerhana yang terjadi gerhana parsial. Permukaan matahari yang tertutup bulan hanya 85 persen. Jadi, bentuknya sabit," kata Panitia Pengamatan Gerhana Matahari Masjid Agung Solo, Dicky Mahendra Setiawan.

Menurutnya, dari pengamatan menggunakan teropong kontak pertama gerhana atau posisi ketika bulan pertama menyentuh bagian matahari terjadi pukul 06.20 Wib. Adapun kondisi maksimum saat 85 persen bagian matahari tertutup bulan terjadi pukul 07.24 WIB. Gerhana kemudian berakhir saat bulan meninggalkan matahari pada pukul 08.36 WIB. "Gerhana matahari sebenarnya terjadi tiap tahun, hanya tempatnya berbeda-beda. Di tempat yang sama bisa ratusan tahun. Kalau di Jawa, dulu terakhir terjadi tahun 1983," ungkapnya.

Presiden Joko Widodo memilih tidak ikut nimbrung di kota Solo saat gerhana matahari terjadi. Mantan Wali Kota Solo itu justru berada di masjid Istana Bogor. Menggunakan kemeja putih, sarung kotak berwarna biru, Jokowi mendatangi masjid Baitussalam, Istana Bogor, sekitar pukul 07.18 Wib. Mengendarai mobil golf, Jokowi dikawal sejumlah anggota Paspampres dan pegawai istana Bogor.

Setelah turun dari mobil golf, Jokowi berjalan kaki menuju masjid. Tidak terlihat istri dan kedua anaknya menemani orang nomor satu Indonesia tersebut. Saat masuk ke Masjid Baitussalam, sudah berkumpul pegawai Istana Bogor dan Paspampares.

Wawan Anwarudin menjadi imam salat gerhana di masjid Baitussalam. Sekitar pukul 07.55 Jokowi menuntaskan salat gerhana dan kembali ke wisma Diyah Bayurini.
Wakil Presiden, Jusuf Kalla tidak ingin kehilangan momentum saat gerhana matahari. Mantan Menko Kesra ini terpukau saat menyaksikan gerhana matahari di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (9/3/2016). "Indah sekali, ini fenomena alam yang luar biasa yang jarang terjadi. Kita bersyukur tempat ini nyaman dan tidak terhalang sama sekali," kata Jusuf Kalla melalui Juru Bicaranya Husain Abdullah.

Ia mengemukakan, kuasa Tuhan dan pengetahuan umat manusia telah membuat warga Indonesia mampu menyaksikan secara langsung fenomena langka. "Matahari yang jaraknya 150 juta km dan bulan yang jaraknya kurang lebih 40 juta km dapat diketahui posisinya dengan sangat pas. Itu kan kebesaran Allah dan ilmu pengetahuan manusia yang sangat tinggi," urainya seraya menyebut, gerhana matahari total memikat warga asing berkunjung ke Indonesia. "Yang menarik juga karena banyak ilmuwan datang dan mereka juga melihat hal yang sangat baik," tutur Jusuf Kalla. (tribunnews/tim)


Lumba-Lumba pun Berdiam Diri

PERILAKU ikan lumba-lumba hidung botol dari laut pasific (tursiops aduncus) di Dolphin Park Ocean Dream Samudra Taman Impian Jaya Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, berbeda dari biasanya. Saat gerhana matahari terjadi, lumba-lumba memilih berdiam diri di dasar kolam. Hanya sesekali lumba-lumba naik ke permukaan. Itu pun hanya untuk menghirup oksigen.

Kolam air yang berombak oleh aksi lumba-lumba terpantau tenang ketika gerhana matahari terjadi. Hewan mamalia tergolong pintar ini mulai berenang, dan melompat saat gerhana matahari berakhir. Kolam air pun kembali pecah seiring tawa dan sorak sorai para pelajar berseragam pramuka melihat sang lumba-lumba kembali beraksi.
Fenomena lumba-lumba berdiam diri itu menjadi pengamatan serius Komunitas Teens Go Green serta kelompok Penelitian Biodiversitas dan Konservasi Sumberdaya Laut Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI). Sejumlah awak media dan pelajar sekolah rakyat Ancol juga ikut mengamati perilaku lumba-lumba ketika gerhana matahari terjadi.

Perilaku berbeda juga diperlihatkan macan tutul dan jaguar di Taman Marga Satwa Ragunan. Hewan karnivora itu terlihat banyak diam dan mengantuk.  "Petugas itu mengeluarkan hewan-hewan dan dimasukkan ke kandang peraga sekitar pukul 07.00 WIB sampai 07.30 WIB," ucap Kepala Dokter Hewan Taman Marga Satwa Ragunan, Syafri Edwar, Jakarta, Rabu (9/3/2016).

Ia menjelaskan, perilaku bermalas-malasan tersebut tidak lepas dari fenomena gerhana matahari total yang terjadi di Indonesia. Bagi macan tutul dan jaguar, gerhana matahari total yang terjadi sebagai penanda bahwa pagi belum tiba. "Macan tutul dan jaguar masih menganggap menganggap pagi ini seperti malam hari yang biasanya beristirahat di kandang khusus," urai Syafri.

Taman Marga Satwa Ragunan memiliki empat kandang untuk macan dan jaguar. Tiga kandang untuk macan tutul Srilanka dan satu kandang untuk jaguar. Kandang mereka memiliki ukuran panjang 8 meter dan lebar 8 meter.

Imam besar Masjid Istiqlal, Nazarudin Umar dalam khutbah usai salat gerhana matahari berharap setiap muslim tetap bersyukur saat gerhana matahari terjadi. "Kejadian ini belum tentu dapat kita temukan seumur hidup sekali. Saya mengingatkan kepada kaum muslimin untuk dapat terus bersyukur atas kejadian ini," ujarnya seraya mendorong kaum muslim berdoa dan mengingat Allah SWT.

"Manusia sebagai makhluk mikrocosmos harusnya dapat belajar dari ketaatan alam semesta melalui matahari dan bulan yang mengitari porosnya," tambahnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tengah menelaah dampak dari gerhana matahari total di Indonesia. "Dampak gerhana matahari total ini memang dia tidak berdampak terhadap kehidupan manusia secara umum. Yang terdampak saluran komunikasi yang menggunakan gelombang radio," kata Deputi Geofisika BMKG, Masturiyono.

Ia menjelaskan, jarak antara bumi dengan matahari dan bulan mengalami perubahan karena gerhana matahari. Namun hal itu dipastikan tidak terlalu berdampak dengan peristiwa tertentu. "Tentu ada perubahan jarak antara bumi dengan matahari dan bulan tentu akan memengaruhi. Makanya kita sedang coba buat rekaman terus menerus secara sebulan ini," paparnya seraya menyatakan, terdapat pengaruh gravitasi saat gerhana matahari terjadi.

"Kalau gravitasi tadi sebetulnya pada waktu terjadi gerhana, jarak bumi, bulan, dan matahari kan semakin dekat jadi gaya tarik semakin besar. Maka gravitasi juga akan naik," kata Mastur. (tribunnews/sen/wk/dtc)

Sumber: Pos Kupang 10 Maret 2016 hal 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...