![]() |
| Lontar cabang empat |
HARI Sabtu, 19 Maret 2016 saat menunggu pendaftaran bakal calon walikota Kupang di Partai Nasdem, ketua Nasdem dari tingkat kecamatan, Emanuel Un mengungkap fakta ada pohon lontar bercabang tujuh.
Jika mau melihat pohon itu, dia akan mengantarnya dan setelah dibuat janji, maka pada Sabtu siang tiga wartawan televisi, yakni TVRI dua orang, reporter RCTI dan Pos Kupang ikut ke tempat tersebut. Ternyata benar apa yang dikatakan Emanuel Un.
Pohon lontar ini berdiri tegak di tengah-tengah kebun kacang di Kampung Oeli'i, Desa Oematnunu, Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Jaraknya dari jalan raya sekitar 50 meter. Untuk masuk ke dalam kebun kacang kami harus melalui pagar batu yang cukup tinggi dan saat lewat, ada beberapa batu yang jatuh.
Emanuel Un mengungkapkan, ia juga kaget saat melihat pohon lontar tersebut karena biasanya pohon lontar tidak bercabang. "Kalau pohon kelapa itu bercabang, saya sudah pernah lihat. Tapi, pohon lontar bercabang, saya belum pernah lihat. Coba lihat di tempat percabangan, ada cabang yang sudah mati, tapi empat cabang ini masih tegak," ujarnya.
Pohon lontar ini adalah pohon jantan, di mana setiap cabang memiliki buahnya, namun di dekat lokasi tersebut tidak ada buah atau yang biasa disebut saboak (siwalan, Red) yang jatuh ke tanah. Cukup lama kami berada di lokasi tersebut, meskipun panas matahari menyengat kulit karena di sekitarnya tidak ada pohon rimbun sebagai tempat berteduh.
Setelah beberapa saat melihat pohon lontar bercabang itu, kami menuju ke arah perkampungan untuk mencari pemilik pohon lontar tersebut. Kami bertemu dengan ketua RW dan beberapa orang yang sementara membuat salib dalam rangka lomba hias salib Paskah di kampung itu.
Ketua RT05/RW03, Musa Manggi, mengantarkan kami kepada Yeremias Hakmone, pemilik tanah yang di atasnya ada pohon lontar dan juga sebagai ketua RT 03. Pohon lontar itu awalnya tumbuh seperti pohon lontar lainnya, namun saat sudah cukup besar ternyata pohon lontar mulai bercabang dan sampai lima cabang, tapi ada satu cabang yang sudah mati.
Meskipun ada hasil buah saboak, namun pemilik pohon dan masyarakat sekitarnya tidak pernah menyentuh pohon tersebut karena takut sakit. "Orang tua sudah bilang, jangan makan buahnya karena ada empat cabang. Kami juga tidak pernah makan buahnya. Kalau buah dari pohon lain kami berani makan, tapi karena sudah dilarang oleh orangtua, maka kami tidak berani melanggarnya. Kalau berani makan nanti perut sakit sekali," tutur Yeremias.
Pohon lontar cabang empat itu menjadi keramat karena pada malam hari, terutama saat bulan sabit, dari dalam pohon lontar tersebut ada bayangan ikan paus. Bayangan ikan paus itu keluar dari pohon lontar sehingga tidak ada yang berani mendekati pohon lontar cabang empat tersebut ketika bulan sabit. Juga ada suara yang aneh-aneh dari pohon lontar bercabang empat itu.
Untuk memanjat pohon lontar cabang empat ini hanya ada satu orang yang berani, sedangkan warga lainnya tidak berani. Orang yang berani memanjat pohon lontra cabang empat ini hanya Felipus Bangkole, sedangkan pemilik pohon lontar tidak berani.
Felipus mengaku ia naik pohon lontar cabang empat tersebut untuk ambil daunnya jika diperlukan. Tetapi, lanjutnya, ia jarang memanjat pohon lontar tersebut kecuali diminta oleh pemiliknya
Warga lainnya mengungkapkan keanehan pada pohon lontar ini. Mereka mendengar cerita bahwa pernah ada wisatawan mancanegara yang datang ke lokasi itu untuk mengambil foto pohon lontar cabang empat, tetapi tidak jadi. Kemudian turis itu datang lagi untuk memotret pohon lontar tersebut, tetapi tidak jadi. Maka saat kami hendaka memotret, warga setempat menganjurkan untuk melihat apakah hasil foto wartawan jadi atau tidak, karena pohon itu keramat... (hermina pello)
Sumber: Pos Kupang 22 Maret 2016 hal 1
