Senin, 25 April 2016

Kure Selalu Diawali Pengambilan Air

Bupati TTU Ray Fernandez ikut Kure 2016 (foto PK)
PROSESI Kure yang bersamaan dengan umat Katolik merayakan Tri Hari Suci Paskah saban tahun diawali pengambilan air dan batu oleh anggota suku di sungai Noemuti. Air  untuk bersihkan patung-patung Maria dan Yesus yang dibawa dari Portugis sejak pertama kali bangsa itu datang ke Pulau Timor enam abad yang lalu.

Selanjutnya anggota suku menyerahkan persembahan seperti uang, buah, sayuran, sirih dan pinang. Beberapa tokoh adat setempat seperti Yosep Namo Salem, Sisilia Iku Meol, Aloisius Malaof Meol, Agus Yohanes Kosat dan Alexander Benu  mengatakan, Kure dilaksanakan enam hari terhitung sejak hari Rabu hingga Senin.

Pada Rabu (23/3/2016) atau Trebluman digelar Ritual Pengosongan Diri. Pada hari itu umat di tiap ume uisneno membuat bunyi-bunyian dengan memukul di dinding rumah keliling sambil menyerukan Poi Rirabu, Poi Rirabu (keluarlah roh jahat). Bersamaan dengan itu lonceng gereja dibunyikan dan semua lampu dimatikan. Sekitar sepuluh menit ritual ini berlangsung lampu dinyalakan lagi.


Hal itu sebagai tanda umat siap memasuki Tri Hari Suci. Ume uisneno dibersihkan dan dihiasi. Patung-patung diturunkan dari tempatnya untuk dibersihkan yang disebut taniu usi neno pada hari Kamis (24/3/2016) pagi.

Sejak hari Rabu dan Kamis tiap anak suku mengumpulkan buah-buahan dan  tebu untuk dibawa ke  rumah adat masing-masing. Buah-buahan dan tebu dalam bahasa lokal disebut Bua Loet dan Bua Pa. Tindakan itu cermin ungkapan syukur kepada Tuhan. Pada hari Kamis pagi berlangsung prosesi taniu usi neno (memandikan patung) diawali dengan soet oe (mengambil air) di sungai. Setiap apaot ume mnasi (penjaga rumah adat) didampingi para tua adat berangkat ke gereja untuk mendapatkan perutusan, lalu bersama-sama ke sungai mengambil air dengan wadah
periuk tanah untuk membersihkan patung-patung.

Dari sungai mereka kembali ke gereja untuk memberkati airnya. Setelah itu setiap apaot ume mnasi kembali ke  rumah masing-masing untuk bersihkan patung. Dua batu yang diambil bersama air dalam ritual soet oe digunakan untuk menghaluskan tebu yang digunakan sebagai alat pembersihan patung setelah dicuci, dilumuri minyak dan dihiasi di atas meja altar. Air pembersihan yang telah diberkti digunakan untuk membasuh dahi, mulut, tangan dan kaki sebagai lambang pembersihan diri dari dosa pikir, perkataan dan dosa perbuatan.

Pada hari perayaan Jumat Agung, warga kampung atau warga yang datang dari luar dilarang berkendara dan membunyikan apa pun sampai hari Sabtu pagi. Memasuki Sabtu Aleluya, misa diikuti semua warga, dilanjutkan dengan Bonet  (tarian massal lebih dari 50 orang) secara bersama-sama di paroki setempat sebagai ungkapan syukur atas kebangkitan Yesus Kristus.

Pada Minggu Paskah, diadakan perayaan misa ekaristi, dilanjutkan kemeriahan Pesta Paskah dengan tarian, gong, bidut, dan bentuk keramaian lainnya sampai Minggu malam. Perayaan Kure akan berakhir pada  Senin atau istilah setempat disebut Paskah kedua.

Pada prosesi ini, hiasan Ume Uis Neno, buah-buahan, air, dan minyak yang dipakai memandikan atau membersihkan patung dan benda-benda devosional dikumpulkan dan dibawa ke sungai untuk dihanyutkan. Prosesi akhir rituan Kure ini adalah tanda melepaskan dosa-dosa karena telah diselamatkan oleh kebangkitan Kristus dan menjadi manusia baru atau disebut Sefmau. (apson benu)

Sumber: Pos Kupang 24 April 2016 hal 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...