![]() |
| Umat Katoltik berdoa saat Kure tahun 2016 (foto PK) |
Aktivitas di gereja itu tidak langsung berakhir setelah misa Kamis Putih. Hingga pukul 21.00 Wita, anggota OMK (Orang Muda Katolik) dan umat setempat masih berkumpul di halaman depan Gereja Paroki Hati Kudus Yesus. Jumlah terbanyak malah anak-anak dan remaja.
Dari depan gereja mereka bergerak keliling kampung sambil berdoa, masuk dari satu rumah ke rumah lainnya. Mereka melakukan tradisi warisan Portugis sejak abad ke-17 yang disebut Kure (berjalan keliling sambil berdoa).
Kelompok anak-anak dan remaja pertama kali memasuki ume mnasi (rumah adat) di kediaman Dominggus Meol. Jaraknya sekir 50 meter arah barat gereja. Di situ ada patung St. Antonius dan Salib Yesus yang sudah berumur ratusan tahun. Penuh penghayatan, sembari menghadap patung Salib Yesus, Patung Bunda Maria dan Patung St. Antonius, anak-anak itu berdoa satu peristiwa Rosario kemudian nyanyikan lagu-lagu Maria. Seusai berdoa mereka diberi tebu dan ketimun oleh tuan rumah.
Malam makin larut namun anak-anak itu tetap antusias mendatangi setiap ume mnasi. Suasana persis seperti kemeriahan Natal di tengah kota namun tenang dan teratur. Di setiap pintu masuk ume mnasi dipasangi gapura yang terbuat dari daun kelapa. Ada pula obor dan lampu pelita berjejeran menerangi para pendoa.
"Kalau melakukan Kure itu harus keliling berdoa di semua ume mnasi. Kalau tidak atau sampai di satu ume mnasi saja dan tidak lanjut, akan berakibat fatal," kata seorang tokoh adat setempat, Agus Yohanes Kosat. "Ini hari pertama Kure. Anak-anak yang mulai duluan melakukan kure, besok (Jumat baru para orang tua," ungkap Ketua OMK Paroki Hati Kudus Yesus Noemuti, Frengki Bano.
Hari Jumat (25/3/2016), Kure hari kedua pun berlangsung. Saatnya para orang tua mengambil bagian. Pukul 21.00 Wita terlihat hadir Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes bersama istri dan anak, Romo Deken Dekenat Kefamenanu, Gerardus Salu, Pr. Asisten I Setda TTU, Wily Apaut, Kadis PU TTU, Theodorus Fallo, Pater Jose, Suster Yustin Fernandes. Juga hadir Wakil Ketua DPRD TTU, Amandus Nahas sekeluarga dan Ketua DPC Partai Demokrat TTU, Joni Salem sekeluarga.
"Pak Wily tolong lihat dan fasilitasi setiap rumah adat. Tolong lihat rumpun keluarga mana saja yang terkait dalam setiap keluarga. Hubungan suku-suku atau ume mnasi dengan gereja seperti apa," kata Bupati Ray Fernandes kepada Wily Apaut, saat berada di rumah Agus Yohanes Kosat dan Alexander Benu. Mereka mengelilingi ume mnasi Bijeli, Fios Snoe, Foko, Upbatan satu dan Upbatan dua.
Dilanjutkan ke Ume Mnasi Almet, Uskono, Koronto, Kenuf, Haumetan dan Tune. Di setiap ume mnasi bupati dan rombongan pun mendoakan satu peristiwa Rosario kemudian menyanyikan lagu-lagu Maria. Doa dipimpin Romo Gerardus Salu, Pr. Selesai berdoa di setiap rumah adat itu mereka disuguhi sirih pinang, tebu dan buah-buahan lainnya.
Ditemui Pos Kupang seusai menjalankan Kure, Jumat (25/3/2016) malam, Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes mengatakan, Kure adalah wujud syukur dari semua anggota suku dengan mengumpulkan hasil panen dari kebun masing-masing. Hasil panen itu diberikan kepada tamu atau rombongan yang datang berdoa di setiap rumah adat.
Dikatakannya, nilai yang terkandung dalam prosesi Kure di Noemuti sebenarnya tidak bedah jauh dengan prosesi Semana Santa (Jumat Agung) di Larantukan, Kabupaten Flores Timur. Namun, dari aspek budaya mempunyai ceritera berbeda.
"Kita akan duduk bicara menyamakan persepsi bersama tokoh agama dan tokoh adat sehingga tidak ada nilai yang hilang dari prosesi Kure ini," kata pria yang akrab disapa Ray ini.
Menurutnya, yang perlu diperhatikan masyarakat dan tokoh adat setempat adalah mendata kembali dari setiap anggota suku. "Kita harus menjaga nilai budaya ini dan mempertahankan ritus tersebut,"ungkapnya. Bupati menambahkan, pada tahun 2016 ini pihaknya akan memperbaiki akses jalan dan penerangan di kampung itu.
Belum Dipromosikan Secara Luas
Kurang Promosi
Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten TTU, Yohanes Sanak, mengatakan, Kure mempunyai nilai jual yang tinggi tetapi butuh promosi agar lebih dikenal masyarakat luas. "Ini (Kure) kurang promosi sehingga banyak yang belum mengetahui," ujarnya.
Sanak mengatakan, Dinas Pendidikan Kebudayaan Provinsi NTT dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT bergandengan tangan dengan Pemerintah Kabupaten TTU akan mengembangkan ritual unik tersebut sebagai aset pariwisata religi di TTU. "Kure ini hampir sama dengan Semana Santa," katanya.
Sanak mengatakan, pihaknya akan membangun komunikasi dan diskusi bersama tokoh adat dan tokoh masyarakat TTU agar Kure bisa menarik lebih banyak wisatawan. "Kalau ada masukan-masukan untuk mengembangkan tradisi Kure, maka para tokoh adat dan masyarakat harus membuka diri dengan berbagai stakeholder yang ada di TTU terutama dengan pemerintah," ujarnya.
Frengki Bano dari OMK Noemuti menyambut baik tekad pemerintah mempromosikan tradisi Kure. "Sebagai kaum muda dan tulang punggung gereja, kami akan tetap mempertahankan tradisi yang ada," ujarnya. (abe)
Sumber: Pos Kupang 24 April 2016 hal 1
