* Solusi Atasi Kemacetan di Manado
"Perlu ada angkutan alternatif seperti monorel yang menjadi jawaban atas masalah kemacetan di Kota Manado."
EE Mangindaan
Menteri Perhubungan RI
MANADO, TRIBUN - Menteri Perhubungan (Menhub) RI EE Mangindaan angkat bicara soal kemacetan arus lalu lintas di Kota Manado. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) itu menyarankan pemerintah kota Manado membangun monorel sebagai salah satu solusi mengurai kemacetan.
"Coba Anda bayangkan jika bus, truk dan segala macam kendaraan ada di jalan. Kendaraan itu bertambah menurut deret ukur sedangkan pertumbuhan penduduk bisa menurut deret hitung. Perlu ada angkutan alternatif seperti monorel yang menjadi jawaban atas masalah kemacetan di Kota Manado," kata Mangindaan usai Sidang Paripurna Istimewa DPRD Kota Manado dalam rangka peringatan HUT ke- 389 Kota Manado, Sabtu (14/7/2012).
Menurut Menhub, bertambahnya jumlah kendaraaan bermotor di Manado jangan menjadi kambing hitam kemacetan. Masuknya kendaraan dalam jumlah banyak justru pertanda terjadi pertumbuhan ekonomi yang luar biasa di Manado.
"Ada indikasi pendapatan bertumbuh. Jika pendapatan masyarakatnya bertambah, maka keinginan memiliki sesuatu pasti tinggi. Termasuk keinginan untuk memiliki kendaraan," ujar Mangindaan.
Wali Kota Manado Vicky Lumentut mengapresiasi usul Menteri Perhubungan tersebut. Menurutnya, pembangunan monrel masuk program jangka panjang pemerintah Kota Manado. Lumentut menyiapkan langkah awal untuk rencana ini. "Hal pertama yang akan kami lakukan ialah studi banding. Pembangunan monorel di Manado perlu kajian khusus. Banyak hal yang perlu dipelajari," kata Lumentut.
Setelah melakukan kajian, kata wali kota, pemerintah Kota Manado akan mengajukan proposal kepada pemerintah pusat terkait dana pembangunan monorel. "Untuk pembangunan monorel kita memerlukan dana yang besar. Ini tidak bisa dibebankan di APBD. APBD kita belum mampu. Pemerintah pusat yang akan membantu," katanya. Vicky Lumentut juga telah memikirkan jalur yang akan dilewati monorel. "Saya sudah berpikir jalur yang tepat untuk monorel itu berada di pinggiran sungai. Ini untuk mempermudah pembebasan lahan," tuturnya.
Secara terpisah, pengamat transportasi di Sulut Veronika Kumurur menilai ide membangun monorel di Manado baik adanya untuk jangka panjang. "Itu sebenarnya telah ada dalam rencana tata ruang Kota Manado 2010-2030," kata Veronika kepada Tribun Manado, Sabtu (14/7/2012).
Kumurur menambahkan dalam rencana pembangunan tersebut akan dibangun monorel dari Bandara Sam Ratulangi sampai pusat kota sebab Kecamatan Mapanget disiapkan menjadi kawasan bisnis. "Nanti bukan hanya Boulevard yang ramai, namun juga daerah lainnya," katanya. Menurut dia, monorel adalah moda transportasi yang dapat dibangun di atas jalan. "Selain monorel juga ada pula rencana pembangunan rel kereta Manado-Kotamobagu," ujarnya.
Bunaken
Vicky Lumentut dalam sambutannya saat sidang paripurna kemarin mengakui kemacetan merupakan salah satu masalah yang dihadapi Kota Manado. Ia menyebutkan jumlah kendaraan roda dua yang masuk Manado kurang lebih 400 unit per bulan. Ia akan mencari solusi terbaik untuk mengatasi maslah tersebut. "Kita juga memiliki masalah dalam pelayanan izin dunia usaha. Menurut Doing Business Indonesia, kita mendapat urutan duapuluh. Artinya, kita bersyukur dari 20 kota yang disurvei kita mendapat mendapat urutan paling terakhir,"katanya disambut tawa hadirin. Selain pelayanan izin dunia usaha, Lumentut menyebut masalah sampah, kurangnya kapasitas pemadam kebakaran, kemacetan dan kurangnya kinerja pejabat publik. "Sampah di Bunaken juga patut kita pikirkan solusinya," kata dia. (dma/erv)
-- sidebar HL --
Kapolda Cari Formula
JEFRY mengawasi sebuah mobil Kijang Inova yang parkir di pinggir jalan raya depan RS Siloam di jalan Samrat Manado. Mobil berwarna hitam itu menyalahi aturan. Lajur itu seharusnya tersedia bagi angkutan kota (angkot) untuk mengangkut atau menurunkan penumpang. "Mobil pribadi tidak bisa parkir di sini," kata pria berkulit putih tersebut kepada Tribun Manado, Rabu (11/7) lalu.
Jefry, anggota Polantas Polda Sulut itu kemudian siaga di depan mobil. Dari situ dia memandangi ruang depan RS Siloam, menelusuri satu demi satu pengunjung. Dia berharap menemui pengemudi mobil Inova yang salah parkir. Tindakan hukum akan diberikan kepada sang pengemudi.
"Dia bisa ditilang, bisa juga hanya diberi peringatan, tergantung situasinya," kata Jefry. Tak jauh dari situ, berdiri Kadek, anggota Polantas lainnya. Tepat berada di antara jalur pemisah kendaraan, Kadek sibuk mengatur lalu lintas. Sesekali dia meniup peluit di tengah deru mobil dan sepeda motor yang lalu lalang. "Untuk mikrolet, bisa berhenti di jalur kiri, sedang bagian kanan adalah jalur bebas bagi kendaraan," katanya.
Di jalur kiri itu pun, sopir angkot tidak bisa seenaknya. Kendaraan yang lewat di situ tidak diperkenankan parkir dalam waktu lama. Dengan begitu, arus kendaraan yang datangnya searah itu, tidak lagi menumpuk hingga berlapis-lapis yang menyebabkan kemacetan. "Kendaraan menjadi lebih lancar," ujarnya.
Berjaga sejak pukul satu siang, Kadek terus berada di situ hingga malam pukul 22.00. Hal itu dilakoninya sejak Rabu lalu dan akan berlanjut hingga tanggal 17 Juli 2012. Suka duka dikecapinya mulai dari panas, hujan hingga kelelahan.
Jika sebelumnya dia dikepung sinar matahari, Rabu siang itu Kadek ditimpa hujan deras. Meski memakai jas hujan, namun air yang seolah tumpah dari langit tetap saja membasahi sebagian bajunya. Hujan berhenti, namun pakaian itu tetap basah. Meski begitu, Kadek tetap setia bertugas. Dingin yang menusuk tertahan oleh semangat yang berkobar di dadanya untuk merampungkan tugas yang diemban. "Biar hujan tetap bertugas," tuturnya. Jefry bersama dengan Kadek, hanyalah segelintir dari petugas Polisi Lalu Lintas yang bertugas di pusat Kota Manado. Selain di depan Korem-Siloam, polisi ada di beberapa titik rawan macet.
Sejak pekan lalu Jl Samrat, Pierre Tendean hingga Martadinata Manado dijaga aparat polisi berseragam. Dua jalan utama yaitu Samrat dan Piere Tendean tampak terjaga ketat. Jalan Samrat contohnya, Polantas tampak berderet dari depan Gramedia hingga depan Multi Mart. Deretan ini tersambung dengan barisan yang sama yang juga tersusun di Jalan Pierre Tendean.
Keadaan ini berdampak pada arus kendaraan di pusat kota. Meski kepadatan masih terjadi, namun kondisinya tidak separah sebelumnya. Siaganya aparat ini seperti hendak menerjemahkan tekad Kapolda Sulut Brigjen Pol Dicky Atotoy untuk mengurai kemacetan arus lalu lintas di Kota Manado.
Atas masalah klasik ini, Atotoy mengaku sering tidak tenang. Sering menggunakan waktu sehabis makan untuk berkeliling Manado, ia terperangah melihat keadaan lalu lintas khususnya di depan RS Siloam dan Korem itu. "Habis makan siang saya sering jalan-jalan dan melihat kemacetan di depan Korem," tuturnya.
Dia menilai kemacetan itu sudah parah. Polants di situ seperti tak berdaya. Kapolda pun bertekad untuk mengatasinya. Minggu depan, Kapolda akan menggelar pertemuan dengan Kapolres Manado dan Dirlantas untuk mencari formula yang tepat untuk masalah tersebut. Meski begitu, gendang telah ditabuh sebelum formula selesai diramu. Kapolda menyebut titik macet di depan Korem-Siloam menjadi yang pertama untuk diurai. Dari situ baru menyasar titik-titik kemacetan yang lainnya. "Upaya ini akan dilakukan bertahap," demikian Kapolda. (art)