Lapangan Pekerjaan Belum Merata
Sulitnya mendapatkan pekerjaan memicu meningkatnya pengangguran. Selain itu sumber daya setiap orang juga menentukan cepat lambatnya mendapatkan pekerjaan.
KONDISI ini yang membuat pengangguran menjadi satu di antara persoalan krusial di negeri ini termasuk di Sulawesi Utara (Sulut). Menyikapi fenomena ini ketuju tamu Smart Youngsters Edisi Minggu Tribun Manado kali ini memberikan pendapat.
Edwin Triwiyono, satu dari tamu Youngsters mengatakan, angka pengangguran dapat diatasi dengan cara membuka lapangan pekerjaan.
"Ini merupakan tugas dari pemerintah untuk membangun daerah dan negara agar lebih maju lagi, sehingga tercipta lapangan pekerjaan bagi masyarakat, " ujar Edwin yang bercita-cita menjadi Akuntan
Edwin yang hobi membaca buku ini mengatakan, penyebab meningkatnya angka penganguran di Indonesia karena karena lapangan pekerjaan di Indonesia belum merata.
"Dalam hal ini pemerintah perlu membangun kerjasama dengan investor agar membuka perusahaan yang bisa memperkerjakan masyarakat, " ujarnya
Inriani Regina Tumbel, mengatakan, meningkatnya angka pengangguran juga dipengaruhi latar belakang pendidikan yang kurang memadai.
"Orang bisa menganggur karena pendidikan yang tidak memenuhi memadai. Karena saat ini persaingan semakin ketat, hampir semua perusahaan atau instansi memerlukan tenaga kerja yang memiliki pendidikan tinggi. Meskipun hal itu tidak menjamin kemampuan yang dimiliki, namun ijazah sudah menjadi modal utama mendapatklan pekerjaan, " ujar gadis yang hobi membaca dan menonton drama
Sedangkan Desiree Natalia Poputra berpendapat, ada juga yang memiliki sekolah tinggi, tapi masih menganggur. Karena dalam proses pendidikan, pelajar ini tidak mengikuti dengan baik, sehingga kualitasnya dibawa standar.
"Bukan hanya orang yang tidak sekolah yang menganggur. Melainkan banyak juga sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan. Karena tidak memiliki bekal yang maksimal saat duduk di bangku pendidikan, " kata gadis kelahirran Manado, 6 Januari 1996
Agnes Pratiwi Senduk menjelaskan, mendapatkan pekerjaan yang layak juga dipengaruhi oleh faktor keberuntungan dan koneksi. Karena meskipun orang pintar, nmaun belum menjamin mendapatkan pekerjaan yang layak.
"Saat ini uang yang lebih berkuasa. Selain itu memiliki koneksi atau orang dalam juga bisa membantu dalam mendapatkan pekerjaan. Meskipun hal ini sangat tidak adil namun sudah menjadi tradisi dan kebiasaan buruk di bangsa ini yang sulit untuk dirubah, kecuali ada komitmen dan ketegasan dari pribadi masing-masing, serta pemerintah, " kata Agnes yang memiliki mottop Never Give Up
Steven Michael mengatakan, pendidikan yang tinggi juga tidak menjamin pekerjjaan yang layak, karena saat ini berbagai instansi maupun perusaahan swasta lebih mencari tenaga kerja yang memiliki keterampilan.
"Orang yang pintar secara ilmu pengetahuan saja belum tentu sukses. Keterampiln berbahasa asing dan penggunaan teknologi paling diutamakan dalam mendapatkan pekerjaan yang bagus, " ungkap Steven yang hobi bermain Basket
Julia Vania Felicya Bahter mengungkapkan, setiap manusia diciptakan oleh Tuhan dengan kelebihan dan keterampilan yang berbeda-beda, tinggal bagaimana caranya untuk mengembangkan skill itu.
"Skill itu perlu diasah, dan dikembangkan. Karena pengetahuan secara teori saja tidak cukup, harus diimbangi dengan praktek dan aplikasinya di dunia kerja, " tutur Julia yang bercita-cita menjadi dokter
Teresa Maria Pontoh, menjelaskan, selain pemerintah yang harus bertanggungjawab untuk menciptakan lapangan pekerjaan, masyarakat juga wajib mencari solusi sendiri. Karena semuanya kembali lagi ke pribadi masing-masing.
"Banyak lapangan pekerjaan, namun kalau tidak adausaha dari masyarakat untuk memperoleh pekerjaan itu, semuanya akan seia-sia, " siswi yang duduk di kelas XII IPA 3.
Ketua Osis SMA Frater Don Bosco ini menambahkan, menjadi orang sukses, bukan berarti harus bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang memuaskan.
"Orang yang sukses adalah mereka bisa berhasil dengan keterampilan yang mereka bisa hidup mandiri. Apalagi saat ini kan sulit mendapatkan pekerjaan, kita bisa membuka usaha secara mandiri. Di sini kita juga ikut berperan membuka lapangan pekerjaan buat orang lain, " ujar gadis kelahiran Manado, 28 Oktober 1995. (joice)
- Nama: Teresa Maria Pontoh
- TTL: Manado, 28 Oktober 1995
- Sekolah: SMA Frater Don Bosco Manado
- Kelas: XII IPA 3
- Hobi: Membaca Cerita
- Motto: Hidup Adalah Anugerah
- Cita-cita: Menjadi Dokter
- Nama: Inriani Regina Tumbel
- TTL: Manado, 24 Desember 1995
- Sekolah: SMA Frater Don Bosco Manado
- Kelas: XII IPA I
- Hobi: Membaca dan menonton drama
- Motto: Look Choose and Be The Best
- Cita-cita: Konsultan Pajak
- Nama: Desiree Natalia Poputra
- TTL: Manado, 6 Januari 1996
- Sekolah: SMA Frater Don Bosco Manado
- Kelas: XII IPA I
- Hobi: Memebaca dan Main Game
- Motto: Being Good and Not Enough
- Cita-cita: Akuntan
- Nama : Agnes Pratiwi Senduk
- TTL : Tomohon 24 Februari 1996
- Sekolah: SMA Frater Don Bosco Manado
- Kelas: XII IPA 3
- Hobi: Dengar Musik Korea
- Motto: Never Give Up
- Cita-cita : Menjadi Dosen
- Nama: Edwin Triyuwono
- TTL: Makassar, 21 September 1995
- Sekolah: SMA Frater Don Bosco Manado
- Kelas: XII IPS 1
- Hobi: Membaca Buku
- Motto: We'll Never Know Until We Try It
- Cita-cita: Akuntan
- Nama : Steven Michael
- TTL: Manado, 3 September 1994
- Sekolah: SMA Frater Don Bosco Manado
- Kelas: XII IPS 1
- Hobi: Bermain Basket
- Motto: Raihlah Sesuatu Sebelum Terlambat
- Cita-cita: Menjadi seorang Akuntan
- Nama: Julia Vania Felicya Bahter
- TTL: Palu, 19 Juli 1996
- Sekolah: SMA Frater Don Bosco Manado
- Kelas: XII IPA 2
- Hobi: Membaca dan dengar Musik
- Motto: There are we a lot of opportunity for tomorrow
- Cita-cita: Menjadi Dokter