Senin, 16 Juli 2012

Novi Selamatkan Anaknya

* Api Ludeskan 8 Rumah di Tanjung Batu
* Juga Kantor Disbudpar Sulut dan 2 Gedung SD

MANADO,TRIBUN- Wajah Novi Mebinta (41) terlihat lesu ketika menyaksikan rumah tinggalnya di  Tanjung Batu, Lingkungan IV, Kecamatan Wanea  Manado dilalap jago merah, Senin (1/7/2012) sekitar pukul 02.15 Wita. Namun, Novi merasa bersyukur lantaran dia sempat menyelamatkan dua anaknya dari dalam rumah.

Kobaran api meludeskan delapan rumah penduduk,  gedung SD Negeri 08 dan SD Negeri  17 Manado serta Kantor  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Kesedihan Novi  tak tertahankan menatap rumah peninggalan mertuanya  telah rata dengan tanah.
Novi trenyuh  menyaksikan kobaran api yang tengah melalap rumah mereka.
Novi
mengatakakan, saat terjadi kebakaran yang pertama terbesit dalam pikirannya adalah menyelamatkan kedua anaknya yang sedang tidur di kamar. Dia bergegas membangunkan mereka dan membawa ke luar rumah. 
"Beruntung kita terbangun, jadi langsung bawa lari anak-anak. Sudah tidak pikir lagi  itu barang-barang, yang penting selamat,"kata Novi yang mengaku  tak ada harta tersisa, kecuali pakaian di badan. "Tidak ada barang yang bisa diselamatkan. Sekarang tidak tahu kami akan tinggal di mana," ujar Novi berusaha tegar.
Novi menceritakan,  awalnya dia mendengar suara petasan yang sangat keras di rumah iparnya Rangkang-Tendean yang terletak di bagian depan rumahnya. Udara di dalam kamar tidurnya yang terasa panas membuat dia tersentak lalu keluar mengecek apa yang terjadi. Ternyata api sudah membesar. Dia pun masuk ke dalam kamar membangunkan kedua anaknya. "Kami tidak bisa keluar melalui depan rumah karena api sudah besar jadi lewat jalan belakang sambil berteriak minta tolong. Istri dan anak saya yang kedua tidak ada di rumah," tambah Novi.
Novi  mengaku baru saja menjalani operasi tumor bulan lalu. Dia  memperlihatkan alat bantu keteter yang masih terpasang.  "Semua uang telah habis untuk operasi sekarang datang musibah seperti ini. Kita mungkin tinggal menunggu bantuan orang lain." ujar Novi yang mengaku tidak tahu bagaimana menghidupi keluarga karena kondisinya yang masih butuh istirahat kerja pasca operasi. "Tapi saya yakin pasti Tuhan sudah siapkan yang lebih baik," tambah Novi.
Pantauan Tribun Manado, api menghanguskan 8 unit rumah penduduk, 2 gedung sekola dan satu bangunan perkantoran. Api baru bisa dipadamkan sekitar pukul 05.00 Wita.  Sejumlah warga berusaha sebisa mungkin memadamkan api namun usaha itu sia-sia karena api terlampau besar. Warga lain pun sibuk menyelamatkan rumah dan barang-barang mereka karena kebakaran terjadi di tengah pemukiman padat penduduk. 
John Kesek, kepala lingkungan IV menjelaskan, delapan rumah warga yang terbakar  itu milik keluarga Rangkang-Tendean, Mebinta-Rangkang, Kaunang-Pasla, Kaunang-Rawung, Vina Angkow, Kaunang-Yosep, Rotinsulu-Badih dan  Mambu-Kaligis. Jumlah total korban 18 kepala keluarga dengan 94 jiwa.
Api diduga berasal dari rumah keluarga Rangkang-Tendean dengan cepat merambat ke rumah lainnya, termasuk gedung Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulut, Sekolah Dasar Negeri 08 dan SD Negeri 17 Manado. Kerugian diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Sampai kemarin bantuan bagi korban, menurut John Kesek,  datang dari Dinas Sosial Provinsi Sulut  dan Kota Manado dalam bentuk makanan serta Dinas Kesehatan Kota Manado. Kapolsek Wanea Kompol Alfaris Pattiwael saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya masih menyelidiki kasus kebakaran tersebut. "Masih dalam penyelidikan," tandas Alfaris. (ald/tos)

-- sidebar HL --

Mobil Tanpa Air

KEBAKARAN hebat  di Jalan Sam Ratulangi 28, tepatnya di Kelurahan Tanjung Batu Lingkungan IV kecamatan Wanea meninggalkan kesedihan mendalam bagi  Hesky Mebinta (16).
Menurut siswa kelas 2 SMA ini,  jika mobil pemadam kebakaran datang lebih cepat ke lokasi kebakaran maka api tidak akan menghanguskan delapan unit rumah, dua gedung SD dan satu kantor. "Hampir sejam kemudian mobil kebakaran baru tiba di sini," ungkap Hesky kepada Tribun Manado, Minggu (1/7).
Menurut dia, selain datang terlambat satu dari tiga mobil yang dikerahkan  tidak berisi air. "Satu mobil datang kosong,  tanpa air sehingga harus balik mengisi air. Baru setengah jam kemudian kembali," ujar Hesky. Hesky mengaku tidak tahu harus bagaimana karena seragam sekolah dan buku pelajaran  miliknya ludes terbakar bersama rumah. 
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Manado Ferry Tumewan membantah  ada mobil yang datang tanpa air saat memadamkan api dalam kebakaran di Tanjung Batu.  "Itu tidak benar. Semua mobil siap beroperasi 1x24 jam dengan full air. Kalau tidak percaya boleh periksa sekarang," ungkapnya saat dikonfirmasi Tribun Manado, Minggu (1/7) malam.
Dijelaskannya,  guna mengatasi kebakaran tersebut, ada tujuh mobil yang diterjunkan ke lapangan. Namun,  ada satu mobil yang mengalami gangguan teknis. "Bukannya tidak ada air tapi air di tangki tidak keluar saat mau dipakai. Itu ada gangguan teknis karena ada warga yang coba-coba bantu tapi justru merusak alat di mobil pemadam itu," jelasnya. Mesi demikian, Tumewan mengakui petugasnya terlambat sampai ke lokasi. "Anggota terlambat bukan karena baru mengisi air atau apa, tapi warga di situ yang terlambat kasih informasi," ujarnya.
Menurutnya,  keterlambatan informasi menyebabkan petugasnya tiba di lokasi saat api hampir melahap habis semua bangunan. "Itu kan kejadiannya jam 2 subuh jadi warga tidak cepat tanggap," katanya. Dari kejadian ini,  Tumewan  berharap warga proaktif dalam memberikan informasi jika ada peristiwa kebakaran. "Dari dulu nomor telepon pemadam hanya satu 0431-864444. Jika ada kebakaran harap langsung kontak ke nomor ini," ungkapnya.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kota Manado,  Dante Tombeg yang ditemui di lokasi kejadian kemarin  mengatakan upaya pertama yang dilakukan adalah menyelamatkan  aset yang masih bisa dimanfaatkan dari gedung sekolah yang terbakar itu.  Langkah kedua,  mengupayakan agar proses belajar-mengajar bisa berjalan sebagaimana biasa . "Kita akan coba  memanfaatkan sekolah lain secara bergantian," terang Tombeg.Langkah  berikutnya adalah melaporkan ke pemerintah daerah dan pemeritah pusat agar bisa membantu dana pembangunan kembali gedung sekolah melalui pos  bantuan bencana. "Kita akan upayakan berbagai cara agar ada proses pembangunan kembali gedung sekolah," kata Tombeg. (ald/dit)

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...