"PERANG media semakin mematikan. Setelah revolusi televisi dan
HP, kini datang pesaing baru yaitu facebook dan twitter! Lama-lama
profesi jurnalis tidak dibutuhkan lagi. Kita bakal menganggur. Bahaya
besar bung."
Demikian komentar seorang wartawan senior dalam suatu diskusi belum lama
berselang. "Sekarang media massa cetak dan elektronik mau tidak mau
harus mengembangkan citizen journalism atau jurnalisme warga. Warga
biasa pun bisa melaporkan suatu peristiwa atau kejadian. Nah, kalau
sudah seperti itu untuk apa lagi wartawan sungguhan?" lanjut editor
koran terbitan Jakarta tersebut.
Jujur saja tuan dan puan. Di antara sekian banyak profesi, wartawan
tergolong yang paling gundah menghadapi kemajuan teknologi informasi
dewasa ini. Cemas karena perang media makin terbuka dengan akibat yang
pasti hanya satu. Tidak cepat beradaptasi maka akan mati sendiri.
Apa yang dikhawatirkan editor senior dalam suatu
diskusi itu cukup beralasan. Setelah facebook menjadi primadona dunia
maya lewat layanannya yang mempertemukan manusia sejagat, merajut
komunikasi interaktif dalam komunitas, kini kehadiran microblogging
Twitter (twitter.com) pun kembali mencengangkan. Twitter yang setiap
pesan cuma 140 karakter menjadi momok menakutkan industri media massa
arus utama, baik media cetak, elektronik maupun online.
Alan Rusbridger, kolumnis teknologi
Guardian.co.uk, 19 November 2010 merilis artikel mengenai alasan mengapa
Twitter bisa menjadi masalah bagi industri media. Rusbridger tidak
bermaksud menakut-nakuti media massa, tetapi mengingatkan. Rusbridger
justru menyarankan pengelola media berdamai dan tidak malu mengadopsi
kelebihan Twitter dalam mendistribusikan kontennya.
Twitter yang online sejak 15 Juli 2006 kini makin
populer. Dalam kesibukan tinggi, penggemar dunia maya mengurangi
frekwensi main blog dengan membuat tulisan panjang lebar. Di Twitter,
tuan dan puan cukup berkicau seperti burung tentang apa yang terjadi.
Pesanmu segera terkirim secara berantai.Twitter yang dikembangkan Jack
Dorsey merupakan pesan singkat (SMS). SMS Internet!
Lalu mengapa media arus utama perlu mewaspadai
Twitter? Beta kutip sejumlah alasan menurut Rusbridger. Distribusinya
mengagumkan. Pesan via Twitter akan mengantarkan siapa pun ke situs yang
alamat domainnya sudah dipendekkan. Pesan serentak tersebar luas.
Makanya hampir setiap situs yang sadar media sosial melengkapi fitur
webnya dengan share on Twitter.
Twitter menempatkan peristiwa lebih dahulu.
Banyak berita pertama muncul di Twitter sebelum jurnalis melaporkannya
di media arus utama. Breaking news bisa langsung diperoleh dari Twitter.
Twitter menjadi rujukan para jurnalis mendapatkan informasi awal
tentang suatu peristiwa.
Sebagai mesin pencari, Twitter adalah saingan
utama Google. Pengguna Twitter yang jumlahnya 200-an juta tidak lagi
mencari informasi via Google, tetapi langsung memperoleh dari jutaan
tweet setiap saat. Twitter pun menyajikan model pemasaran yang
fantastis. Postingan yang ditulis di web akan lebih cepat tersebar jika
dibagi ke Twitter karena memungkinkan sebuah pesan terus bergulir.
Kelebihan Twitter memungkinkan pengguna
berinteraksi aktif mengenai topik yang dibicarakan. Pada media
tradisional, hanya segelintir pembaca, pemirsa atau pendengar yang bisa
memberikan umpan balik. Di Twitter, setiap orang bisa berkicau sehingga
diskusi sangat kaya.
Jangan lupa orang mungkin tidak berani menulis di
koran, majalah atau bicara di televisi dan radio. Di Twitter keberanian
itu terungkap dengan lugas. Orang menjadi aktif menyampaikan
gagasannya. Interaksi di Twitter tidak mengenal batas eselon atau
hirarki. Orang biasa pun bisa berinteraksi secara intens dengan menteri.
Twitter punya nilai berbeda. Untuk informasi,
orang tidak lagi bergantung kepada jurnalis profesional sebab jutaan
tweep siap berbagi informasi kapan dan di mana saja. Itulah yang
sekarang populer disebut sebagai jurnalis warga (baca
http://tekno.kompas.com/read/2010/11/26/09243023/Waspadai. Twitter).
Nah di tempat beta berkarya, Surat Kabar Harian
Pos Kupang yang 1 Desember 2010 genap berusia 18 tahun, jurnalis warga
bermunculan bak jamur di musim hujan. Sejak ruang itu dibuka pada bulan
September 2010, hampir tiap hari selalu ada warga Flobamora entah
berdomisili di NTT atau di luar NTT yang melaporkan suatu peristiwa atau
kejadian.
Laporan mereka sungguh tidak kalah dengan
wartawan yang dididik secara khusus. Mereka paham prinsip 5W + 1 H yang
menjadi rumus kunci jurnalistik. Mereka pun menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar. Just what happen. Itulah inti laporan dengan
panjang maksimum 100-150 kata. Memang ada yang masih salah mengerti,
misalnya kirim laporan lebih dari 1.500 kata. Ada juga yang kirim
artikel opini. He-he-he..
Ya, kami maklum. Keliru kan manusiawi. Yang
pasti putra- putri Flobamora punya bakat alam sebagai penulis. Kalau
soal tulis-menulis, Flobamora ini gudangnya bung!
Demikian salah satu cara kami beradaptasi
menghadapi perang media yang bisa mematikan. Jadi, tuan dan puan di mana
saja berada silahkan kirim laporan ke redaksi lewat faksimil (0380-
831801), e-mail: poskpg@yahoo.com atau akun Facebook Pos Kupang. Tentu
saja kami akan rilis laporan yang bermanfaat bagi banyak orang di Nusa
Tenggara Timur. Bukan caci maki seseorang atau fitnah.
Pesatnya perkembangan jurnalisme warga, apa
maknanya bagi jurnalis profesional? Ya tahu dirilah. Kurangi aksi
'kancing badan' atau bagaya seolah-olah kita paling tahu dan mampu dalam
segala hal. Jangan lupa kawan, masyarakat di luar sana sudah melek
media. Mereka paham dan tahu tentang cara kerja media. Dan, media
pilihan kini kian beragam jumlahnya. Celaka sembilan belas kalau
jurnalis profesional berhenti belajar. Bisa nganga! Ha-ha-ha...
(dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang Senin, 29 November 2010 halaman 1
