BERITA itu mungkin tak terlalu penting bagi orang-orang penting
yang sedang fokuskan perhatian serta energi menghadapi pemilihan umum
kepala daerah di sejumlah tempat di beranda Flobamora. Boleh jadi kabar
itu tak menarik bagi mereka yang sedang terpukau oleh sinetron politik
Bank Century yang saban hari menghiasi layar televisi.
Di Kabupaten Sikka, manajemen RSUD TC Hillers Maumere kewalahan melayani
pasien suspek DBD (demam berdarah) dan penyakit lainnya yang masuk ke
rumah sakit itu. Jumlah pasien sudah melebihi kapasitas rumah sakit.
Tempat tidur tak lagi cukup bagi pasien tetapi mereka mau bertahan untuk
mendapatkan perawatan.
Membludaknya pasien menyebabkan petugas medis kelelahan. Bahkan hari
Selasa pekan lalu dua orang perawat di ruangan anak, pingsan saat
merawat pasien DBD. Tak ada yang sangat istimewa dalam peristiwa ini.
Kapasitas rumah sakit tidak mampu menampung pasien adalah hal biasa di
beranda Flobamora. Demikian pula petugas medis kewalahan adalah wajar
mengingat pasien yang mereka layani sangat banyak. Toh kenyataan seperti
ini tidak cuma terjadi di Maumere. Di Kota Kupang, Atambua, Ende dan
kota lainnya juga tersembul fakta yang mirip.
Namun, peristiwa ini tetap menarik karena
penyakit demam berdarah yang kembali mewabah di bumi Flobamora
menunjukkan sinyal kuat tentang "virus pembiaran". Virus perilaku itu
jauh lebih kejam ketimbang virus demam berdarah sendiri.
Setiap kali demam berdarah menerjang, orang
dengan enteng "mengakui" sekadar siklus tahunan. Orang lupa terhadap
sesuatu yang lebih penting yakni konsistensi menjaga kebersihan
lingkungan. Tatkala sehat kita lengah. Saat sakit baru tuan dan puan
menyadari pentingnya menjaga kesehatan, pentingnya ikut membersihkan
lingkungan hunian agar nyamuk pembunuh itu tidak beranak pinak amat
lekas.
Virus pembiaran pula yang dipelihara sehingga
warta tentang kapasitas rumah sakit tak mampu menampung pasien masih
terdengar hingga hari ini. Bertahun- tahun kejadian serupa selalu
terulang. Kita biarkan. Biarkan berlalu bersama sang waktu. Jangankan
Maumere yang cuma kota kabupaten di Flores itu. Rumah sakit rujukan bagi
seluruh rakyat Nusa Tenggara Timur di Kota Kupang pun mengalami nasib
yang sama. Pasien kesulitan mendapatkan tempat tidur bukan kabar baru.
Samalah dengan kabar minimnya bupati/walikota
atau pimpinan Dewan yang sedang menjabat masuk RSU Kupang. Ayo, siapa
yang kerap mendengar, melihat dan membezuk mereka yang sedang menjabat
dirawat di rumah sakit daerah sendiri? Kalaupun sempat waktunya tak
lama. Sekadar singgah untuk masa darurat.
Bukankah pemimpin daerah kita tidak percaya rumah
sakit sendiri? Kelas mereka (sekalipun cuma sakit demam, batuk, pilek)
paling sederhana rumah sakit number one di Denpasar, Surabaya atau
Jakarta. Bahkan lebih pantas rumah sakit di Singapura dan Malaysia.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) adalah tempat orang-orang seperti beta,
tuan dan puan yang tak berpunya. Jadi kalau virus pembiaran berbiak, ya
maklumilah. Yang menikmati rumah sakit daerah kan bukan mereka. Mereka
akan terus membiarkan keadaan sama terulang. Masa bupati atau anak
bupati mau dirawat di tempat tidur tambahan rumah sakit? Zonder level,
bung!
***
VIRUS pembiaran menganut prinsip diam-diam makan
dalam. Ketika tuan membiarkan sebuah penyimpangan atau penyalahgunaan
wewenang bergulir di depan mata, berarti tuan memuja virus pembiaran.
Manakala puan memilih diam melihat aksi juragan tambang (mangan) liar,
pengelola judi, pelacuran, kayu curian atau mereka yang berlindung di
balik bisnis "Spanyol" alias separo nyolong, maka puan menyuburkan virus
pembiaran.
Memang lumrah jika orang takut bersaksi tentang
kebenaran dan keadilan. Enggan berteriak lantang karena khawatir
kehilangan jabatan atau sirnanya keuntungan ragawi. Diam adalah cara
jitu membiarkan yang salah tetap salah. Pembiaran mengakibatkan negeri
ini lumpuh oleh korupsi, kolusi dan nepotisme, miskin serta tertinggal.
Pembiaran pula yang menyebabkan sinetron Bank Century belum juga
memasuki episode terakhir. Bahkan semakin deras menyiarkan kabar kabur
dan gosip. Begitulah kejamnya virus pembiaran.
Ketika bibit jagung berbuah masalah, koperasi tak
bersinar terang dan mimpi Flobamora kembali menjadi gudang ternak
terdengar sayup, sebuah proses pembiaran patut diduga sedang berjingkrak
riang di beranda Flobamora. Banyak orang bersorak, biarkan propinsi
jagung gagal, biarkan koperasi jalan di tempat, biarkan tekad
mengembalikan NTT sebagai gudang ternak sekadar slogan.
Diam-diam mereka berdendang, biarkanlah... karena
bukan beta yang bertanggung jawab. Sampai kapan pembiaran ini
berjalan? Sampai kapan yang kerja setengah hati bagi rakyat Flobamora
tetap dimanja? Sampai kapan yang tidak kompeten dan profesional
dipertahankan atas nama kebersamaan? Pembiaran hanya bisa dilawan
dengan keberanian mengambil keputusan. Berani bertindak tegas!
Sudah terlalu lama kita hidup di negeri
pembiaran. Biarkan kemiskinan menggunung. Biarkan korupsi merajalela.
Biarkanlah yang kuat kuasa terus bersenang-senang di atas penderitaan
sesama yang lemah.
Beragam wujud bencana alam, penyakit dan
malapetaka ternyata belum menyadarkan para pemimpin negeri untuk lebih
mencintai dan memberikan kasih sayang kepada rakyatnya. Tak apalah. Hari
ini rakyat mulai kehilangan kesabaran, empati dan simpati. Biarkan
saja? Ya, sudah! (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang Senin, 15 Februari 2010 halaman 1
