"OBAT yang dokter kasih tempo hari saya sudah minum semua. Tapi
sudah dua bulan ini saya tidak sembuh-sembuh juga. Saya sudah bilang,
saya ini tidak sakit apa-apa. Saya kena suanggi, dokter! Jadi, jangan
kasih saya obat lagi."
Dokter muda itu sesaat bingung harus menjawab apa. Pasien pria paruh
baya yang duduk di depannya mati-matian berdalih bahwa dia tidak sakit.
Dia batuk berkepanjangan sampai rongga dada terasa mau pecah semata
akibat suanggi dari tetangganya di kampung. Tetangganya itu iri hati
atas keberhasilannya dalam berkebun dan beternak.
Setelah mendengar keluhan pasiennya, Rita, dokter PTT yang baru
bertugas kurang dari enam bulan di sebuah Puskemas di pedalaman Pulau
Flores itu berusaha memberi penjelasan yang masuk akal.
"Pokoknya saya tidak mau. Orang lain dokter kasih
obat langsung sembuh. Saya tidak. Makanya dokter, saya tidak akan
datang lagi ambil obat di Puskemas ini," lanjut pria yang mengenakan
sarung tersebut. Tanpa menunggu reaksi lanjutan dari Dokter Rita, pria
itu pamit dan meninggalkan Puskemas. Dokter Rita yang baru bertugas
medio 2009 melepas kepergian pasiennya itu sambil geleng kepala.
Dia agak heran karena masih ada orang percaya
suanggi alias tukang santet. Kondisi tersebut mestinya sudah hilang
sejak sepuluh atau limabelas tahun lalu. Ternyata belum hilang.
Masyarakat di pedalaman masih percaya suanggi dan yang bisa melawan
serangan suanggi hanyalah dukun, bukan dokter atau paramedis.
"Pengalaman itu sangat berkesan. Saya kemudian
belajar untuk lebih memahami masyarakat. Butuh ketelatenan dalam memberi
pengertian tentang manfaat obat atau tentang bahaya suatu penyakit.
Dan, umumnya orang kampung lebih mudah percaya dengan melihat contoh,"
kata dokter muda tersebut.
Kiranya para dokter yang pernah bertugas di
pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki pengalaman yang unik dan
bervariasi. Beberapa waktu lalu seorang dokter PTT yang bertugas di
Kabupaten Ende menceritakan pengalaman lucu. Suatu ketika dia meminta
kepada kader Posyandu untuk mencari calon akseptor Keluarga Berencana
(KB). "Dok, akseptor KB itu saya bisa beli di Rumah Sakit atau apotek
to?" kata kader itu penuh semangat. Si dokter terbahak-bahak.
Kembali ke urusan suanggi, tuan dan puan serta
beta yang asli Flobamora sudah tidak kaget dan asing lagi. Dunia
persuanggian memang masih lengket dengan kehidupan sosial masyarakat di
ini propinsi. Hampir setiap suku bangsa di NTT mengenal suanggi. Yang
berbeda cuma sebutan seturut bahasa lokal masing- masing. Misalnya Ata
Polo, Alaut, U'en, Mnaka, Buan dan Janto.
Suanggi juga sangat populer di masyarakat Maluku
dan Papua. Tenaga medis yang berkarya di sana kerap direpotkan dengan
kepercayaan masyarakat tentang suanggi. Kalau sakit atau mati suanggi
dituding!
Begitu populernya suanggi sampai sejumlah pulau
dan tempat di Indonesia diberi nama suanggi. Ada pulau suanggi, batu
suanggi, rumah suanggi, pohon suanggi dan lainnya. Jika tuan dan puan
kurang percaya, silakan pakai mesin pencari di jagat maya dengan kata
kunci suanggi. Banyak nian kisah tentang suanggi. Ngeri!
Kisah suanggi paling menarik perhatian publik
pernah terjadi di Kabupaten Alor medio 1990-an. Ketika itu sejumlah
orang dibunuh gara-gara dicurigai sebagai suanggi. Sewaktu menjalani
sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kalabahi, pelaku pembunuhan bersikukuh
bahwa tindakannya benar. Dia membunuh karena 'kelompok suanggi' itu
menyusahkan masyarakat. Ketimbang mereka terus menyusahkan orang lain
maka lebih baik dihabisi. Wow! Majelis hakim tidak terpengaruh. Mereka
tetap berpatok pada ketentuan hukum. Menghilangkan nyawa orang lain
dengan motif apapun mesti diganjar hukuman setimpal.
Setelah belasan tahun berlalu kini muncul lagi
kasus suanggi di Rote, pulau terselatan NKRI. Yunus Ndun (44), warga
Nafioen, Desa Lidor di Kecamatan Rote Barat Laut, ditembak dengan
senjata api rakitan oleh dua orang yang menuduhnya sebagai suanggi, Rabu
(1/9/2010) malam. Yunus menderita luka serius di paha kanan dan pantat.
Dia mendapat perawatan di RSUD Ba'a. Namun, karena lukanya cukup serius
maka dirujuk ke RSU Prof. Dr. WZ Johannes-Kupang.
Menurut Kasat Reskrim Polres Rote Ndao, Iptu
David Candra Babega, polisi sudah menangkap dua pria yang diduga
menembak Yunus, yakti Elias Ello dan Osias Ello. Bagaimana akhir kisah
penembakan bermotif suanggi ini, ya kita tunggu saja hasil kerja aparat
penegak hukum di Rote Ndao. Yang bisa kita petik dari peristiwa ini
adalah suanggi bisa memicu orang bertindak nekat. Menembak bahkan
membunuh sesama yang belum tentu bersalah sebagaimana disangkakan.
Omong-omong soal suanggi, rasanya bukan milik
orang kampung saja, kawan! Sebagian orang yang hidup di kota dengan
kapasitas sangat terpelajar pun masih percaya kekuatan suanggi. Mereka
biasanya punya kedudukan penting di suatu instansi. Mereka amat takut
kehilangan kedudukan sehingga mencari segala cara untuk mengamankan diri
termasuk pakai sihir suanggi. Menggunakan jasa "orang pintar" agar
kebal dari gempuran orang lain yang dianggap lawan. Padahal kemungkinan
besar mereka yang punya kedudukan itu hanya takut pada bayangan
sendiri. He-he-he...
Sesungguhnya 'suanggi modern' berkeliaran bebas
di banyak tempat. Hidup di sekitar kita. Siapakah mereka? Ya, itu yang
suka sedot uang negara masuk kantong pribadi. Yang doyan peras pakai
kuasa dan wewenang. Yang tak peduli kasus gizi buruk, kematian balita
dan ibu hamil. Yang jual murah kekayaan alam kepada pemilik modal tanpa
pertimbangkan kelestarian alam. Yang suka terbang hingga ke ujung dunia
menggunakan fasilitas dari uang rakyat. Apa bedanya dengan suanggi? Toh
sama saja. Jahat! Sama-sama menyusahkan orang. Membunuh! Atau karmana
menurut pendapat suanggi. Eh, tuan dan puan? (dionbata@gmail.com)
Sumber: Pos Kupang edisi Senin, 6 September 2010 halaman 1
