
MERDEKA! Tak terasa usia negara tercinta bertambah satu tahun
lagi. Kali ini kita merayakan hari ulang tahun ke-65 Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Selamat ulang tahun tanah tumpah darah.
Semoga bahagia selalu dan panjang usia.
Tuan dan puan bahagia sebagai orang Indonesia? Silakan jawab sendiri.
He-he-he. Beta sendiri bahagia untuk dua alasan. Pertama, bahagia lahir
di sebuah kampung udik di Pulau Flores. Flores itu bagian dari Propinsi
Nusa Tenggara Timur (NTT). Dan, NTT merupakan bagian dari NKRI. Jadi,
kalau beta pegang kartu tanda penduduk (KTP) atau pasport berlogo burung
Garuda itu sah dan diakui dunia internasional.
Kedua, beta bahagia karena NKRI masih tegak berdiri. Syukur kepada Tuhan
yang Maha Kasih atas anugerah cuma-cuma ini. Seburuk-buruknya tata
kelola ini negeri, Indonesia masih dipayungi Pancasila dan UUD 1945 yang
telah diamandemen tanpa mengubah pembukaan. Bayangkan kalau seandainya
pembukaan UUD 1945 berhasil diobok-obok? Ngeri kawan!
Artinya, fondasi negara kesatuan yang diletakkan
para Bapak dan Ibu Bangsa masih berada di rel cita-cita Proklamasi
Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Karena itu beta berharap usia Indonesia
masih terus bertambah. Sekurang-kurangnya tambah usia setahun lagi.
Mengapa tidak berharap NKRI hidup seribu tahun lagi? Eitt....sabar dulu.
Jangan buru-buru memvonis diriku cuma berpikir negatif.
Sebagai orang Indonesia asli (siapa yang tidak
asli?) beta haqul yakin tuan dan puan juga melihat sejumlah keganjilan
yang kian marak di persada Nusantara. Tidak jauh dari ibu kota negara,
sekadar beribadat pun makin sulit dan dipersulit. Umat beragama yang
sedang menjalankan ibadah dipukul, ditendang dan diusir oleh saudara
sebangsa dan setanah air.
Kelompok organisasi massa berbasis agama kian
rajin menekan pihak-pihak yang mereka anggap tidak sepaham dengan
keyakinannya. Aksi mereka seolah tanpa kendala bahkan terkesan ditopang
"tangan-tangan" tertentu yang kuat kuasa. Masuk akal jika pecinta damai
di negeri ini prihatin dan sedih.
Aksi kekerasan semacam itu merupakan pertanda
kuat munculnya kembali dominasi orang yang mengatasnamakan kelompok
mayoritas untuk "menghabisi" minoritas. Jika tidak segera diatasi,
kecenderungan itu merupakan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Bom
waktu itu akan meremuk-redamkan NKRI.
Aksi kekerasan terhadap kelompok umat beragama
tertentu sudah berulang kali terjadi di depan mata polisi, pejabat
pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Mereka bereaksi cepat dengan
prinsip panas-panas tahi ayam. Berkata keras sesaat setelah kejadian.
Mengimbau dan mendesak tumbuhkan toleransi sebagai jalan ampuh bagi
negeri pluralis. Demi keharmonisan bangsa bhineka tunggal ika. Tapi
bisanya ya cuma sebatas kata-kata itu. Aksi konkret no! Keberanian dan
ketegasan pemimpin negara melindungi seluruh rakyat Indonesia cuma omong
doang! Maka yang bringas atas nama mayoritas kian binal. Liar dan
arogan! Nah, menurut kaum cerdik cendekia, ketika negara tak sanggup
lagi melindungi seluruh rakyat, negara itu menuju kegagalan alias
negara gagal.
Hari Minggu 15 Agustus 2010 atau dua hari
menjelang HUT ke-65 RI, sekitar 1.500 orang Indonesia yang tergabung
dalam Forum Solidaritas Kerukunan Umat Beragama (FSKUB) beraksi di depan
Istana Negara-Jakarta. Dalam aksi damai tersebut mereka menuntut
pemerintah bersikap tegas terhadap aksi kekerasan yang mengancam
kerukunan beragama.
Anak SD pun tahu Istana Negara Jakarta adalah
simbol kekuasaan pemerintah RI. Di situ ada kantor presiden. Tempat
kepala negara bekerja. Mudah-mudahan pemimpin negeri tersentuh hatinya.
Terbuka pandangannya bahwa kerukunan hidup warga bangsa sedang terluka.
Tidak perlu malu mengakui kelompok minoritas merasa frustrasi dan
tertindas. Inilah salah satu kado HUT ke-65 RI.
Dalam lamun tak karuan di tengah Kota Karang
Kupang, batin bertanya apakah mungkin negara bernama Republik Indonesia
akan merayakan usia satu abad, dua abad atau seribu tahun? Kegalauan
bergelayut di usia 65 tahun. Ada tangis. Ada luka menganga. Di
mana-mana. Ketika kemajemukan tidak diterima sebagai kekayaan Ibu
Pertiwi, siapa menjamin Indonesia akan ada selama-lamanya? Dirgayahu RI.
(dionbata@gmail.com)
Pos Kupang edisi Senin, 16 Agustus 2010 halaman 1