MALAM menjelang larut. Ringkih tertatih. Gerimis menyelimuti
sepi. Udara pegunungan Timor yang dingin di awal Mei nakal menyelinap
lewat jendela kaca nako yang pecah. Sesekali suara angin menderu-deru
sampai jauh. Eliazar duduk terpekur di beranda gubuk berdinding bebak
itu. Pikirannya melayang jauh...
Nahor, putra semata wayangnya pergi entah ke mana. "Hampir pasti Nahor
akan pulang dinihari lagi. Seperti hari-hari sebelumnya," kata Eliazar
membuka pembicaraan. Pria dengan uban di kepala itu menarik napas
panjang lalu meluncurlah kisah dari balik bibirnya yang kerontang.
"Mangan dan uang telah menghancurkan rumah tangga anak saya," ujarnya.
Getir menyeruak dari suara bas Eliazar.
Nahor adalah anak yang berbakti kepada orangtua.
Lebih dari itu dia seorang suami yang setia dan ayah yang bertanggung
jawab terhadap putra-putrinya, cucu Eliazar. Nahor rajin berkebun,
cekatan memberi makan sapi paron dan sesekali mengisi waktu menjadi
tukang ojek. Pendapatannya tak jauh beda dengan orang sekampung.
Pas-pasan saja tetapi mereka tak berkekurangan. Mereka masih bisa makan
dan minum sekurangnya dua kali sehari.
Suatu hari di awal tahun 2010 datang seorang
pengusaha mangan ke kampung Eliazar. Dia mencari orang-orang yang mau
menjadi kaki tangan sebagai pengumpul mangan dari masyarakat. Tanpa
berdiskusi lebih matang dengan ayahnya, Nahor memutuskan mau bekerja
sebagai pengumpul. Toh upah yang ditawarkan pengusaha berkulit putih,
rambut lurus dan mata agak sipit yang datang dari pulau seberang sungguh
menggiurkan. Jauh berbeda dengan penghasilan Nahor sebagai petani dan
tukang ojek musiman.
Bekerjalah Nahor sebagai pengumpul mangan dengan
modal dari pengusaha tadi. Hampir tiap hari dia melanglang buana dari
kampung ke kampung membeli mangan dari masyarakat. Ojek yang dulu muat
manusia, sekarang jadi tunggangan batu mangan. Jadilah dia obama (ojek
bawa mangan). Jika sudah terkumpul sekian banyak dia lapor ke bosnya
yang indekos di salah satu ibukota kabupaten di Pulau Timor. Sang bos
akan kirim dump truk pengangkut mangan untuk selanjutnya dibawa ke
Surabaya via Pelabuhan Tenau-Kupang.
Latar pendidikan SMA membantu Nahor mudah
beradaptasi dan cepat belajar. Nahor bekerja sungguh-sungguh dan
mengikuti petunjuk serta petuah bosnya. Dia paham bagaimana trik
menyelipkan uang pelicin buat pegawai berseragam agar urusan mangan
lancar. Dia hafal siapa saja yang bermain mangan di Timor, mulai dari
kelas keroco hingga orang-orang top manajer di lingkup pemerintahan,
partai politik dan instansi penegak hukum.
Nahor menjadi salah seorang staf lapangan yang
dipercaya bos. Selain upah bulanan, dia juga kerap mendapatkan
insentif. "Saya senang melihat penghasilannya meskipun semula saya
tidak suka dia kerja mangan. Tapi kesenanganku tidak lama karena setelah
punya uang, sikap Nahor berubah. Dia mulai ringan tangan terhadap istri
dan anak-anaknya," kata Eliazar. Uang memang mengubah Nahor. Mengubah
juga lingkungan pergaulan dan tabiatnya. Dari seorang petani di kampung
yang berteman dengan ilalang dan berkarib dengan sapi, dia masuk
kehidupan ala kota. Punya uang seolah merasa bisa segalanya.
Penghasilan yang jauh lebih baik malah tidak
membawa berkah bagi keluarga muda itu. Mangan tidak membawa nikmat.
Nahor mengelola uangnya sendiri, entah untuk apa dan buat siapa. Ketika
diomeli sang istri, tangan Nahor melayang. Kata-kata kasar meluncur
deras dari bibirnya yang merah bata karena kebiasaan mamah sirih pinang.
Isteri mana bisa bertahan dalam situasi demikian? Jika anak-anak
merengek sesuatu, tuan Nahor cuek bebek.
Sang isteri yang selama ini diam-diam belajar
tentang cara kerja Nahor jadi pengumpul mangan tak mau kalah dengan
suaminya. Perempuan itu beranikan diri melamar sebagai pengumpul mangan.
Ternyata ada pengusaha yang mau menggunakan tenaganya. Maka pasangan
suami isteri tersebut menjalani pekerjaan yang sama. Nahor meradang
ketika tahu sang isteri pun bisa! "Sejak isterinya bekerja, tabiat buruk
Nahor semakin menjadi-jadi. Tiada hari tanpa bertengkar. Tidak ada mau
yang mengalah," kata Eliazar, pria sepuh yang ditinggal mati isterinya
saat Nahor masih duduk di kelas satu SMA.
Cemburu buta ikut membumbui 'perseteruan' antara
Nahor dengan isterinya. Nahor menuduh isterinya selingkuh. Sang isteri
bilang Nahor punya wanita simpanan di kota. Gubuk bambu pun berubah
menjadi ring tinju dan kebun binatang. Hampir semua nama binatang
dilitani manakala Nahor dan isterinya beradu mulut siang dan malam.
Anak-anak tak lagi dibelai dengan kasih. Keluarga Kristen yang dulu
rukun harmonis, tak rutin lagi ke gereja pada hari Minggu dan hari
raya. "Saya gagal nak. Saya malu sekali. Mengapa di usia senja begini
saya harus memikul salib yang sangat berat?" tutur Eliazar yang bagi
orang sekampung dipandang sebagai tokoh jemaat. Pemuka gereja.
Sepekan menjelang hari Kasih Sayang 14 Februari
2011, kasih di dalam rumah tangga Nahor benar-benar luruh. Sang isteri
pergi meninggalkan gubuk bebak bersama anak-anaknya. Dia pulang ke
kampung asal. Dia pergi tanpa pamit kepada Nahor, bahkan terhadap
mertuanya Eliazar. "Kalau Nahor dan isterinya pisah, silakan saja
karena mereka sudah dewasa. Saya hanya ingat nasib cucu-cucu saya," kata
Eliazar dengan suara bergetar. Tanpa sadar air bening meleleh di pipi
keriputnya.
Begitulah tuan dan puan. Tatkala Timor, Flores,
Sumba, Alor, Rote, Sabu dan Lembata menyadari karunia cuma-cuma berupa
hamparan mangan di mana-mana, banyak prahara menyertainya -- semisal
kisah nyata keluarga Eliazar di atas. Di kampung besar kita betapa
banyak air mata tumpah karena mangan. Mati sia-sia saat menggali mangan.
Terkubur hidup-hidup menghirup racun mangan. Keluarga remuk karena
mangan. Kakak adik berkelahi demi mangan. Pemerintah dan rakyat bakumaki
karena mangan yang dijual murah. Bukan salah mangan dikandung bumi
Flobamora. Manusialah yang serakah dan tidak tahu diri mengelola mangan
demi adab kehidupannya.
Di Timor, tempat beta hidup lebih dari dua
dasawarsa, kian banyak petani meninggalkan ladang, makin sepi gembala
meniup seruling di padang. Tofa rumput (cabut rumput) mulai lupa. Mamar
dan ladang padat ilalang. Timor dulu harum cendana wangi, terkenal
sampai ke India, tersiar hingga ke Tiongkok sana. Cendana melapuk. Habis
dibabat tak lebih dari setengah abad. Zaman berubah, kesadaran
memelihara bumi dan isinya justru makin tak karuan. Siapa yang pongah,
kita atau anak-anak Flobamora zaman batu? Sepuluh, dua puluh atau lima
puluh tahun dari sekarang, ada apa dengan Timor, Sumba, Flores, Alor dan
Lembata jika tuan mengeruk isi perutnya semata demi uang?
Percayalah, Timor akan menjadi tumor ganas, Sumba
menyumbang sengsara, Flores menuju fatamorgana dan Lembata luruh ke
lembah derita. Bumi memang diciptakan Tuhan untuk manusia. Namun, bumi
harus ditimang bijak, dicicipi dengan kasih. Duhai tuan dan puan!
Laksana pipit di padang sabana, teruslah bercicit demi bumi lestari
meski sayup mencabik nurani. Bumimu rumahmu. Tuan tega merusak rumah
sendiri? (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang edisi Senin, 16 Mei 2011 halaman 1
