Politik itu kotor tapi indahPenuh jebakan tapi rindu
menarik ingin
DUA
puluh tujuh tahun lalu di kala Kupang terik menggigit, panas suam-suam
masih dalam suasana pemilu yang selalu dimenangi Golkar, berkatalah
Kanis Pari kepada para pengurus dan kader Partai Demokrasi Indonesia
(PDI).
Politik itu
kotor tapi indah. Licin tapi menarik. Licik tapi resik. Repot tapi
asyik. Sulit tapi wajib. Ruwet tapi gairah. Berbahaya tapi mempesona.
Penuh jebakan tapi rindu menarik ingin. Jemu tetapi kembali selalu tetap
membelenggu. Penuh gejolak tapi semarak. Bisa diperhitungkan tapi
berantakan tidak terduga.
Pesan Bung Kanis dalam pembukaan Konfercab
Partai Demokrasi Indonesia bulan Mei tahun 1982 seolah menemukan kembali
momentumnya hari-hari ini. Jakarta 14 Maret 2009. Di episentrumnya
gempa politik Republik Indonesia itu, tuan dan puan telah menyaksikan
satu peristiwa besar. Belasan tokoh lintas partai bersua muka, memadu
janji, mengikat aksi di kediaman Megawati Soekarnoputri.
Di rumah Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP) itu, di bawah bentangan kain Merah Putih, mereka
ikrarkan kebersamaan, menggugat hasil pemilu sekaligus memproklamirkan
posisi berseberangan jalan dengan partai yang diperkirakan memenangi
Pemilu Legislatif 2009.
Dalam foto berita dan tayangan media massa,
perempuan calon presiden dari PDIP itu tersenyum lebar. Bersama para
pemimpin partai yang namanya sangat populer bagi publik Ibu Pertiwi,
Megawati bergandeng tangan, erat meremas jari dan mereka sama
mengangkat kedua tangan tinggi tinggi. Mereka yang berbeda-beda mendadak
satu hati. Sehati sesuara menyatakan persatuan dan kebersamaan.
Pada hari yang sama di Banjar, Ciamis, Jawa
Barat, pada Selasa dinihari yang dingin, Sri Hayati (23), perempuan
caleg PKB yang sedang hamil empat bulan ditemukan tewas tergantung di
sebuah gubuk di tengah sawah. Banyak pihak termasuk suami dan anggota
keluarga menduga Sri memilih bunuh diri daripada menanggung malu karena
tidak terpilih menjadi anggota legislatif. Sri meninggalkan suami,
keluarga serta kerabatnya dengan cara itu ketimbang menerima kenyatan
bahwa rakyat Ciamis tak mencentang namanya.
Dua peristiwa itu menjelaskan bagaimana politisi menyikapi hasil (sementara) Pemilu 2009. Menerangkan betapa politik itu kotor tapi indah. Licin tapi menarik. Licik tapi resik, penuh jebakan tapi rindu menarik ingin. Di
Jakarta, petinggi partai dan elite politik nasional menyikapi
kekalahan dengan cara membangun semacam koalisi, persekongkolan atau
entah apa pun namanya untuk bersama menentang, menggugat, bahkan melawan
penyelenggara pemilu dan pemerintah yang dianggap menghadirkan pemilu
terburuk sepanjang sejarah RI.
Menarik nian melihat para aktor dan aktris yang
berperan di pentas. Mereka yang dulu bertolak belakang bak langit dan
bumi kini mendadak akur dan rukun. Penuh senyum, sarat tawa ria.
Berangkulan hangat. Mereka telah disatukan oleh "musuh bersama" bernama
pemenang pemilu. Pentas para aktor dan aktris besar politik itu
membuktikan kebenaran adagium, dalam politik tidak pernah ada
persahabatan maupun permusuhan abadi.
Bukankah tuan melihat Prabowo dan Wiranto
bergandengan tangan? Dan, puan menyaksikan Puan Maharani, Amelia Yani,
Megawati, Gus Dur, Sutiyoso, Bursah Zarnubi dan Rizal Ramli kini sehati?
Benarlah kata-kata Bung Kanis, masih di tahun 1982. Berpolitik
praktis itu berarti bertarung dengan kursi dan kuasa, babak karena
benturan, belur karena pukulan, bimbang hadap lawan bingung hadap kawan,
kalah tidak berkanjang menang tidak langgeng, kecewa gembira silih
berganti, khayal bisa mengawang untuk akhirnya patah frustrasi.
Berpolitik praktis adalah masuk bersilat taktik dan strategi di arena,
dengan akibat yang pasti hanya satu: siapa salah buka langkah dia
terlempar keluar gelanggang.
Ya, para aktor dan aktris politik besar di
Jakarta dan di NTT sekarang tengah bersilat taktik dan strategi.
Pamerkan cara buka langkah agar tidak jadi pecundang. Politisi besar
menunjukkan kepiawaiannya berakting manakala kepentingannya mulai
terancam, memperlihatkan keahlian mempraktikkan jurus silat lidah yang
mumpuni. Tak penting apakah jurus silat lidah dengan menjilat ludah sendiri atau menjilat orang lain yang dianggap dapat memperkuat posisinya. Tidak peduli apakah jurusnya pakai duit atau menjual harga diri.
Di situlah letak perbedaannya. Sri Hayati bukan
Megawati, bukan Yenny Wahid atau Puan Maharani. Politisi pemula seperti
Sri Hayati dari dusun Langkaplancar, Ciamis tak memiliki kecakapam
berakting atau jurus jitu guna memainkan akrobat politik menyikapi
kekalahan secara elegan.
Gempa politik membuatnya patah frustrasi. Sri
merasa tak berharga ketika pemilih di Ciamis tidak memilih dirinya. Ia
tak punya bekal kemampuan retoris untuk menjelaskan kegagalan itu kepada
suami tercinta, orangtua, saudara pun handai taulan. Sri malu karena
tidak terpilih. Rasa malu. Inilah yang membedakan Sri dengan para
politisi tingkat tinggi.
Rasanya Sri Hayati bukan hanya di Ciamis. Sri
yang lain ada juga di sini, beranda rumah besar Nusa Tenggara Timur.
Memang nasibnya belum setragis Sri Hayati tetapi yang patah frustrasi
tidaklah sedikit. Sebanyak 12.978 calon anggota legislatif (caleg)
memperebutkan 677 kursi DPR dan DPD RI, DPRD NTT dan DPRD kabupaten/kota
di NTT dalam pemilu tanggal 9 dan 14 April 2009.
Jumlah yang mencengangkan bukan? Misalkan
berdomisili di satu wilayah, mereka adalah warga satu kecamatan. Dengan
jatah hanya 677 yang menang, sisanya 12.301 sudah pasti mengurut dada
atau gigit jari karena gagal terpilih.
Tuan dan puan serta beta pasti tak ingin melihat
tragedi Sri Hayati di sini. Toh mereka bukan orang lain. Entah bernama
Yohana, Maria, Aminah, Nurhayati, Joseph, Abdulah, Ibrahim, Petrus,
Yohanes, Adrianus, Wayan, Samuel, Nikolaus, Made, Agustinus, Jonathan,
Markus, Madjid atau Nasrullah, mereka itu pastilah famili, kerabat,
kenalan kita. Jika politik itu licik, babak karena benturan belur karena pukulan,
mengapa malu jika tidak terpilih? Mengapa mesti omong omong sendiri,
pakai baju terbalik hingga gantung diri? (dionbata@poskupang.co.id)
Pos Kupang edisi Senin, 20 April 2009 halaman 1