Hai, Nusa Tenggara TimurMasih pantaskah tuan tidur-tiduran?
HARI
ini di hari yang mulai terik menggigit memasuki musim pancaroba, apalagi
yang kurang dari altar Nusa Tenggara Timur? Semua nyaris lengkap dan
sempurna. Tersaji rapi, elok dan apik di beranda rumah kita.
Kekerasan mengental bergumpal. Bergolak, menghentak, meledak-ledak
dengan wajah tanpa dosa. Tanpa penyesalan setetes pun. Bunuh-membunuh.
Bunuh diri dengan menggorok leher sendiri. Dingin nian menikam mati sang
kekasih, istri, suami atau saudara sendiri.
Di sini orang merasa boleh menyirami tubuh dengan
bensin atas nama cinta. Berlabelkan kasih sayang. Siram bensin sekujur
tubuh yang letih lalu tubuh itu dibakar. Kematian pasti bagi manusia.
Tapi haruskah mati dengan cara demikian?
Apa yang kurang di rumah Flobamora? Sel tahanan
bukan tempat yang aman. Sel itu ladang pembantaian. Kurung untuk
dibunuh. Di balik jeruji, di kamar tak seberapa luas serta pengap itu,
nyawa anak manusia yang mencari keadilan berakhir sadis. Tubuh kaku
terbujur tak padamkan amarah. Rongga dada baru terasa plong setelah potong alat vital. Gila!
Apa yang kurang dari NTT hari ini? Hampir semua
sudah melihat dan mendengar tentang pipi pejabat memerah, lebam, bengkak
entah karena dipukul, memukul atau bakupukul di depan umum. Luar biasa.
Ya, apa yang kurang? Bahkan seorang imam Tuhan,
gembala umat, rohaniwan "dihabisi" denyut kehidupannya dengan cara
menyayat hati. Sadisme sudah menjadi menu harian. Keramahan,
kelembutan, loyalitas makin mahal harganya. Telah demikian jauhkah
perubahan manusia Flobamora? Kita semakin kerdil-primitif atau kian
beradab?
Hukum meringkik genit. Menertawakan logika,
menebar ragu, menebalkan cemas. Bukti-bukti dicandatawakan. Canda tak
lucu. Tebang pilih bukan mimpi di hutan tandus sabana. Pohon kuat
kuasa, siapa berani babat? Kita bangga menghukum yang lemah. Berani cuma
pada kaum pinggiran.
Ranking survei korupsi number one,
tapi sakit masih bisa disinetronkan. Inspirasi opera sabun. Hasil
visum tergantung pesanan. Mau luput, gampang! Tersedia ahli yang
mengerti hidup. Yang bisa kerja sama asal sama mengerti maunya. Yang
salah bisa benar, yang benar disalahkan.
Kalau tuan dan puan jadi tersangka, ikut saja
modus yang sudah terbukti mumpuni. Sehari dua dalam tahanan, ekspresikan
muka pucat pasi, badan panas dingin, napas terengah-engah. Niscaya
penyidik akan iba. Dokter-perawat tak tega melihat. Tuan pindah ke rumah
sakit. Diperiksa lengkap serta tes laboratorium. Kuat kuasa, siapa
berani lawan? Kalau puan miskin papa sebaiknya tidak latah. Perkara
boleh sama, nasib bisa berbeda.
Apa yang kurang di beranda kita? Bekas galian
yang lupa tutup membunuh anak-anak tak berdosa. Ketika maut itu datang,
di manakah negara? Mereka tahu tapi tak mau menyahut. Tiga anak meregang
nyawa di kolam galian dalam dua bulan, bukan apa-apa. Toh mereka bukan siapa-siapa.
Es potong merenggut dua nyawa di Amanuban. Lebih
dari 100 orang dirawat. Es potong memotong kehidupan remaja kita yang
sedang gairah menatap hari depan. Es menanam derita, menimbun trauma
panjang. Si penjual es entah ke mana? Hai, Nusa Tenggara Timur, masih pantaskah tuan tidur-tiduran saja? Tidur lebih lama?
Setelah pembagian kamera gratis, setelah Lamalera
berjingkrak bangga memotret diri sendiri, datanglah kata konservasi.
Konservasi Laut Sawu demi ikan paus. Apa kabar nelayan Lamalera? Mari
sekejap membuka hati, mata dan otak. Ikan paus itu kehidupanmu.
Jatidirimu sejak berabad-abad lalu.
Setengah abad yang lalu Bung Karno sudah
berseru-seru. Siapa bilang kolonialisme telah mati? Kita junjung
konservasi. Kita konservasi untuk siapa? Yang gratis belum tentu tanpa
pamrih. Hak hidupmu. Jangan biarkan dia terenggut...
Semen Kupang ada menandai pesta perak Flobamora.
Duapuluh lima tahun kemudian, asap tak lagi mengepul di langit Alak.
Bara Semen Kupang padam saat NTT usia emas. Salah siapa, ini dosa siapa?
Sudah terlalu lama nasib kita bergantung pada orang. Diatur.
Diobok-obok pihak lain. Kita susah, di manakah mereka? Terlalu
mengada-adakah beta bertanya demikian? Bangkit NTT-ku. Bangkit dan raih
kembali kehormatan itu. "Jika pemimpin loyo, rakyat harus berani," kata Bung Kanis puluhan tahun lalu. Bayangkan kalau pemimpin juga berani?
Adakah yang kurang sempurna dari beranda
Flobamora? Sepanjang 2008 kita menggelar 12 pemilihan umum kepala
daerah dengan aman, sukses dan demokratis. Telah lahir duet pemimpin
eksekutif. Campuran wajah lama dan baru. Pemimpin yang lebih energik,
lebih menjanjikan banyak hal kepada rakyat.
Sekarang pemilu su dekat. Kita segera memilih
pemimpin lagi. Memilih "Yang Terhormat". Mestinya Nusa Tenggara Timur
lebih terhormat. Esok, mestinya tidak lagi terdengar kisah ini. Usai
upacara bendera alias apel kesadaran tanggal 17 dalam bulan berjalan,
sang kepala menatap wakil kepala. Dia bisikkan kata menantang, "Buktikan secara jantan bung! Beta tunggu di deker sana." Kalau pemimpin masih suka bakulipat, apa kata dunia? Flobamora yang letih tak perlu berkata lagi. Tertawa? Ah, tidak lucu kawan! (dionbata@poskupang.co.id)
Pos Kupang edisi Senin, 30 Maret 2009 halaman 1