Komodo diusik, NTT marahLanjutkan!
SIAPA tokoh paling tersohor menurut tuan dan puan selama sepekan
terakhir di beranda Flobamora? Bagi beta tokoh paling populer pekan ini
di kampung kita adalah Menteri Kehutanan (Menhut) RI, MS Kaban.
Tanggal 16 Juli 2009 atau sehari sebelum bom meledak di Hotel JW Marriot
dan Ritz Carlton Jakarta yang membunuh sembilan orang, Menhut melepas
40 ekor kura-kura berleher ular ke habitatnya di Danau Peto, Kabupaten
Rote Ndao. Peristiwa itu diliput secara luas oleh media massa lokal dan
nasional.
Dari pulau terselatan wilayah NKRI, Menhut
terbang ke Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Ada dua agenda Menhut
di ujung barat Flores sana. Pak menteri meninjau lokasi eksplorasi
tambang emas Batu Gosok serta Pulau Rinca dan Pulau Komodo, wilayah yang
masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).
Usai meninjau Batu Gosok, pak menteri menyampaikan pernyataan kepada
wartawan. Beta kutip ulang sepenggal pernyataan Menhut. "Kami lihat
kawasan Batu Gosok sangat jauh dari Taman Nasional Komodo. Tidak ada
kegiatan yang berdampak langsung terhadap TNK," katanya. Kontroversi
berbulan-bulan, reaksi penolakan terhadap eksplorasi tambang emas Batu
Gosok itu seolah berhenti pada pernyataan pak menteri yang punya
wewenang atas kawasan TNK. Lanjutkan! Toh Batu Gosok sangat jauh dari
TNK. Seberapa jauh makna pernyataan itu tuan dan puan tentu lebih tahu.
Saat meninjau Pulau Rinca dan Komodo hari Jumat 17 Juli 2009 pak
menteri buka rahasia kepada wartawan. Ternyata sejak 13 Mei 2009 dia
telah menandatangani Surat Keputusan (SK) Nomor 384/Menhut-II/2009 untuk
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Propinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT). Isinya memberi izin memindahkan 10 ekor komodo
dari kawasan konservasi alam Wae Wuul, Kecamatan Komodo ke Taman Safari
Denpasar, Bali.
Tujuan pemindahan untuk pemulihan genetik. Sepuluh ekor komodo terdiri
dari lima ekor jantan dan lima ekor komodo betina. Menurut data BBKSDA
NTT populasi komodo di Wae Wuul tinggal 17 ekor. Agar tidak punah mesti
pindah ke Bali. Mutasi 10 ekor berarti tersisa 7 ekor. SK Menhut merujuk
pada hasil kajian Pusat Penelitian Biologi LIPI yang menilai proses
pemurnian genetika binatang langka itu hanya dapat dilakukan di Taman
Safari Indonesia (TSI). Dan TSI hanya punya cabang di Denpasar. Tidak di
NTT. Masuk akal bukan?
Pernyataan Menhut itu bagaikan bom. Ledakannya dashyat mengguncang
rumah Flobamora. Gaung reaksinya bergetar hebat. Bahkan sampai detik
ini. Pemerintah Propinsi NTT bereaksi. Tegas nyatakan menolak. Para
bupati di daratan Flores juga demikian. Suara para wakil rakyat pun
senada. Reaksi bersumber dari berbagai kalangan masyarakat dan terjadi
di mana-mana.
Sebagai pembanding beta sarankan tuan dan puan buka website Kompas
(www.kompas.com). Komentar pembaca di sana tak kalah garang. Umumnya
menolak SK Menhut dengan kata-kata lembut sampai paling kasar dan sinis.
Di jaringan sosial facebook yang lagi naik daun itu muncul kelompok
penentang rencana pemindahan komodo ke Bali. Tidak cuma anak NTT yang
bereaksi. Banyak warga bangsa ini yang meragukan niat baik Menteri
Kehutanan RI memindahkan komodo ke Bali demi pemulihan genetik.
"Bom" yang dilepas Menhut sungguh menaikkan pamor komodo dalam sepekan
terakhir. Semoga makin banyak anak NTT atau siapa saja mau memberi
suara via http://www.new7wonder.com agar komodo bisa terpilih sebagai
satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Bernuansa Alam pada tahun 2011.
Mudah-mudahan 50 persen dari 4,4 juta rakyat NTT mau memberikan suara.
Mudah-mudahan seluruh PNS, anggota TNI dan Polri di sini ikut
berpartisipasi. Soalnya gerakan ini yang beta lihat baru sebatas
kata-kata. Belum terlihat aksi yang lebih konkret.
Sebagai orang yang suka berpikir positif beta mau ucapkan terima kasih
kepada Menhut. "Bom" pak menteri bikin Nusa Tenggara Timur (NTT) gerah
dan gundah. NTT menganggap pemerintah pusat memperlakukan komodo yang
sejak tahun 1958 menjadi lambang propinsi ini secara tidak elok.
Komodo diusik, NTT Marah! Senang beta melihatnya. Sesekali memang mesti
berani marah dan berkata tidak. Tak cakep pula melihat NTT
terus-menerus jadi anak manis, putra-putri penurut meski dikibuli
kebijakan keliru. Banyak orang datang ke NTT membawa resep. Sudah
saatnya NTT menolak resep yang belum tentu cocok dengan penyakit.
Teringat kisah puluhan tahun lalu. Ikut kata Jakarta, saban tahun NTT
rutin kirim ratusan ribu ekor sapi bali (barusan diganti jadi sapi
Timor) ke hampir seluruh propinsi di tanah air. Indonesia memuji NTT
sebagai sumber bibit sapi bali nomor wahid. Gudang ternak nasional. NTT
bangga. Flobamora girang. Bibit sapi timor itu lalu berbiak di
mana-mana, dari Sumatera hingga Sulawesi. Dari Kalimantan sampai Papua.
Rajin mengirim NTT lupa (jaga) diri. Lupa merawat nilai lebih. Kini kita
kesulitan bibit. Dan, populasi sapi kian menipis.
Bagaimana dengan komodo? Apakah komodo belum pernah "dikirim" atau
dipindahkan dari habitat aslinya di TNK? Menurut data yang beta peroleh
(tentu butuh verifikasi lagi), konon kadal raksasa itu sudah ada di
berbagai daerah di Indonesia. Yang mau melihat komodo tidak harus pergi
ke Pulau Komodo.
Mereka bisa kunjungi Kebun Binatang (KB) Pematang Siantar, KB Ragunan,
KB Gembira Loka, KB Surabaya, Taman Safari Cisarua, Taman Safari Prigen,
Kebun Binatang Bali dan Bali Bird Park-Reptile. Tiga lokasi terakhir
ada di Gianyar, Bali. Kalau ditambah lagi 10 ekor komodo mutasi ke TSI
cabang Bali sesuai perintah SK Menhut 13 Mei 2009, semakin ramai saja
keberadaan kadal itu di Pulau Dewata.
Untuk apa-apa jauh pergi hingga Rinca? Mengingat sifat alamiah makhluk
hidup yang dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar, bukan mustahil
nasib komodo bakal sama dengan sapi timor. Maka NTT, lanjutkan
perjuangan mengkritisi keputusan Menhut!
Berjuang dengan kepala dingin, elegan dan rasional. Semoga perjuangan
itu berbuah manis bagi komodo dan demi kepentingan jangka panjang daerah
ini. Semoga kegerahan NTT tak panas-panas tahi ayam. Soalnya di antara
sekian banyak penyakit NTT, panas-panas tahi ayam itu paling laku dan
banyak sekali penggemarnya. (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang edisi Senin, 27 Juli 2009 halaman 1