Kamis, 11 Desember 2014

Cerdas Menghadapi Anomali Iklim

ilustrasi
DALAM kurun waktu lima tahun terakhir sebagian besar petani di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengeluhkan hal yang sama dan senada. Penyebab utama  adalah anomali iklim. Pada tahun 2011, misalnya,  mereka menghadapi kenyataan curah hujan terlalu tinggi di sejumlah wilayah sehingga tanaman pertanian tidak bertumbuh sewajarnya. Gagal panen pun mendera mereka. Kalaupun memanen hasil jagung, kacang atau sayuran, produksinya jauh dari harapan. Tidak memadai untuk menopang pendapatan petani.

Memasuki musim tanam tahun 2012 dan 2013,  lagi-lagi petani kita menjerit. Hujan terlambat turun ke bumi Floabmora dan curahnya minim. Dalam kondisi normal,  bulan Januari dan Februari biasanya curah hujan cukup  tinggi di NTT dengan sebaran merata. Kenyataan pada tahun 2012 justru sebaliknya. Di banyak tempat matahari justru menggigit kulit sejak Januari hingga akhir Februari 2012.



Curah hujan yang sangat minim membuat petani menderita. Mereka tidak dapat menanam sesuatu untuk mempertahankan cadangan pangan keluarga. Kondisi hampir sama pun terjadi pada musim tanam tahun 2013 dan tahun 2014 sekarang.
Pada awal bulan Desember 2014 ini hujan sudah turun di beberapa wilayah Nusa Tenggara Timur. Sebagian petani seperti di Flores bagian barat dan tengah  yang sudah menyiapkan lahan sejak jauh-jauh hari sebelumnya sudah mulai menanam sambil berharap curah hujan stabil.

Meski demikian sesungguhnya masih banyak petani di wilayah lain NTT seperti di Pulau Timor, Sumba, Rote dan Sabu yang belum berani menanam padi, jagung, kacang-kacangan dan sayur karena  hujan yang tidak menentu. Dampak kekeringan musim ini sudah mereka rasakan sejak beberapa bulan lalu. Hingga akhir November panas membara masih melanda sebagian besar wilayah NTT. Anomali iklim memang sulit dilawan dan  ujung dari semua itu sudah bisa diprediksi yakni ancaman rawan pangan dan gizi buruk.

Pertanyaan retoris terlontar lagi di ruangan ini. Di manakah pemerintah  ketika petani menghadapi dampak anomali iklim yang menyengsarakan mereka selama ini? Mengapa pemerintah daerah melalui dinas teknis tidak juga mampu membekali petani menghadapi kekekeringan panjang? Setiap kabupaten dan kota di NTT memiliki dinas pertanian dan tanaman pangan.  Apa saja yang mereka kerjakan sepanjang tahun untuk petani agar mampu menghadapi kekeringan panjang secara kreatif? Kalau debit air minim mestinya ada solusi alternatif agar ketahanan pangan petani tetap tercukupi. Anomali iklim bukan hal baru dan tidaklah elok kita menyalahkan alam. Yang perlu dirajut adalah kesadaran bersahabat dengan anomali iklim itu. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mestinya memampukan petani kita menghadapinya dengan cara baru. Dan, peran pemerintah sangat diperlukan agar petani NTT lebih cerdas menghadapi anomali iklim.

Misalnya kalau kekeringan panjang, tanaman apa yang lebih cocok. Kalau hujan berlebihan pun sebaiknya menanam apa demi menjaga ketersedian stok pangan. Hari ini mestinya nasib petani NTT sudah lebih baik dari kemarin. Syaratnya kalau pemerintah peduli. Kita semua mau membantu dengan ikhlas!


Pos Kupang  edisi Rabu 10 Desember 2014 hal 4


In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...