Menunggu sekantung raskinTidur di jalan berhari-hari
ALORAWE
yang tidak terkenal itu sontak menghentak dan menggugat. Menggugat
kebijakan sinterklas yang ditempuh pemerintah dengan rasa bangga selama
ini melalui program beras untuk keluarga miskin (raskin) dan bantuan
langsung tunai (BLT).
Alorawe sekadar berita kecil harian ini edisi 4 Juni 2009. Berita yang
mungkin tak sempat dikecapi isinya oleh tuan dan puan. Berita itu tak
memiliki daya ledak tinggi di tengah hingar-bingar pesta politik jelang
pemilu presiden-wakil presiden.
Sayang betul jika tuan tak sempat membaca kisah
Alorawe. Warta kecil itu sungguh menikam jantung Flobamora yang sedang
gairah bergerak kembali ke pangan lokal. Alorawe menggegerkan penghuni
rumah Flobamora, betapa kita telah jauh tersesat. Tersesat hingga tak
sadar telah berada di bibir jurang kerapuhan!
Beta kisahkan ulang tentang Alorawe kepada tuan
dan puan. Alorawe itu nama sebuah desa di Kecamatan Boawae, Kabupaten
Nagekeo, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Warga desa itu yang masuk
daftar penerima raskin rela berhari-hari 'menginap' di pinggir jalan
menunggu truk Bulog yang biasa mengantar raksin untuk mereka. Penantian
mereka selama empat hari pada akhir Mei 2009 berakhir dengan kekecewaan
karena truk Bulog yang ditunggu tak kunjung tiba.
Kenyataan itu direspons Kepala Desa Alorawe
dengan cara melaporkan kepada atasannya, Camat Boawae, Emanuel Ndun.
Camat tidak mengingkari peristiwa itu. Dia menjelaskan, Desa Alorawe
merupakan salah satu desa terpencil di wilayah Kecamatan Boawae. Lokasi
desa itu terisolir karena belum ada jalan raya ke sana. Satu-satunya
cara mencapai Alorawe dengan jalan kaki.
"Untuk sampai ke desa itu harus menempuh
perjalanan sulit, jalan kaki naik turun gunung selama satu jam lebih.
Kendaraan roda dua dan roda empat belum bisa sampai ke Alorawe," kata
Emanuel Ndun yang ditemui wartawan 1 Juni 2009 lalu. Menurut Ndun,
kendala transportasi itu tidak menjadi alasan bagi Bulog untuk
mengabaikan warga Desa Alorawe yang berhak mendapat raskin.
Bulog tetap memenuhi kewajibannya tetapi hanya
bisa mengantar beras sampai ke pinggir jalan raya yang telah disepakati
dengan warga dan aparat pemerintahan Desa Alorawe. Jika tiba jadwal
pembagian raskin, masyarakat Alorawe ramai-ramai turun gunung dan
menunggu di titik ruas jalan yang telah disepakati tersebut.
Nah, ketika tiba jadwal penyaluran raskin bulan
Mei 2009, mereka kembali menunggu di ruas jalan itu namun raskin belum
datang jua. Mereka kecewa! Sebagai camat, Emanuel Ndun berharap Bulog
tepat waktu menyalurkan raskin kepada warga Desa Alorawe. "Bayangkan
kalau warga desa menunggu di pinggir jalan selama berhari- hari untuk
mendapat raskin. Wajar jika masyarakat kecewa karena telah membuang
waktu dan pekerjaan berhari-hari," demikian Ndun. Beta yakin Bulog pasti
memenuhi kewajibannya. Mungkin ketika tuan dan puan membaca tulisan
ini, masyarakat Alorawe bahkan telah menerima hak mereka.
***
TEMANKU, seorang anggota DPRD yang mengenal
dekat masyarakat Alorawe memberi catatan menarik. Menurut dia, meski
terpencil warga Alorawe adalah masyarakat mandiri. Mereka punya pangan
lokal yang cukup, punya ternak, tinggal di tepi sungai yang kaya ikan
dan udang. Warga Alorawe terkenal sebagai pemburu tradisional yang
piawai. Jarang terdengar warta kurang gizi dari sana. "Nah kalau
sekarang mereka tergantung BLT dan raskin, mereka kena penyakit
ketergantungan. Ini fenomena aneh dan mengkhawatirkan," kata sobatku
itu.
Beta setuju dengan pandangan itu. Alorawe dalam
kisah ini sekadar contoh kasus. Kiranya banyak kejadian serupa di daerah
lain NTT. Masyarakat kita yang dulu mandiri telah terjangkit
"penyakit" ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar. Program
pemerintah seperti BLT dan raskin menyempurnakan ketergantungan itu.
Dan, pangan telah dimengerti sekadar beras. Identik dengan beras! Makan
tanpa nasi dianggap belum makan.
Kecuali beberapa daerah lahan basah yang subur
seperti Sumba bagian barat, Flores barat, pesisir utara Flores serta
beberapa kawasan di Pulau Timor, makanan pokok mayoritas rakyat NTT
bukan beras. Sumber pangan utama rakyat NTT yang 70 persen wilayahnya
merupakan lahan kering adalah jagung, umbi-umbian dan kacang-kacangan.
Untuk kebutuhan sehari-hari mestinya mereka dapat menyediakan pangan
lokal itu dengan memanfaatkan lahan pertanian yang ada.
Mengapa tidak terjadi? Kenapa warga Alorawe yang
terkenal mandiri itu, misalnya, rela menanti raskin berhari-hari di
pinggir jalan? Harap maklum. Bertahun-tahun NTT "dipaksa" secara
sistemik untuk bergantung pada beras. NTT diciptakan menjadi pasar beras
yang menguntungkan daerah kaya beras. Sembilan puluh persen beras yang
dikonsumsi warga NTT didatangkan dari luar propinsi. Belum terlihat
keberanian untuk menolak atau membatasi pasokan dari luar agar pangan
lokal kembali mendapat tempat terhormat di kampung sendiri. Program
sinterklas memang tumbuh subur dan berbiak girang di beranda Flobamora.
Rasa malu disebut miskin kini hampir tidak ada lagi!
Pekan lalu kita kembali mendengar berita klasik.
Dalam tahun 2009, Propinsi NTT mengalami defisit beras 139 ribu ton.
Kekurangan itu akibat gagal panen, hama dan bencana alam. Tapi bersamaan
itu tersiar warta gembira yang juga klasik. Tahun ini NTT surplus
jagung 357 ribu ton, umbi-umbian 180 ribu ton dan kacang-kacangan 10
ribu ton. NTT surplus pangan non-beras, lalu mengapa rakyat tidur di
tepi jalan berhari-hari menanti beras berlabel raskin? Tekad menuju
"propinsi jagung dan propinsi koperasi" mestinya tidak sekadar
omong-omong lagi. Kini saatnya aksi, aksi dan aksi bung! (dionbata@poskupang.co.id)
Pos Kupang edisi Senin, 8 Juni 2009 halaman 1