Senin, 21 Mei 2012

Anak-anak Tunggu Saya Pulang

* Perempuan  Tangguh Sulawesi Utara

MANADO, TRIBUN -  "Dibanding daerah lain di Indonesia, perempuan Sulut jauh di atas jika dilihat dari berbagai sudut." Demikian pandangan Anggota DPR RI asal Sulawesi Utara (Sulut), Paula Sinjal SH MH.

Paula menilai, perempuan Sulut punya kemampuan lebih jika dibandingkan perempuan dari daerah lain di Indonesia. Alasannya, bertipikal pekerja keras dan jujur, perempuan Sulut mampu menggenggam posisi strategis di berbagai bidang kehidupan. "Perempuan Sulut itu, bisa dibilang 'di atas laki-laki,' karena bisa berperan di banyak bidang. Perempuan Sulut pekerja keras dan jujur. Ia berkata apa adanya. Semisal jika ia tak bisa menjalani profesi tertentu, ia pasti bilang, saya tak bisa melakukan pekerjaan ini," kata legislator Partai Demokrat ini, Jumat (20/4).

Ia memberi contoh, wakil Sulut di DPR RI, perempuan tiga orang. Sedangkan di daerah, lebih jelas lagi. Perempuan terdistribusi lebih banyak di jabatan sentral. Ada dua orang bupati, DPRD provinsi dan kabupaten kota pasti ada perempuan.
Menurut dia, perempuan Sulut berbicara soal peranannya sudah ada sejak dulu. Ia menyebut pahlawan nasional Maria Walanda Maramis dan Yohana Tumbuan. "Bisa dibilang arah perjuangan Walanda Maramis tak sekadar melepaskan kungkungan perempuan di rumah. Perjuangannya menyasar semua sektor, bagaimana perempuan bisa berbuat di bidang pendidikan, ekonomi, politik dan kemasyarakatan. Namun ia meletakkan dasar di pendidikan," katanya.

Paula  berharap, perempuan Sulut bisa meraih lebih banyak kesempatan di posisi strategis namun jangan melupakan kodratnya.  "Setinggi apapun jabatan karir dan profesi seorang perempuan, jangan lupakan kodrat sebagai ibu pengasuh anak-anak. Kunci kesuksesan anak di situ," jelasnya.

Paula  Sinjal bersyukur sekaligus bangga dikaruniai dua buah hati, Carmelia (20) dan Bethelia (7) yang sangat memahmi profesi ibu mereka. Aktivitas super pada Paula tak pernah berujung komplain dari anak.  "Justru mereka sangat mendukung. Sebab, sebelum saya mencalonkan diri, saya minta restu keluarga, termasuk anak- anak. Ternyata mereka mendukung profesi saya sampai detik ini," katanya.

Sering pulang larut malam, jam kerja tak terbatas laiknya profesi lain, tak membuat Paula diprotes anak-anak. "Saya melihat mereka berdua belajar memahami, oh begini ternyata profesi ibunya. Mereka sangat memahami. Secara tak langsung, ini pendidikan politik bagi anak saya," katanya.

Berbagi cerita, Paula menceritakan sebesar apa perhatian Carmelia dan Bethelia padanya. Saat Paula harus berkutat dengan ketatnya rapat terkait kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Senayan penghujung Maret lalu, anak-anak selalu menelpon menanyakan keadaan.  "Mereka selalu pantau dari televisi dan telepon, tanya, mama bagaimana di sana, baik-baik saja kan?" katanya.

Dua buah hati Paula  cemas. Sebab aksi anarkis ribuan massa berdemo menolak rencana kenaikan BBM  di luar gedung DPR ditayangkan televisi. Carmelia dan Bethelia terus memantau dari depan televisi. Khawatir keadaan ibunya yang sedang bersidang.  "Mereka tak bisa tidur, tunggu saya pulang. Telpon terus dan bilang aksi massa anarkis, merusak pagar kompleks DPR dan lain-lain. Mereka baru tidur setelah saya pulang," urainya.

Sebagai politisi super sibuk, tak membuat Paula abai pada tugas utamanya, sebagai ibu. "Selalu ada waktu untuk mereka. Karena jam kerja saya tak menentu, Minggu saja harus masuk karena ada pelatihan. Makanya, setiap ada waktu, tak ada persidangan, agenda komisi dan fraksi, saya dengan Carmelia dan Bethel," katanya.

Sebagai legislator perempuan, Paula tak pernah terlibat 'konflik' serius dengan sesama anggota DPR RI laki-laki. Apakah sesama anggota komisi, rekan di fraksi maupun mitra kerja. Ia selalu menanamkan prinsip, nilai-nilai persahabatan itu penting dalam profesi. "Relasi dengan siapa saja itu selalu saya jaga," katanya.

Namun, menyangkut hal prinsip dan tuntutan pekerjaan membuat Paula rela terlibat konflik. Ia mencontohkan, pernah berdebat keras dengan Ketua KPU soal mafia pemilu dalam rapat dengar pendapat.  "Saya berdebat keras dengan beliau karena apa yang saya perjuangkan soal prinsip, kebenaran dan itu tugas utama saya. Ya. itu tuntutan profesi, kapan kita harus bicara keras, berdebat, dan terlibat adu argumen. Tapi syukur masing-masing bisa memahami dan melihat dari sisi bahwa kita itu menjalankan tugas. Saling memahami itu yang terutama," kata Paula.

Perempuan Tangguh
Momen peringatan Hari Kartini tanggal 21 April 2012 memiliki makna tersendiri bagi setiap orang. Demikian pula dengan Ketua DPRD Sulut, Meiva Salindeho. Ia
 mengajak perempuan Sulut melihat kesempatan dari perbedaan zaman dulu dan sekarang. "Di masa lalu Kartini berjuang bebas dari intimidasi, sekarang peluang terbuka untuk perempuan dan harus dipergunakan," kata Meiva, Kamis (19/4).
Di bidang politik, kata Meiva, kiprah perempuan Sulut menggembirakan. Dia memberi contoh di DPRD Sulut  persentase keterwakilan perempuan sudah mencapai 25 persen sesuai ketentuan undang-undang. Namun, di kabupaten kota persentase wanita di kursi wakil rakyat belum 25 persen. "Saya harap kualitas sumber daya perempuan terus ditingkatkan," katanya.

Pandangan senada diungkapkan Peggy Mekel, satu di antara srikandi Sulut yang saat ini menjabat sebagai Direktur program studi IBA Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. "Perempuan sekarang harus menerobos itu. Jangan lewatkan setiap kesempatan," ucapnya ketika dihubungi Tribun Manado, Jumat (20/4).

Mekel mengatakan perempuan Sulut  tangguh dan harus melanjutkan perjuangan Walanda Maramis dan RA Kartini. Dia melihat masih ada wanita Sulut kurang termotivasi untuk mengembangkan diri. Padahal kesempatan untuk berkembang terbuka luas.  Terkait refleksi Hari Kartini, Peggy Mekel mengimbau kepada seluruh perempuan Sulut terus berusaha menjadi perempuan yang tangguh dan mandiri. "Karena kita dilahirkan menjadi tangguh dan serba bisa. Artinya wanita sudah dilatih bisa bekerja, bisa merawat suami, bisa merawat anak," tandasnya.

Menurut anggota DPRD Minahasa Utara (Minut) Fransiska Tuwaidan menjadi wanita merupakan berkat. Bahkan pria pun tak akan sukses tanpa peran wanita.
Itulah sebabnya Tuwaidan berani memilih terjun  di dunia politik, tempat dominasi kaum  pria.  "Sekarang ini banyak wanita memimpin di panggung politik. Ambil contoh Ibu Megawati yang pernah menjadi presiden," sebut Etha, sapaan akrab Tuwaidan. Kata Ketua Fraksi Tumatenden ini, tak ada batasan lagi bagi perempuan untuk tampil di mana saja.  "Sekarang semuanya ada. Mau sekolah bisa, mau merintis karir, yang penting ada kemauan, pasti bisa," tuturnya.

Ketua LSM Swara Parangpuan Vivi George mengatakan nilai-nilai perjuangan RA Kartini harus dimanfaatkan dengan baik oleh perempuan Indonesia masakini "Perempuan Indonesia telah mendapatkan hak yang sama dengan kaum laki-laki, terbukti banyak yang mendapatkan jabatan strategis," ujarnya, Jumat (20/4).
Bupati Minahasa Tenggara (Mitra) Telly Tjanggulung menyatakan posisi perempuan Sulut dalam kehidupan masyarakat sudah mengalami  peningkatan yang signifikan bahkan bisa dibilang spektakuler.Namun,  harus bisa dibarengi dengan peningkatan etika dan moralitas yang baik serta karakter dan integritas yangg teruji. "Bila itu bisa lengkap dimiliki wanita Sulut, saya percaya mereka akan jadi wanita-wanita yang luar biasa," kata Telly, Jumat (20/4).

Kini saatnya perempuan Sulut meningkatkan kapasitasnya  dengan mengandalkan Tuhan. Sebab tanpa Tuhan semua kerja keras bisa sia-sia. "Jangan takut membuat terobosan jika engkau tahu bahwa itu bisa mendatangkan kebaikan bagi banyak orang.  Andalkan Tuhan, bertindak hati-hati dan lakukanlah," tambahnya.

Poin penting lain yang diingat Telly  adalah Kartini berjuang melawan arus dan ia berhasil. "Akhirnya dia berhasil membuat terobosan demi terobosan yang berarti dan berdampak sangat positif bagi kaum wanita.  Kita pun sampai sekarang merasakan dampaknya," urainya. Telly yakin bahwa wanita masa kini mampu melakukan yang lebih hebat dari Kartini.

Bagi Bupati Minahasa Selatan (Minsel) Christiany Eugenia Paruntu makna Hari Kartini membuat perempuan lebih bersemangat dan lebih tegar dalam menjalani hidup sebagai perempuan seutuhnya."Semangat Kartini memberi kemampuan untuk duduk setara dengan kaum pria," ujarnya. Sebagai kepala daerah, Tetty Paruntu, demikian dia biasa disapa sudah terbiasa menghadapi beragam masalah."Mulai dari awal bupati sudah ada masalah disharmonisasi dan masalah lain. Semuanya saya  bisa hadapi dengan doa dan bekerja saja," demikian Tetty.

Sebagai Kartini Minsel, Tetty Paruntu merasakan suka ketika melayani masyarakat. "Dukanya kalau diserang sama pihak lawan, dan orang yang ada di sekitar kita belum tentu kawan, untuknya kita harus tetap waspada," kata dia.

Sebagai seorang ibu, Tetty Paruntu harus pandai mengatur waktu demi kebersamaan dengan  anak. "Waktu kita yang atur, pekerjaan memang sudah diamanatkan kepada kita, tapi tetap sediakan waktu untuk anak," jelasnya. Ia berpesan agar perempuan terus  berjuang dan jangan mau kalah dengan pria. "Selamat hari Kartini," ujarnya. (ndo/rob/kev/erv/amg/uke/ryo)

Tribun Manado 21 April 2012 hal 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...