Minggu, 06 Mei 2012

Dewi Pernah Coba Bunuh Diri

* Perceraian Merusak Mental Anak
* Minder, Suka Marah dan Kesepian

MANADO, TRIBUN - Perceraian orang tua menebarkan pengaruh buruk terhadap mental anak-anak, bahkan anak bisa terjerumus ke hal-hal negatif. Demikian pengakuan sejumlah anak dari keluarga yang bercerai seperti Susan, Dewi, Lisa yang ditemui Tribun Manado secara terpisah.

Ditemui Selasa (10/4), Susan (23)  menyesali keputusan orang tuanya berpisah. "Sebenarnya saya tidak setuju pada saat orang tua mau berpisah, karena saya ingin hidup dalam keluarga yang utuh, apalagi orang tua saya bercerai pada saat saya berusia 11 tahun," ujarnya.
Susan merasa bahagia dengan keadaannya sekarang. Dia pun merasa kedua orang tuanya tidak memberikan perhatian yang dia butuhkan. "Saya tidak merasa nyaman dengan keadaan saat ini, karena orang tua saya juga sudah tidak peduli lagi. Saya harus tinggal dengan kakek dan nenek, " ujarnya

Warga Kelurahan Bahu Manado  ini stress berat saat diejek oleh teman-temannya karena orang tuanya bercerai. Dalam situasi tertekan itu  Susan terjerumus dalam pergaulan bebas. "Saya sering diejek teman-teman. Saya menjadi stres dan terjemus," jelasnya. Hal yang sama diungkapkan mahasiswi Unsrat, sebut saja Dewi (19). Dia masih kecewa dengan perceraian orang tuanya. Dewi masih
membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. "Saya memerlukan perhatian dari ayah dan ibu. Tetapi saya juga tidak dapat berbuat apa-apa. Saya hanya bisa pasrah dengan keadaan ini, " ujarnya.

Perceraian mempengaruhi mental Dewi dan membuatnya malu. "Hidup dalam keluarga yang tidak utuh membuat saya sering minder apabila bersama teman-teman. Saya sering iri kepada mereka. Saya juga pernah berencana untuk bunuh diri," katanya. Warga Kelurahan Mapanget ini menuturkan keadaannya sekarang jauh lebih baik karena ibunya tetap mengakui keberadaannya. "Saya bersyukur masih ada ibu yang tetap menyayangi saya, " ujarnya.

Menurut para psikolog,  dampak perceraian terhadap anak antara lain merasa tidak aman (insecurity), merasa tidak diinginkan atau ditolak oleh orang tuanya, marah,sedih dan kesepian, merasa sendiri serta suka menyalahkan diri sendiri.
Seperti diwartakan kemarin, keretakan rumah tangga yang berujung perceraian di Sulawesi Utara (Sulut) mencengangkan. Rata-rata terjadi satu kasus perceraian setiap hari sepanjang tahun.  Faktor pemicunya beragam namun  paling dominan justru ketidaksetiaan. Anak adalah korban paling menderita akibat perpisahan orangtua mereka.

Data yang diperoleh Tribun  dari Pengadilan Negeri (PN) Manado dan Pengadilan Agama (PA) Kotamobagu bisa memberi gambaran tentang tingginya frekuensi perceraian. Dalam tiga bulan pertama tahun 2012 (Januari-Maret) total 94 kasus gugatan cerai pasangan suami istri (pasutri)  di PN Manado. Pada tahun 2011  PN Manado mencatat 291 kasus perceraian.

Angka perceraian di Bolaang Mongondow (Bolmong) Raya pun mencatat rekor tertinggi dibanding daerah lain di Sulut. Setiap tahun, trend perceraian di empat kabupaten dan satu kota di Bolmong naik antara 20 hingga 25 persen. Catatan Pengadilan Agama (PA) Kotamobagu, hingga Maret 2012 ini saja sudah 217 kasus  gugat cerai. Bandingkan dengan jumlah perkara tahun 2011 yang mencapai 661 kasus. Dari jumlah tersebut, 664 di antaranya sudah putus.

Bukan Jalan Pintas
Sementara itu, menanggapi tingginya  kasus perceraian di Sulut, Sekretaris Umum Sinode GMIM, Pdt Arthur Rumengan mengingatkan bahwa gereja sejak dahulu tidak pernah mengajarkan perceraian kepada jemaatnya. Menurutnya,  dalam Alkitab sudah tertulis ajaran Yesus Kristus bahwa apa yang sudah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Dikatakannya, keutuhan keluarga kembali kepada komitmen masing-masing pasangan untuk mempertahankan rumah tangga sesulit apapun masalah yang dihadapi. "Butuh komitmen kuat supaya rumah tangga tetap jalan," kata Pdt Rumengan, Kamis (12/4).

Pdt Rumengan mengatakan, selama ini Gereja sudah menjalankan fungsi pastoral dan pengembalaan kepada jemaat untuk setia dalam keluarga. "Pernikahan itu suci lantaran datangnya bukan dari manusia tetapi karunia Tuhan. Maka bukanlah hal yang bijak jika umat Kristen mengambil perceraian sebagai jalan pintas," ucapnya.
Secara terpisah, tokoh agama Islam Sulut, Ustad Yaser bin Salim Bachmid menyatakan, tingginya angka perceraian antara lain disebabkan kurangnya pendidikan agama kepada pasangan yang menikah. "Selain itu makin materialistis kehidupan saat ini memengaruhi terjadinya perceraian," ujarnya, Kamis (12/4).

Saat ini, kata dia,  banyak istri yang menuntut materi lebih kepada suaminya. Jika tidak terpenuhi, dia akan mudah memutuskan perceraian. Begitu pula suami, jika istrinya terlalu banyak tuntutan dia memilih perpisahan.

Jalan keluarnya, lanjut Ustad  Yaser , penting sekali pasangan mengikuti pembekalan sebelum pernikahan sebab selain memperdalam agama, juga akan diberikan nasehat jika sudah menjadi keluarga. Jika pasangan tidak ikut pembekalan sebaiknya jangan berikan akte pernikahan.

Hal tersebut diberlakukan dengan tegas di Malaysia. Dengan demikian mereka yang akan menikah, benar-benar memegang teguh tali perkawinan, sebab ikatan suami-istri itu sakral. Orang tua pun harus bisa menjadi penengah yang baik, jika anaknya mengalami masalah dalam menjalani perkawinan.

Sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado  Jefrry Paat juga mengkritisi tingginya perceraian di Sulut. Fenomena sosial itu mencerminkan kurangnya pembinaan dair tokoh agama maupun tokoh masyarakat tentang membangun keluarga yang langgeng. Paat juga menggarisbawahi pentingnya pembekalan kepada pasangan yang hendak menikah. Pembekalan mesti dijalani dengan serius,  jangan hanya formalitas. (jhp/dru/erv)

News Analysis
Cardo Renwarin,   Pengamat Sosial dari STF SP

Sibuk Sendiri

PERCERAIAN hanya puncak gunung es dari masalah sosial keluarga di Sulut. Menurut saya jumlah kasus  perceraian yang meningkat dalam tiga tahun terakhir bukan suatu yang sensasional. Bila ditelusuri masalah hubungan gelap dan pisah ranjang jauh  lebih banyak kasusnya daripada penceraian.

Lagu-lagu pop Manado bisa menggambarkan fenomena perceraian, hubungan gelap atau pisah ranjang.Kase pulang itu doi, cincin dan lainnya merupakan  ekspresi dari fenomena sosial yang tumbuh di sini. Data perceraian di pengadilan atau kantor catatan sipil ada karena ada kepentingan lain yang diperjuangkan. Bisa jadi yang terbanyak bercerai  adalah  pegawai karena status nikah menjadi sesuatu yang urgen untuk masa depan.

Penyebab utama perceraian atau hubungan gelap sebenarnya terletak pada berkurangnya domestikasi perempuan. Perempuan yang  dulu lebih banyak di sekitar dapur,  sekarang berpindah ke dunia karir. Ketika itu terjadi maka keluarga tidak banyak berkomunikasi di rumah mereka. Suami, istri dan anak-anak mengurusi kesibukan mereka sendiri.

Pembentukan kelas menengah yang semakin kuat  di perkotaan dan tidak dibarengi adanya pusat rekreasi yang mengakomodir keluarga menjadi penyebab adanya masalah sosial tadi. Frekuensi pertemuan dengan teman kantor menjadi lebih banyak. Krisis pribadi kemudian diakomodir oleh teman sekantor. Di situlah peluang terjadinya perselingkuhan atau hubungan gelap.

Semua wahana permainan di mall itu hanya pajangan bagi rekreasi keluarga. Tidak banyak interaksi sebagai satu keluarga terjadi di sana. Taman Kesatuan Bangsa (TKB), Gedung KONI dan Pingkan Mantindas lebih cocok menjadi tempat rekreasi keluarga. Kegiatan kesenian dan olahraga lebih berkualitas bagi pembentukan keluarga yang berkualitas. Kadang-kadang media massa  justru mengagungkan sebuah mall sebagai tempat rekreasi keluarga,  padahal itu hanya menjadi tempat mejeng anak muda.

Sepanjang penelitian, kontrol sosial di desa masih kuat. Jika ada masalah sosial seperti perceraian, hubungan gelap dan pisah ranjang pasti itu langsung menjadi bahan pergunjingan. Kota memang mulai kehilangan kontrol sosialnya. Bahkan institusi Gereja belum menyentuh sejauh itu soal pembentukan kualitas keluarga. Seharusnya kegiatan kunjungan keluarga menjadi suatu yang biasa bagi pelayan pastoral Gereja membantu keluarga menyelesaikan masalah mereka. (dma)

Tribun Manado 14 April 2012 hal 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...