* Pasien RS Pancaran Kasih Menurun Drastis
* Ruang Perawatan Terpaksa Dialihfungsikan
MANADO, TRIBUN - Rumah Sakit (RS) Pancaran Kasih Manado yang selama puluhan tahun menjadi idola masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) kini kondisinya jauh berbeda. Kunjungan pasien tidak seramai dulu. Meski demikian dokter dan tenaga medis di sana tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.
Berdasarkan pantauan Tribun Manado, Rabu (18/4), Rumah Sakit Pancaran Kasih masih terawat baik, kebersihannya pun terjaga. Ruangan pasien, perawat, dokter dan ruangan administrasinya tertata rapi tetapi jumlah pasien sedikit.
Jenny Kambey, dokter tetap di RS Pancaran Kasih, mengakui kondisi rumah sakit saat ini memang memrihatinkan, tetapi pelayanan terhadap pasien harus tetap jalan. "Keadaan rumah sakit tidak mempengaruhi kinerja saya, apalagi ini merupakan tugas dan tanggung jawab saya untuk melayani masyarakat, apapun kondisinya," ujarnya kepada Tribun, Rabu (18/4).
Wanita yang sudah enam tahun mengabdi di RS Pancaran Kasih ini, mengatakan tak tega meninggalkan rumah sakit itu dan akan bertahan sampai titik akhir. Jenny kemudian menjelaskan maksud titik akhir dalam kalimat berikut, "Selama rumah sakit ini belum ditutup, saya akan tetap melayani pasien meskipun tidak digaji. Saya tidak akan keluar karena ini adalah tempat pertama saya bekerja, saya akan berusaha memberikan yang terbaik."
Perawat Fientje Narande pun mengakui kondisi rumah sakit saat ini sangat berbeda dibandingkan sebelumnya, terutama soal kesejahteraan tenaga medis dan pegawai. "Sebelum ada masalah, kesejahteraan kami sangat diperhatikan, tetapi saat ini kami sering tidak digaji. Pada tahun 2011, kami hanya menerima gaji pada Juli, Agustus, Oktober dan November. Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi saya," ujarnya.
Perawat yang sudah 26 tahun mengabdi di RS Pancaran Kasih akan tetap setia melayani pasiennya. "Saya akan tetap melayani pasien dengan setia, karena ada rasa memiliki rumah sakit ini. Apapun yang terjadi saya akan tetap bertahan, " kata wanita kelahiran Gorontalo, 13 Februari 1965 tersebut.
Andre Toreh (32), cleaning service yang ditemui sedang membersihkan sampah berharap keadaan rumah sakit yang letaknya strategis di Kota Manado ini bisa kembali seperti dulu. "Saya berusaha bertahan mengabdi di sini karena saat ini sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan," ujar pria yang sudah tujuh tahun bekerja di RS Pancaran Kasih.
Menurunnya jumlah kunjungan pasien diakui Martha Satelit (50), Kepala Sub Rekam Medis RS Pancaran Kasih. Ia mengatakan jumlah pasien menurun tajam sejak tahun 2009. "Menurut data yang saya buat, rata-rata kunjungan setiap hari tahun 2008 ialah 109,54 pasien, tahun 2009 ada 74,16. Data tahun 2012 sampai bulan Maret kira-kira hanya 30 kunjungan per hari," katanya.
Pasien berkurang berpengaruh pada pengaturan kamar di sana. Ketika pasien masih ramai ada tiga ruangan yang dipakai di lantai tiga dengan jumlah tempat tidur tiga. Lantai dua memiliki ruang VIP enam ruang dan Kelas 1 enam ruang. Masing- masing dengan tempat tidur satu buah. Lantai satu memiliki 12 ruangan dengan delapan tempat tidur. Setelah pasien menurun jumlah kamar yang dipakai sedikit.
"Kami memiliki sembilan tempat tidur di lantai tiga, 12 tempat tidur di lantai dua dan 96 tempat tidur di lantai satu. Sekarang semua ruang dilantai tiga tidak dipakai. Satu ruang di sebelah kanan menjadi kelas 2 A yang memiliki tiga tempat tidur. Yang lain menjadi kelas satu AC yang terdiri dari enam tempat tidur. Lantai satu tinggal memiliki delapan ruangan dengan 64 tempat tidur. Mau bagaimana lagi pasiennya memang sedikit. Ada dua ruangan yang dialihfungsikan menjadi ruang Unit Gawat Darurat dan Apotek," kata Martha.
Menyusutnya jumlah pasien, lanjut Martha, berdampak pula pada jumlah karyawan yang terus menurun setiap tahun. Data menunjukkan ada penurunan tajam jumlah perawat sejak tahun 2009. Sedangkan jumlah dokter tetap khususnya dokter umum mencapai titik rendah tahun 2011.
"Tahun 2009 dokter umum 10 orang dan yang spesialis tiga orang. Itu sama dengan tahun 2010. Sedangkan tahun 2011dokter umum sembilan orang sedangkan yang spesialis tiga orang," kata John Bonde, staf bagian rumah tangga dan binatu yang membantu membuka arsip di bagian personalia. Jumlah karyawan RS Pancaran
Seperti disaksikan Tribun Manado, kemarin, hanya satu dua unit sepeda motor yang parkir di halaman RS Pancaran Kasih. Ada dua mobil yang diparkir di depan RS itu milik dokter. "Hanya dua, mungkin milik dokter. Yang satu pasien dan yang lain milik mereka yang kos di sekitar sini,"kata Bonde sambil tertawa.
Diakuinya, perubahan yang menyolok dan masalah yang diketahui umum membuat Rumah Sakit Pancaran Kasih diisukan sudah ditutup. Pihak Rumah Sakit menepis anggapan itu. "Tolong disampaikan kepada masyarakat sejak awal pergolakan Rumah Sakit Pancaran Kasih tetap beroperasi,"tandasnya. (jhp/dma)
Waktu Masih Ramai...
KONDISI RS Pancaran Kasih ternyata mempengaruhi usaha warga yang tinggal di sekitar rumah sakit tersebut. Saat ditemui Tribun Manado, Rabu (18/4), Norma Rasyad (75) mengatakan, ia berhenti berjualan makanan sejak kunjungan pasien ke rumah sakit itu menurun drastis sekitar tiga tahun lalu. "Dulu makanan yang saya jual paling banyak dibeli oleh pengunjung rumah sakit," ujarnya
"Waktu masih ramai, kami yang tinggal di sekitar rumah sakit ini hampir tidak bisa tidur karena tiap hari kami sering mendengar ada pasien yang menjerit kesakitan, ada suara tangisan. Dulu tidak pernah sepi. Berbeda dengan saat ini seperti rumah sakit yang tidak ada penghuninya," tambah Norma.
Hemon Dayo (37) mengatakan, situasi rumah sakit saat ini mempengaruhi usahanya. "Pendapatan saya berkurang karena pengunjung rumah sakit yang paling banyak membeli jualan saya. Saya berharap keadaannya akan kembali seperti semula. Menurut saya rumah sakit ini pelayanannya baik, " kata Hemon.
Keprihatinkan yang sama disampaikan Sarifudin (42). Ia sedih melihat keadaan rumah sakit yang kini sepi. "Saya prihatin, berbeda sekali dengan beberapa tahun lalu yang ramai dengan pengunjung," katanya.
Pilihan Utama
Beberapa warga Kota Manado yang diwawancarai Tribun Manado secara terpisah, kemarin mengaku dulu mereka selalu menjadikan RSU Pancaran Kasih sebagai pilihan utama tempat berobat. Alasan mereka beragam. Ada yang mengaku karena posisinya strategis di pusat kota, ada pula yang beralasan bahwa RSU Pancaran Kasih adalah milik GMIM sehingga mereka turut membantu yayasan GMIM.
Ferdinand, warga Tanjung Batu mengatakan ia dan anggota keluarganya sering berobat ke RSU Pancaran Kasih karena letaknya tak jauh dari rumah mereka.
"Dulu kami selalu berobat di Pancaran Kasih karena letaknya strategis," ujarnya.
Menurut dia, sekitar empat tahun lalu, rumah sakit tersebut masih padat pasiennya. Lorong-lorong antar ruangan biasanya dipenuhi keluarga pasien hingga menggelar tikar di depan ruang perawatan. Malah ada pula pasien yang tak kebagian tempat tidur. "Kalau dulu ramai sekali," kata Ferdinand.
Andre, warga Sario punya kesan tersendiri dengan rumah sakit ini. Menurut Andre, rumah sakit yang berada di ruas jalan Sam Ratulangi itu memiliki daya tarik bagi warga Kota Manado dan sekitarnya, selain karena posisinya yang strategis, rumah sakit tersebut adalah milik GMIM. "Kami memilih berobat di Pancaran Kasih karena rumah sakit itu milik GMIM," imbuhnya.
Keramaian RS Pancaran Kasih memang tinggal kenangan. Seperti disaksikan Tribun Manado, Rabu (18/4), tampak di gedung perawatan C hanya ada sekitar tiga orang pasien menghuni ruangan itu. Begitu pula di ruang perawatan D hanya ada empat pasien. Di di ruang perawatan A yang hanya ada tumpukan meja dan sal tempat tidur pasien. (jhp/tos/dma)
Yayasan Tetap Menopang
SEKRETARIS Yayasan AZR Wenas Marthen Sualang memastikan pihaknya tetap akan menopang kemajuan Rumah Sakit Pancaran Kasih Manado agar tetap eksis lagi seperti dahulu kala. "Penataan untuk menjamin eksistensi Rumah Sakit Pancaran Kasih ke depan sudah kami lakukan. Misalnya dengan mengganti semua manjemen seperti direktur di rumah sakit yang dianggap bermasalah," kata Sualang kepada Tribun Manado di Tomohon, Rabu (18/4).
Ia menjelaskan pengelolaan rumah sakit tersebut, tetap akan dilakukan yayasan dan tidak akan dialih kelola ke pihak manapun. "Jika dialihkelolakan ke pihak lain, pasti akan berubah. Kami tak mau itu terjadi sebab Pancaran Kasih adalah milik semua masyarakat," tegasnya.
Konsep pengelolaan Pancaran Kasih, kata dia masih tetap sebagai rumah sakit umum yang dapat menjangkau masyarakat dari ekonomi lemah hingga kelas atas. "Semua pasien tetap diterima, baik dari golongan menengah ke bawah hingga atas. Pelayanan tetap diutamakan," kata Sualang. Soal ada utang ke pihak lain, termasuk karyawan Sualang berjanji menuntaskannya secara bertahap. "Semua utang tetap akan dibayar secara bertahap, tak bisa sekaligus," jelasnya.
Rumah Sakit Pancaran Kasih awalnya dari sebuah rumah sakit bersalin bernama RS Bersalin PKIM Titiwungen. Rumah sakit yang berdiri pada 8 Januari 1955 kemudian menjadi RSU Pancaran Kasih GMIM yang tahun ini genap berusia 57 tahun. Sepanjang usia itulah, rumah sakit milik Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), dibawah Yayasan AZR Wenas Bidang Kesehatan menjadi saluran berkat, sebagai sarana pelayanan kesehatan bagi masyarakat Manado dan sekitarnya bahkan Sulawesi Utara. (war/ndo)
Tribun Manado 19 April 2012 hal 1