* RS Pancaran Kasih Kebanggaan GMIM
"Saat belum banyak rumah sakit di Manado, warga dari pelosok daerah memilih untuk berobat di Pancaran Kasih.
Dr Djouhari Kansil
Wakil Gubernur Sulut
MANADO,TRIBUN - Keberadaan Rumah Sakit (RS) Pancaran Kasih Manado selama 57 tahun sangat membantu warga Sulut awesi Utara (Sulut). Rumah sakit itu harus diselamatkan. Masalah yang ada perlu diselesaikan secara bijak. Demikian Wakil Gubernur Sulut Dr Djouhari Kansil. "Saat belum banyak rumah sakit di Manado, warga dari pelosok daerah memilih untuk berobat di Pancaran Kasih," kata Kansil kepada Tribun Manado, Rabu (18/4).
Ia mengatakan, rumah sakit ini merupakan kebanggaan warga Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Kansil mengenang Pancaran Kasih sebagai rumah sakit yang terkenal tertib."Kalau sudah selesai jam besuk, siapapun tak diizinkan untuk mengunjungi," kenang Kansil.
Menurut Kansil, seingat dirinya rumah sakit ini tak pernah sepi. Ketika rumah sakit itu berubah status menjadi rumah sakit umum, jumlah pasien yang berobat pun meningkat. "Biasanya kalau sudah tidak bisa ditangani oleh dokter-dokter spesialis di situ, barulah dirujuk ke Kandou," tuturnya. Menurutnya, permasalahan di rumah sakit ini harus segera dicari solusinya. "Penyelesaiannya tentu tidak merugikan hak-hak orang lain termasuk karyawan rumah sakit," tandasnya.
Seperti diwartakan kemarin, kunjungan pasien ke RS Pancaran Kasih menurun drastis selama tiga tahun terakhir. Jika pada tahun 2008 kunjungan pasien per hari di atas 150 orang maka pada tahun 2011 tersisa 45 orang per hari.
Masalah yang mendera rumah sakit itu mendapat respons dari Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM. Wakil Ketua Sinode GMIM Pendeta HWB Sumaykul, mengatakan hal penting saat ini adalah selamatkan aset. Penyelamatan aset merupakan keputusan Sidang Tahunan Majelis Sinode bulan November di Langowan. Sinode telah membayar Rp 20.000.000 per bulan untuk menanggulangi utang rumah sakit. Ia meminta karyawan sabar menanti sampai utang diselesaikan.
Ia menambahkan sinode dan direktur rumah sakit telah bahu-membahu untuk membayar gaji karyawan bulan Maret walaupun tidak banyak. Sinode fokus pada pembelian obat-obatan dengan 20 sampai 30 persen untuk karyawan. Dana itu juga diperoleh dari subsidi rumah sakit GMIM yang lain. "Dana itu selain dari usaha dokter Harry tapi juga dari sinode dan subsidi," katanya.
Pendeta Herry Polangitan dari Bagian Aset GMIM mengatakan Sinode telah berusaha mencari pihak ketiga atau investor untuk ikut mengatur manajemen RS Pancaran Kasih. Sinode sementara dalam tahap penjajakan soal itu. Ia berharap masalah ini selesai tahun ini. "Mudah-mudahan kerja sama dengan pihak ketiga bisa selesai tahun ini. Sedangkan aset tetap milik GMIM," katanya.
Ketua Pria Kaum Bapa Wilayah Manado Tenggara Vicky Lumentut prihatin dengan masalah di RS Pancaran Kasih. Namun permasalaha tersebut tidak boleh diselesaikan pihak lain. "Hal ini karena yang mengetahui permasalahan tersebut adalah internal GMIM," ujarnya, Kamis (19/4). Lumentut yakin GMIM yang memiliki potensi besar dalam berbagai dimensi dapat menyelesaikan masalah ini.
Optimisme senada disampaikan Djenri Keintjem, anggota Komisi III DPRD Sulut, Kamis (19/4). Keintjem yaki RS Pancaran Kasih yang berada di bawah naungan Sinode GMIM akan kembali seperti dulu, bahkan bisa lebih baik."Masalah Pancaran Kasih hanya soal manajemen. Saya bagian pengurus Sinode GMIM dan kami telah melakukan rapat khusus terkait hal tersebut," jelasnya. Menurutnya manajemen RS Pancaran Kasih akan diperbarui, termasuk orang-orangnya.
Sementara tokoh Masyarakat Sulut, Pdt Billy Johannes mendukung Gerakan Rp 1.000 untuk menyelamatkan Pancaran Kasih. Menurutnya rumah sakit tersebut bukan hanya aset GMIM tetapi sudah menjadi aset warga bumi Nyiur Melambai umumnya. "Ini gerakan positif dan akan menyelamatkan RS Pancaran kasih bila dilakukan secara tepat," kata Johannes, Kamis (19/4). Dia akan mensosialisasikan gerakan ini kepada jemaatnya di GMIM Tanjung Parigi Bunaken. "Kami akan berupaya semampu kami untuk membantu," katanya.(aro/dma/erv/rob/dru)
Tribun Manado 20 April 2012 hal 1