Minggu, 06 Mei 2012

Angin Terus Bergerak ke Arah Kami

* Bencana Alam di Tompaso Minahasa


Sekitar 20 warga yang berkumpul di rumah duka keluarga Kolibu Pantouw di Desa Tonsewer, Kecamatan Tompaso Barat Minahasa Sabtu (14/4) kocar-kacir saat bangsal tempat mereka berteduh dihantam angin puting beliung.

RONNY Pantouw (48),  kepala jaga satu menceritakan, saat itu puluhan warga berkumpul untuk membantu keluarga mempersiapkan acara mingguan pasca ibadah pemakaman. Tiba-tiba embusan angin kencang menerpa bangsal. Sebagian besar warga sadar bahwa itu bukan angin biasa.

Beberapa pria berteriak memerintahkan semua orang dalam bangsal yang terbuat dari besi untuk masuk ke dalam rumah atau pergi ke rumah lain dekat lokasi tersebut. Saat warga dalam kepanikan, bangsal berguncang keras dan embusan angin semakin kencang. "Beberapa orang tua  menyelamatkan anak-anak ke dalam rumah. Mungkin ada sekitar 15 anak dalam bangsal," ujarnya.


Beruntung reaksi warga mencari tempat perlindungan dilakukan tepat waktu. Beberapa detik setelah bangsal tersebut kosong, angin puting beliung menghantam dan menghancurkan separuh bangsal.

"Saat kami keluar, saya sempat melihat ke belakang.  Beberapa bagian bangsal terangkat ke udara lalu terhempas ke tanah. Rangka bangsal yang terbuat dari besi bengkok dan beberapa bagian patah," kata Ronny.

Ketegangan dikejar angin puting beliung tidak berakhir di situ. Mereka yang berlindung di rumah keluarga Kolibu Pantouw masih merasakan ganasnya angin yang dalam bahasa setempat disebut selendu tersebut. Ronny menceritakan, setelah menghancurkan bangsal di rumah duka, angin puting beliung bergerak ke rumah tempat mereka berlindung dan menghancurkan atap rumah tersebut.

"Saat kami berlari ke rumah keluarga Kolibu Pantouw, angin tetap bergerak ke arah kami. Hanya beberapa detik, angin itu telah menghantam rumah dan menerbangkan setengah atap rumah," ujarnya.

Menurut Ronny, beberapa saat setelah angin reda, dia kembali dikejutkan oleh berita dari warga lain yang mengatakan rumahnya juga terkena angin puting beliung. Pria tersebut langsung berlari ke rumahnya yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah duka.

"Belum tenang rasa panik yang saya alami saat dikejar angin puting beliung di rumah duka, saya kembali dikejutkan oleh berita kalau rumah saya juga terkena angin. Saya khawatir jika terjadi sesuatu pada isteri dan anak saya dirumah. Namun beruntung mereka tidak terluka walau sebagian besar atap rumah saya juga terbang tersapu angin," ujarnya. (lucky kawengian)

Tribun Manado 16 April 2012 hal 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...