SEORANG perempuan jangan pernah mengemis, jangan pernah menjual diri untuk menutup dirinya. Biarlah pakaian sobek, namun tetap bermartabat. Kalimat itulah yang sering diucapkan Margaretha Monginsidi, sejak pertama ia mengajar 44 tahun lalu hingga kini.
Baginya harga diri seorang perempuan harus dijunjung tinggi, jangan sebaliknya, sebab perempuan memegang peranan penting dalam kehidupan. "Sebagai seorang perempuan saya merasa prihatin dengan kondisi saat ini. Seluruh aspek boleh modern, tapi seharusnya moral jangan pernah luntur, oleh perubahan zaman," ujarnya saat ditemui Tribun Manado di kediamannya, Jumat (20/4/012).
Ci Monginsidi, demikian sapaan akrabnya, memberikan contohkan berikut. Pada masa sekarang perempuan senang bersolek dan cenderung bergaya hidup mewah. Jika sudah menikah dengan PNS, misalnya, sang suami berpeluang melakukan korupsi untuk memenuhi gaya hidup istrinya. Jika belum menikah tak segan seorang perempuan menjual diri untuk mendapatkan uang.
Oleh karena itu, menurut adik kandung pahlawan nasional Robert Wolter Monginsidi ini, budi pekerti dan pendidikan moral harus ditanamkan pada anak perempuan sejak kecil sehingga ketika besar mereka dapat menjaga diri. Saat ini, kata dia, semangat RA Kartini tetap menginspirasi perempuan Indonesia. Hal ini dapat dilihat makin banyak kaum hawa yang menduduki jabatan penting, bahkan tperempuan lebih kreatif dibandingkan dengan laki-laki.
Dia mengharapkan kaum perempuan di Sulawesi Utara (Sulut) harus bangkit meraih prestasi di segala bidang yang dapat dibanggakan sebab peran perempuan amat penting dalam membangun negeri.
Ci Monginsidi juga menyoroti kasus trafficking yang tergolong tinggi di Sulut. Menurut wanita kelahiran 13 Februari 1938, kasus perdagangan manusia (korbannya terbanyak wanita dan anak-anak) terjadi karena faktor ekonomi serta lemahnya pendidikan dari orang tua.
Dia mengingatkan seorang ibu memegang peranan penting dalam menyiapkan generasi mendatang yang berkualitas. Ci yang hobi membaca sampai saat ini masih setia mengajarkan moral kepada cucunya maupun murid privatnya agar mereka tidak menjadi korban kemajuan zaman. "Kita yang bertanggung jawab untuk generasi ke depan," ujarnya menutup percakapan. (herviansyah)
Tribun Manado 21 April 2012 hal 1