* Minuman Berkelas, Berkhasiat Tinggi dan Sehat
* Sarundajang: Investor Melihat Prospek Cap Tikus
MANADO, TRIBUN - Siapa bilang minuman cap tikus produksi masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) hanya menyebabkan banyak orang mabuk kepayang hingga meningkatkan angka kriminalitas? Branding cap tikus kuat dan tersohor sejak lama. Orang luar mengenang Sulut tidak sekadar Boulevard, Bubur Manado dan Bunaken. Ingat Sulut, ingat cap tikus!
Minuman keras (miras) produksi petani Sulut itu bila diolah akan menjadi minuman yang berkelas, berkhasiat tinggi serta sehat bagi mereka yang mengonsuminya. Produk turunan cap tikus pun sangat dibutuhkan untuk medis dan industri seperti kosmetika dan lainnya.
Mungkin tanpa disadari banyak warga Sulut kalau cap tikus bahkan sudah masuk dalam datar minuman di hotel berbintang di Kota Manado. Pengelola hotel meracik minuman dari bahan cap tikus yang terbukti sangat disukai tamu hotel terutama wisatawan mancanegara."Minuman cap tikus ini kami ramu sendiri dalam hotel. Tidak memabukkan. Malah berkhasiat karena dicampur dengan madu," kata Public Relation Aston Manado Hotel (AMH), Olivia Gagansa, Selasa (20/3/2012).
Menurut Olive, Aston Manado Hotel mengolah cap tikus menjadi minuman yang diberi nama Manado Collins. Olive menambahkan, setiap hari hotel berbintang tiga tersebut meramu minuman Manado Collins sebanyak 8 liter. Kadar alkoholnya rendah sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan RI.
Menurutnya, ide Aston Hotel membuat minuman ini demi mengangkat minuman tradisional Sulawesi Utara. Lagipula banyak wisawatan asing yang menginap di Aston bertanya tentang minuman asli Manado yaitu cap tikus itu. "Minuman ini kami buat saat pelaksanaan ASEAN Tourism Forum kemarin. Banyak wisatawan mancanegara yang memesannya," kata Olive.
Menurutnya, Aston Manado Hotel tetap menyediakan minuman Manado Collins tersebut. "Sampai saat ini minuman itu masih ada. Kami menyediakan dengan harga murah yaitu Rp 30 ribu per gelas," demikian Olive.
Selain masuk daftar minuman di hotel berbintang, penelusuran Tribun Manado menemukan fakta menarik yaitu sudah lama usaha home industri di Sulut mengolah cap tikus menjadi anggur rendah kadar alkohol yang sehat dikonsumsi, misalnya untuk perjamuan. Anggur itu diproduksi Kertina's Home Industri.Pemilik Usaha Kertina's Home Industri, Kertina Poondaag, menuturkan, bahan cap tikus dibeli dari petani lalu diramu menjadi anggur.Alkoholnya diturunkan menjadi 7 persen sehingga meminimalisir cap tikus yang memabukkan. "Saya mau angkat minuman dari cap tikus sehingga bisa menjadi komoditi minuman andalan khas Sulawesi Utara. Apalagi harganya hanya Rp 25 ribu." ujarnya.
Minuman tersebut diproduksi empat kali dalam setahun. Jumlah yang diproduksi sesuai pesanan. Kertina tak bisa memproduksi banyak karena masih terkendala surat izin dagang. "Saya masih terkendala dengan izin. Saya dapat informasi katanya harus ada izin dari Kementerian Perdagangan. Pasti biayanya sangat besar," kata Kertina saat ditemui dalam Pameran Bazar Intermediasi Perbankan dan UMKM di Manado Town Square, Selasa (27/9/2011).
Selain menjadi minuman, cap tikus yang kerap dituding sebagai biang kekacauan ternyata bisa dimanfaatkan untuk medis dan industri. Hal itu dilakukan KUD Poktalus Amurang pimpinan Robby Sangkoy. "Cap tikus kami ubah menjadi ethanol murni untuk kebutuhan medis dan industri," kata Sangkoy.
Dua jenis alkohol yang diproduksi yaitu ethanol 70 persen dan 90 persen. "Biasanya 90 persen itu untuk kebutuhan industri," jelasnya. Bahan ethanol berasal dari cap tikus produksi petani."Cap tikus dari petani, kami tampung kemudian dipisahkan kandungan ethanol dan metil melalui proses destilasi bertingkat. Maka hasilnya ethanol murni dan tidak mengandung metil," ujarnya.
Awal produksi tahun 1996, KUD Poktalus mampu memroduksi seribu liter per hari. "Untuk produksi seribu liter ethanol, dibutuhkan tiga ribu liter cap tikus," jelas Sangkoy. Produk ethanol tersebut dijual dalam kemasan plastik dan dus ke Surabaya sesuai pesaran."Ada ukuran 100 mili liter, 300, dan 1 liter," tuturnya. Pengolaan tersebut bisa menyerap tenaga kerja 200 orang. Selain rumah sakit dan industri, produk mereka juga masuk apotik. "Kami kekurangan modal, jadi sekarang hanya produksi sesuai permintaan," ujarnya. Ia mengharapkan pemerintah memberi perhatian pada pemanfaatan cap tikus untuk kebutuhan medis dan industri.
Dilirik Investor
"Tak selamanya cap tikus itu berdampak negatif," kata Gubernur Sulut Dr Sinyo Harry Sarundajang di Hotel Aryaduta Manado, Selasa (20/3). "Cap tikus itu mata rantai ekonomi. Kalau kita basmi produksinya itu tidak adil," kata Sarundajang.
Menurut Sarundajang, jika dibasmi produksinya, otomatis akan menghilangkan penghasilan mulai dari petani nira hingga pengelola cap tikus. Menurutnya, banyak orang menggantungkan hidupnya dari cap tikus. "Di daerah penghasil cap tikus, ada yang menyekolahkan anaknya hingga selesai perguruan tinggi," ujarnya.
Sarundajang mengatakan, untuk mengubah cap tikus menjadi produk turunan lainnya, misalnya untuk minuman berkhasiat tinggi, untuk medis maupun komestik, harus ada pengusaha yang mau menanamkan modalnya dalam usaha ini. "Sudah banyak investor yang melihat prospek dari cap tikus, tapi sampai sekarang jawaban mereka katanya masih pelajari lagi," ujar Sarundajang. Gubernur tak setuju kalau cap tikus menjadi kambing hitam meningkatnya angka kriminalitas di Sulut. Kata dia, justru di daerah penghasil cap tikus, jumlah pemabuk sangat sedikit. Mereka yang mabuk cap tikus karena menenggak minuman itu over dosis. (dev/aro/amg)
Sulut Nomor Satu
CAP tikus adalah jenis cairan berkadar alkohol rata-rata 40 persen yang dihasilkan melalui penyulingan saguer dari mayang pohon enau. Di Indonesia , penghasil cap tikus tertinggi di Sulawesi Utara. Sebagai minuman keras dapat memberi dampak negatif bagi masyarakat sehingga perlu alternatif pemanfaatan cap tikus menjadi produk turunan yang sehat serta menguntungkan secara ekonomis.
Kepada Tribun Manado, Selasa (20/3/2012), peneliti dari Universitas Sam Ratulangi Manado, Hanny F. Sangian mengatakan, cap tikus dapat diolah menjadi bioetanol atau biofuel yang dikenal sebagai bahan bakar nabati yang ramah lingkungan.
Cap tikus juga merupakan sumber energi alternatif pengganti (substitusi) dari bahan bakar minyak, dapat diolah menjadi ethanol, substitusi produk alkohol (industri farmasi) dan bahan pendukung produksi makanan dan minuman.
"Untuk kebutuhan industri, pohon aren sebagai bahan baku cap tikus diperlukan dalam jumlah banyak. Di Sulawesi Utara jumlah pohon aren terus berkurang dan ini butuh perhatian pemerintah. Apabila cap tikus digunakan sebagai bahan ethanol industri maka permintaan akan semakin meningkat, sehingga petani juga akan sangat diuntungkan," kata dosen Fakultas Mipa Unsrat itu.
Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Unsrat Jan Assa mengatakan, berdasarkan sejumlah penelitian di laboratorium, kadar alkohol cap tikus sekitar 40 persen. Jika makin bagus sistem penyulingan dan semakin lama disimpan, kadar alkohol cap tikus akan semakin tinggi.
Flexie Mamahit, ketua program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Unsrat, mengatakan saguer dapat difermentasi dan diturunkan kadar airnya (destilasi) menjadi sumber biofuel (ethanol). Namun, pengolahannya membutuhkan alat-alat teknologi canggih dan dana yang besar. "Saguer bisa dijadikan gula aren yang kebetulan produksinya masih kurang. Selain itu saguer dapat dimanfaatkan menjadi gula dan dapat difermentasikan menjadi cuka dan arak," kata Mamahit
Sementara Juius Pontoh, dosen kimia Fakultas Mipa Unsrat menjelaskan, cap tikus dapat bermanfaat bagi tubuh yaitu sebagai minuman penghangat tubuh dan pendorong semangat kerja asal jangan minum terlalu banyak. "Mengonsumsi cap tikus terlalu banyak organ tubuh kita akan rusak," tambahnya.
Bahan dasar cap tikus berasal dari pohon enau atau aren (arenga pinnata, suku Arecaceae). Enau merupakan palma terpenting setelah kelapa (nyiur) karena tergolong tanaman serba guna. Tumbuhan ini dikenal dengan banyak nama seperti nau, hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk atau ijuk (nama lokal di Sumatra dan Semenanjung Malaya); akol, akel, akere, inru, indu (nama lokal di Sulawesi); moka, moke, tuwa, tuak (di Nusa Tenggara), dan lain-lain. Bangsa Belanda mengenalnya sebagai arenpalm atau zuikerpalm, bangsa Jerman menyebutnya zuckerpalme. Dalam bahasa Inggris disebut sugar palm atau gomuti palm. (jhp)
Tribun Manado 26 Maret 2012 hal 1 (berita eksklusif)