Minggu, 29 April 2012

Ibu-ibu Meneteskan Air Mata

* Jemaat Penuhi Gereja Saat Jumat Agung
* Copot Alas Kaki Sebelum Cium Salib

MANADO, TRIBUN -  Perayaan Jumat Agung di berbagai kota di Sulawesi Utara, Jumat (6/4),  berlangsung khusuk dan aman. Di Manado,  jemaat memadati gereja- gereja saat ibadah pagi maupun sore.

Suasana khas terlihat di Desa Laikit, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara. Sejumlah ibu meneteskan air mata saat menyaksikan drama jalan salib pada perayaan Jumat Agung di desa itu. Pada Jumat (6/4) pagi  umat Katolik di pusat Paroki Desa Laikit, Kecamatan Dimembe mengadakan prosesi jalan salib.  Jalannya prosesi berlangsung hikmat. Kelompok muda-mudi Katolik (mudika) melakoni drama jalan salib hidup kira-kira sejauh 4 kilometer.
Start prosesi  dari Desa Dimembe jaga IV dan berakhir halaman gereja Katolik St Johanis Penginjil Laikit. Dalam lakon drama digambarkan perjalanan Yesus memikul kayu salib. Adegan-adengan sengsara saat Yesus disiksa membuat umat meratap sedih. Prosesi jalan salib itu melewati 14 perhentian. Empat adegan terakhir saat Yesus disalibkan hingga dimakamkan berlangsung di halaman gereja.
Menurut Ketua Dewan Pusat Paroki Laikit, Onisimus Rarun, prosesi jalan salib mengambil stasi-stasi dari perisitiwa jalan salib. ."Mulai Yesus di hadapan Pilatus, perjalanan ke Golgota sampai jatuh tiga kali. Dibuka pakaiannya, disalibkan, Yesus meninggal, diturunkan dari salib dan dikuburkan," tutur Rarun.

Usai prosesi jalan salib, tepat pukul 15.00 Wita berlangsung ibadah Jumat Agung dipimpin pastor Amri Wuritimur Pr. Bupati Sompie Singal dan Anggota DPRD Lucky Kiolol ikut bersama umat paroki Laikit mengikuti misa Jumat Agung.
Di Manado,  Wakil Gubernur Sulawesi Utarara (Sulut)  Dr Djouhari Kansil mengikuti  ibadah Jumat Agung bersama jemaat GMIM Nafiri Kima, Jumat (6/4).

Kansil yang datang bersama istrinya Mieke Kansil Tatengkeng  mengingatkan jemaat  bahwa melalui momen kematian Kristus, umat kristiani diharapkan bisa menghayati penderitaan Kristus.  "Yesus datang ke dunia, mati untuk menebus dosa kita semua, untuk itu sebagai umat yang percaya kita harus menggenapi amanat yang disampaikanNya yakni hidup rukun, damai dan saling menghargai," ujar Kansil. Kansil juga mengatakan, penderitaan Yesus menunjukkan kesetianNya pada Allah dan kasihNya pada manusia. "Maka kita menyampaikan kasih Allah lewat perbuatan kita, mulai dari keluarga, jemaat kita dan orang lain," tutur Kansil.

Ibadah memperingati kematian Yesus juga dilaksanakan warga jemaat GMIM Nazareth Tuminting.  Panitia gereja harus menambah jumlah kursi di bagian lain gedung gereja karena banyaknya jemaat yang mengikuti ibadah. Ibadah dimulai pukul 09.00 Wita dan dipimpin  Pdt Teddy Tiwang Sth. Nuansa hitam mendominasi dekorasi di mimbar gereja. Bahkan sebagian besar jemaat menggunakan pakaian hitam. Pembacaan Alkitab diambil dari kitab Yesaya 42: 1-4 dan Injil Lukas 23: 33-49. Dalam khotbahnya Tiwang mengatakan, semua orang percaya pasti mengingat kembali peristiwa luar biasa di Golgota. Yesus mengalami penderitaan hebat. "Namun inilah mujizat terbesar yang dilakukan anak Allah," kata Tiwang.

Tak kurang dari 2. 098 anggota sidi jemaat di GMIM Paulus Titiwungen Wenang Mahakeret (TWM) Manado mengikuti ibadah Jumat Agung/ Ribuan jemaat terlihat khusuk menghayati kematian sang juru selamat dunia.

Ibadah Jumat Agung di GMIM Paulus TWM sebanyak dua kali yakni subuh dan sore. Lantaram tidak dapat menampung jemaat yang hadir,  panitia membuat tenda di depan dan samping kanan serta kiri gereja. Ibadah sore dipimpin Pdt Ester Rengkung-Egetan STh. Renungan Jumat Agung diambil dalam Kitab Yesaya 42:1-4 tentang Hamba Tuhan yang datang dan menegakkan hukum di bumi. Seusai berkhotbah dilanjutkan dengan perjamuan kudus. Meja perjamuan dibuat seperti salib dan setiap kesempatan perjamuan sekitar 70 jemaat duduk untuk meminum anggur dan memakan roti yang dilambangkan sebagai tubuh dan darah Kristus.

Copot Alas Kaki
Tahap kedua dari rangkaian Tri Hari Suci umat Katolik di Manado berlangsung khidmat. Misa Jumat Agung mengenang sengsara Yesus disalib membuat Gereja Hati Tersuci Maria Katedral Manado seolah menjadi kecil, Jumat (6/4) sore.
Ratusan umat memadati dalam gereja, tenda sayap sebelah kanan, kiri dan depan gereja, bahkan puluhan umat berdiri dan duduk di bangunan seberang jalan gereja.
Pastor Paroki Wens Mawitjere memimpin Ibadat Jumat Agung didamping Pastur Novi Karundeng dam Pastur Revi Tanon yang dikenal pula sebagai Rektor Universitas Katolik De La Salle Manado.

Di Sulawesi Utara pada umumnya memiliki tradisi di Ibadat Jumat Agung. Ellen Wuisan Hartono,  Kepala BKKBN Bitung yang mengikuti Ibadat Jumat Agung bersama keluarga di Gereja Katedral Manado mengatakan di Manado atau Sulut pada umumnya memiliki tradisi copot alas kaki. "Ya sudah sejak saya kecil, saya sejak kecil di Bitung ketika prosesi mencium salib saat Ibadat Jumat Agung umat selalu copot alas kaki," ujarnya. Menurut Ellen tradisi ini sudah lama dan simbol penghormatan dan kecintaan pada Yesus. "Kalau di Bitung masih, kurang tahu kalau di sini. Biasanya kalau umat yang di dalam gereja mencopot alas kakinya sebelum menuju salib dan menciumnya," jelas Ellen.

Tradisi mencopot alas kaki sebelum mencium salib juga dilakukan di Gereja Katolik Tuminting. Ignatius Dimas, seorang karyawan Bank Swasta di Manado mengatakan umat yang berada di dalam gereja mencopot alas kaki sebelum mencium salib Yesus. "Katanya itu sudah tradisi di sini sebuah lambang penghormatan," ujarnya. Ia saat mengikuti ibadat berada di luar gereja dan menyaksikan di layar monitor umat mencopot alas kakinya. Sedangkan ia dan umat lain di luar gereja, saat mencium salib tetap memakai alas kaki. Dimas yang asal Yogyakarta kaget dengan tradisi ini karena di Jawa tradisi itu tak ada.

Pastor Revi Tanon yang juga Rektor Unika De La Salle memberikan kotbah kreatif terkait keagungan Tuhan. "Ketika saya kecil, Jumat agung dan Jalan Salib sangat saya tidak suka. Karena bertentangan dengan yang saya nikmati," ujarnya. Sontak terdengar umat yang bergumam dan bertanya-tanya. "Pertama saya suka nonton film silat dan film action, penjahat pasti mati dan pemenangnya pemeran utama atau disebut barol. Kalau Jalan Salib dan Jumat Agung, Yesus yang harusnya menang dalam kisah tersebut justru sengsara," katanya.

Alasan tersebut yang membuatnya tak suka. Bahkan ia berseloroh menanggapi kisah sengsara Yesus. "Saat mereka menyuruh turun dari salib, kalau saya Yesus saya turun dari salib saya sikat semua," katanya. Ia kemudian menceritakan kisah lucu di Amurang Minahasa Selatan tentang pemeran Yesus yang turun dari salib. "Hanya di Amurang Yesus turun karena salib yang dinaiki tidak kuat, ada yang patah, daripada  jatuh, pemeran Yesus turun," jelasnya. Umat terpingkal-pingkal. Revi mengajak umat merenungi kisah Yesus. Apa yang dialami Yesus memang tak sesuai dengan harapan. Bagaimana Yesus dikhianati Yudas, disangkal Petrus padahal sebelumnya membantu orang banyak. "Inilah renungan, yang Tuhan buat tak sesuai dengan pikiran saya dan tak masuk akal. Itu yang mengecewakan saya cinta yang tak masuk akal tapi itu cinta sejati," katanya.

Cinta sejati menurut Pastor Revi adalah cinta yang tak masuk akal, cinta tanpa ukuran tertentu atau perhitungan tapi tulus dilakukan. Misalnya dalam keluarga kemudian mengungkit-ungkit jasa yang telah diperbuat dan menjelekkan pasangannya itu contoh cinta yang perhitungan dan itu tidak baik. Maka ia berharap kisah sengsara Yesus bukan merayakan kematian namun merayakan kehidupan yang penuh arti. Kisah sengsara itu miniatur hidup. (ryo/aro/dru/rob)

Pemuda Muslim Jaga Gereja

SOLIDARITAS antarumat beragama terasa di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong).  Di saat umat Kristiani melaksanakan ibadah Jumat Agung, terlihat pemuda Muslim ikut mengaja keamanan di gereja-gereja.

"Alhamdulillah, perayaan Jumat Agung berlangsung aman. Toleransi sangat bagus. Ini diperlihatkan dengan keterlibatan pemuda Muslin untuk mengamankan kegiatan ibadah," ujar Kepala Polres Bolmong AKBP Enggar Brotoseno melalui Kasubag Humas AKP Tubagus Effendi, Jumat (6/4).

Dia mencontohkan toleransi yang diperlihatkan pemuda Muslim itu terjadi di wilayah Dumoga Barat dan Utara seperti Desa Torout, Doloduo, Ikhwan dan Uuwan, Konarom dan Mopuya serta sebagian wilayah Lolayan, seperti di Bombanon, Abak, Tungoi, Modayag Satu dan Dua.

Untuk pengamanan perayaan Paskah, Polres Bolmong menurunkan dua pertiga kekuatan personelnya. "Seluruh Polsek juga menurunkan personelnya untuk memberikan rasa aman bagi umat Nasrani beribadah," kata Effendi.
Polres Bolmong menempatkan personel di setiap gereja yang tersebar di lima wilayah, yakni Bolmong Induk, Bolmong Selatan, Bolmong Utara, Bolmong Timur dan Kotamobagu. "Setiap gereja kami tempatkan satu personel. Dan untuk kegiatan seperti jalan salib dan lainnya juga dikawal polisi," katanya. (suk)

Tribun Manado 7 April 2012 hal 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...