Senin, 23 April 2012

Sering Diejek Teman Sekolah

* Anak Pemulung Ingin Jadi Tentara dan Pendeta

Ketika banyak anak menikmati kehidupan menyenangkan dengan fasilitas lengkap dari orang tua,  tak sedikit pula rekan seusianya yang kurang beruntung. Tetapi mereka tidak putus asa.

MEMIKUL label sebagai anak pemulung tidak menyurutkan semangat juang serta harapan Deni, David, Novri dan rekan-rekannya. Anak-anak pemulung di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Sumompo Manado tersebut tetap sekolah sambil bekerja sebagai buruh sampah membantu orangtua mereka.

Berdasarkan pantauan Tribun Manado di TPST  Sumompo, Sabtu (17/3),  anak-anak dan remaja di sana membantu orangtuanya dengan riang. Sebagaimana anak seusianya, mereka tetap memiliki waktu untuk belajar dan bermain. Bedanya mereka mempunyai pekerjaan tambahan yakti membantu orangtua sebagai buruh sampah. Berton-ton sampah rumah tangga warga Manado yang dibuang ke Sumompo saban hari adalah sumber pendapatan keluarga pemulung. Mereka hidup dari sampah yang bagi kebanyakan orang dianggap tak berguna lagi.
Memulung sampah merupakan kebanggaan bagi Deni Ganggulang, siswa jurusan perhotelan  SMK Yayasan Pendidikan Kristen Manado (YPKM).  Deny bangga karena dia dapat membayar biaya sekolah dari hasil keringatnya sebagai buruh sampah sesudah pulang sekolah.

"Saya sering diejek oleh teman-teman sekolah saya karena hanya bekerja sebagai buruh sampah, tetapi saya tidak terpengaruh dengan kata-kata mereka. Saya punya keinginan besar untuk tetap sekolah, " ujar Deni yang menyukai pelajaran Matematika.

Semangat juang yang sama ditunjukkan Novri, siswa kelas tiga SMP Victory Koka. Sepulang sekolah, Novri membantu ayahnya sebagai buruh sampah. "Meskipun kadang sulit membagi waktu untuk belajar karena harus membantu orang tua, tetapi ini sudah menjadi tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan sekolah, " ungkap Novri. Novri bercita-cita menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Agar tetap sekolah David (17), siswa  kelas tiga jurusan IPS SMA Kristen Karsia Rike, mau melakukan apa saja yang halal termasuk bekerja paruh waktu sebagai buruh sampah. Pekerjaan itu membantunya memenuhi kebutuhan sekolah, apalagi saat ini orangtuanya sakit sehingga dia harus membantu biaya kedua adiknya.
"Saya siap melakukan apa saja, asalkan tetap sekolah. Walaupun secara ekonomi saya tidak mampu, tetapi saya punya keinginan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas," tambah David. Lalu apa cita-cita David? "Saya mau menjadi pendeta," ujarnya. Sebuah cita-cita yang sangat mulia.

Motivasi menyekolahkan anak-anak juga diungkapkan sejumlah pemulung di Sumompo.  Syane (50) mengaku dari pekerjaannya sebagai pemulung dia dapat menyekolahkan empat orang anaknya sampai tingkat SMA. "Meskipun hanya makan seadanya, yang penting anak-anak bisa sekolah. Saya hanya ingin mereka menjadi orang sukses," kata Syane.

Imelda Gosal (32), tidak tega bila melihat anaknya tidak sekolah. Jadi, ia  bekerja siang malam sebagai pemulung untuk mendapatkan uang buat biaya sekolah dan kebutuhan  hidup ketiga anaknya. "Saya tidak ingin anak-anak saya putus sekolah hanya karena tidak ada biaya, sehingga apapun akan saya lakukan agar anak-anak bisa meraih masa depan yang lebih baik," tambah ibunda Michael Rapar, siswa kelas satu jurusan perhotelan SMK YPKM. (joice juliani hape)

Tribun Manado 21 Maret 2012 hal 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...