* Sartje tak Sabar Bertemu Meryl
MANADO, TRIBUN - Dua anak baru gede (ABG) asal Minahasa Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), masing-masing Rachel Apriska Ngaloh (14) dan Meryl Toundatuon (15), korban traficking yang akan dikirim ke Singapura akhirnya kembali ke kampung halamannya, Sabtu (24/3) malam.
Dengan menumpang pesawat Lion Air dari Jakarta, kedua ABG itu tiba di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, Sabtu (24/3/2012) sekitar pukul 19.00 Wita. Mereka didampingi dua orang polwan dari PPA Polda Kepulauan Riau (Kepri).
Di bandara Rachel dan Meryl dijemput kanit PPA Polda Sulut Kompol Nony Sengkey dan beberapa anggota dari PPA Polda dan Polsek Bandara Sam Ratulangi. Usai mengambil bagasi, mereka langsung beranjak meninggalkan bandara melalui pintu keluar yang juga dilalui penumpang lainnya.
Wajah ceria terpancar dari keduanya saat menghirup udara Kota Manado. Keduanya tampak santai. Meski berita penyekapan Rachel dan Meryl sempat menyita perhatian publik Sulut dalam sepekan ini, namun banyak penumpang dan penjemput tidak mengenal mereka sehingga situasi pun tampak biasa saja.
Ketika ditanya perasaannya setelah tiba di Manado, Rachel mengaku sangat senang.
"Tentunya sangat senang bisa kembali ke kampung halaman," katanya singkat. Saat Tribun Manado hendak mewawancarai lebih lanjut dengan keduanya terkait situasi mereka saat disekap, pendamping mereka melarang. "Sudah cukup ya," katanya.
Aiptu Puji Hastuti, polwan yang mendampingi Rachel dan Meryl menjelaskan, penanganan kasus tersebut dalam pengembangan. "Kasusnya sedang kami kembangkan dan kami akan berkoordinasi dengan Polda Sulut," ujar Hastuti sebelum masuk ke dalam mobil jemputan. Hastuti juga mengatakan, pihaknya sedang mendalami keterlibatan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang diduga akan mengirim kedua ABG asal Sulut itu ke Singapura. "Mereka cukup kooperatif memberi informasi," kata Hastuti.
Selain dari PPA Polda Sulut, terlihat hadir saat menjemput Meryl dan Rachel di bandara adalah Fice Wurangian, Kasub Dit Tindak Perdagangan Orang pada Badan Pemberdayaan Perempuan (BPP) Provinsi Sulut. Menurut kanit PPA Polda Sulut, Kompol Nony Sengkey, penyelidikan dan penyidikan kasus tersebut dilakukan Polres Minahasa Selatan. "Penanganannya oleh Polres Minsel," tambahnya.
Sementara Sartje Mokosolang ibunda Meryl Toundatuon mengaku sudah tak sabar bertemu dengan sang buah hati. "Sangat senang, Meryl baru menelepon katanya mereka sudah di Bandara Samrat di Manado," ujar Sartje kala menghubungi Tribun Manado sekitar pukul 18.50 Wita, Sabtu (24/3).
Ia memperkirakan sang buah hati sampai di kediaman mereka sebelum tengah malam. "Kalau mungkin makan dulu, ya sekitar pukul 22.00 Wita Meryl tiba di rumah," tambahnya. Ketika ditanyakan mengapa pihak keluarga tak menjemput di bandara, Sartje mengaku sang anak minta mereka di rumah saja. "Katanya tunggu di rumah saja karena Meryl diantar oleh pihak berwajib sampai di sini dan mereka akan bertanya-tanya sedikit kepada kami," kata Sartje.
Seperti diwartakan, Rachel dan Meryl yang bakal dikirim ke Singapura dan Malaysia berhasil meloloskan diri dari lokasi penyekapan di rumah penampungan di Kota Batam, Kepulauan Riau atau tepatnya di RT 2 RW 12 Blok F Nomor 66, Sengkuang, Batuampar. Mereka kabur, Selasa (20/3) sekitar pukul 08.00 WIB. Kedua ABG itu disekap selama sebulan. Menurut pengakuan Rusdi, Ketua RW setempat, korban melarikan diri karena sudah tidak tahan lagi disekap selama satu bulan oleh seseorang bernama Jenni. Korban melarikan diri dengan cara melompat dari jendela, lantas ke rumah warga bernama Daeng.
"Mereka melarikan diri, lalu ke rumah warga, Pak Daeng, Mereka mengaku sudah disekap selama satu bulan. Pak Daeng lantas memberitahukan kejadian itu kepada saya," ujar Rusdi. Menurut Rusdi yang sempat mendengar pengakuan kedua ABG itu, korban dibawa dari kampungnya di Kuyanga, Tombatu, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara oleh seseorang bernama Sarah (19). Keduanya ditawari bekerja di Batam dengan gaji jutaan rupiah. Setelah keduanya bersedia, lalu Sarah membawa ke Manado sebelum dibawa ke Batam. Namun setelah di Batam, keduanya ternyata ditipu. Keduanya akan dikirim ke Singapura dan Malaysia. (tos/uke)
Tribun Manado, 25 Maret 2012 hal 1