* Jago Merah Lumat Tiga Rumah di Kawangkoan
* Bengkel Motor di Paal Dua Tak Berbekas
AIRMADIDI, TRIBUN - Tak ada harta tersisa kecuali baju di badan. Inilah yang dialami pasangan suami istri Pendeta Fanny Repy (29) dan Nita Pungus (28) pasca kebakaran melanda rumah mereka di Desa Kawangkoan jaga II, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara, Selasa (3/4) sekitar pukul 08.10 Wita. .
Tiga rumah di Kawangkoan dilahap di jago merah, dua di antaranya tinggal puing. Tiga keluarga yang jadi korban yakni Keluarga Pungus, rumah Ebert Mandey, dan Keluarga Rotinsulu Mamengkey selamat, meski sempat dijilat api.
Meski diterpa musibah, Fanny bersyukur karena dia dan istri selamat. Nita, istrinya tengah mengandung sang buah hati, calon anak pertama mereka. "Saya cuma ingat istri, calon anak saya, dan oma," ucapnya. Yang disesalkannya, ia tak sempat menyelamatkan alkitab dan buku-buku rohani miliknya yang kini sudah bersatu dengan arang. "Buku-buku rohani, Alkitab semuanya habis. Itu buku saya kumpulkan sudah lama, tiap ada uang saya beli," ujarnya. Fanny menduga, pemicu api akibat hubungan arus pendek, apalagi saat kejadian berlangsung listrik ikut padam.
Nita pun terlihat sedih, matanya sembab menyaksikan rumah tinggalnya tinggal puing. "Kami tidak punya firasat apa-apa, tadi malam kami selesai melayani di gereja," ungkapnya. Di rumah kayu tersebut, tinggal juga Beatrix Singgeta (70), pemilik rumah yang juga nenek Fanny.
Saat kejadian para penghuni rumah sedang memasak di dapur. Kata Nita, api tiba-tiba sudah membesar, melumat kamar depan. Suaminya sempat mendobrak kamar depan, untuk menyelamatkan barang-barang, namun tak sempat "Apinya keluar menjilat ketika pintu didobrak, memang di dalam sudah penuh api," kata Nita. Mereka memilih keluar rumah, tak sempat menyelamatkan harta benda. Oma Beatrix pun, tak bisa berbuat banyak. .
Ebert Mandery (39), warga Desa Kawangkoan Jaga II, Kecamatan Kalawat pun cuma bisa termenung meratap nasib, pasca kebakaran hebat melanda rumah tinggalnya. Ia sedih lantaran uang jerih payahnya selama dua tahun, hasil menjual koran ludes dalam waktu 15 menit ketika jago merah beraksi. "Abis semua, uang ada kumpul-kumpul lama," kata Ebert kepada Tribun Manado, Selasa (3/4).
Pria bujangan ini mengatakan, uang senilai Rp 9 juta telah bersatu dengan arang. Uang tabungannya selama dua tahun itu terdiri berbagai pecahan mulai dari 10 ribu hingga 50 ribu. Uang ini hasil upah menjual koran yang ia sisipkan di antara baju dan di lemari setiap hari. Saat kebakaran melanda rumah, Ebert tak ada di tempat. "Saya sedang jualan koran, dapat kabar pulang ke rumah, sudah tak ada sisa lagi," ucapnya.
Menurut Refly Sorongan alias Epi (42), warga Kawangkoan jaga II, Kecamatan Kalawat, api berasal dari bagian depan rumah, hanya dalam waktu 15 menit, api menyebar ke seluruh rumah "Saya lagi duduk di pos, tiba-tiba api sudah menyala," tutur Refly. Ia pun bergegas masuk menolong penghuni rumah yang sudah lanjut usia. "Kami coba padamkan pakai air tapi, api terlanjut cepat membesar, menyebar ke rumah lain, pas pemadam kebakaran datang sudah habis," ujar perangkat Desa Kalawat ini.
Bengkel Rata Tanah
Si jago merah pun mengamuk di Kota Manado, Selasa (3/4) pukul 14.00 Wita. Kali ini menimpa rumah sekaligus bengkel sepeda motor milik Yunus Paramata (34) ludes di di tepi Jlan Yos Sudarso lingkungan IV, Kelurahan Paal Dua. Bengkel itu rata tanah.
Empat mobil pemadam kebakaran yang tiba di lokasi pukul 14.45 wita tidak dapat berbuat banyak karena api telah menghanguskan seluruh bagian rumah dan bengkel.
Usman Paramata (42), kakak Yunus yang saat itu sedang menjaga bengkel menuturkan, api mulanya berasal dari bagian atas rumah. Diduga pemicunya adalah korsleting pada kabel di plafon rumah. "Saya melihat ada kilatan cahaya disusul terlihat api di bagian atas," katanya.
Usman langsung membangunkan Yunus yang saat itu tidur di kamar karena sakit. Usman berusaha menyelamatkan barang-barang termasuk sepeda motor Honda Supra X miliknya. Namun api yang membesar dengan cepat membuat Usman mengurungkan niatnya. "Saat itu api telah tiba di bawah dan mulai menyambar lima botol bensin yang ada di situ," tuturnya.
Selain bensin, banyaknya ban kendaraan dan rumah yang sebagian besar berbahan tripleks membuat api berkobar kian cepat. Usman hampir gagal menyelamatkan diri. "Saya seperti dikejar api," ujarnya. Di saat saat genting itu, untung ia dapat mendobrak salah satu dinding yang belum termakan api.
Ditemui usai kebakaran, Usman tampak shock. Kepada Tribun, ia bertutur tentang kerugian materi. "Ada 100 sak semen, tiga karung bahan pakaian yang akan di jual di pasar serta dua motor yaitu Honda Supra X dan Kharisma turut terbakar," ucapnya lirih. Selain itu alat bengkel milik kakaknya seperti kompresor, ban motor dan lainnya juga musnah.
Jusuf Pakaya, seorang saksi mata mengakui kebakaran itu berlangsung amat lekas. Diceritakannya, saat itu ia sedang berjualan es cukur di depan kios milik Yunus. "Tiba-tiba muncul api. mulanya dari bagian atas," katanya. Melihat itu ia dan warga setempat berusaha memadamkan api. Namun api menjalar dengan cepat. Sari, warga setempat sempat mendengar bunyi ledakan dari dalam bengkel. "Mungkin itu bunyi kompresor yang meledak," katanya. (ryo/art)
Cili Masih Shock
KONDISI rumah sekaligus bengkel milik Yunus Paramata tampak memrihatinkan. Bengkel yang dulunya ramai dikunjungi kini tinggal puing. Di atasnya hanya terlihat seng serta deretan tripleks hangus. Melihat ini Cili Hasan (30) langsung pingsan. Istri Yunus itu berada di rumah keluarganya di kompleks Paal Tiga untuk mencharge HP saat kebakaran terjadi. Mendengar kejadian itu, ia langsung bergegas menuju ke rumah. Alangkah kagetnya ia saat mendapati rumah telah ludes terbakar.
"Ia langsung pingsan kemudian dibawa ke Puskesmas Perkamil," kata Muna, kerabat Cili. Dalam perjalanan menuju ke Puskesmas, ibu Cili sempat siuman. Ibu dua anak ini lantas berteriak histeris. Setelah mendapat pertolongan dari perawat di Puskemas ia mulai tenang.
Saat hendak ditemui di rumah Yusuf Pakaya, salah satu kerabatnya di kompleks Paal Tiga, Lingkungan IV, ibu Cili sedang tidur. Di sekelilingnya tampak beberapa ibu. Meski mulai berbicara dengan kerabat lainnya, ia masih belum pulih sepenuhnya. "Ia belum bisa ditemui karena masih shock," kata seorang ibu.
Hal yang sama dialami Yunus Paramata. Pria berkulit legam ini terlihat masih bingung. Kenyataan pahit yang baru saja terjadi sepertinya memukul batin Yunus hingga ia tak dapat berkata apa -apa. Arman, salah satu anggota keluarga Yunis mengatakan bahwa usaha bengkel motor itu telah dirintis Yunus selama bertahun tahun. Mulanya dari depan hotel Horizon kemudian pindah ke sini," katanya.
Selama ini, Yunus dan keluarganya sangat bergantung pada usaha bengkel tersebut. Hal itu membuatnya sedih. Pihak keluarga terus memberi penghiburan kepada Yunus agar tabah menghadapi cobaan yang menimpanya. "Kamu harus bersyukur karena nyawa kalian masih terselamatkan," ujar seorang bapak yang berkumpul di situ. (art)
Bengkel Motor Rata Tanah
* Kejadian Selasa (3/4) pukul 14.00 Wita
* Sumber api dari atap akibat korsleting
* Bengkel dan rumah ludes dalam 30 menit
* Mobil PMK baru tiba di TKP pukul 14.45 Wita
* Kerugian Yunus Paramata antara lain 100 sak semen, dua sepeda motor, peralatan bengkel dan perabot rumah.
14 Kali Sejak Januari
Minggu Januari 2012 Pukul 04.30 Wita: Kebakaran melanda rumah keluarga Mangare, Paneo-Mertosono,Harisun George dan semua rumah kontrakan di Kelurahan Lawangirung lingkungan III, Kecamatan Wenang.
Senin 16 Januari 2012 pukul 19.00 Wita: Ruma Keluarga Manusu Kaliu di Kelurahan Islam lingkungan IV.
Rabu 18 Januari 2012 Pukul 20.45 Wita: Dua rumah milik Keluarga Subarka Kastilong dan Damal Kastilong di Kelurahan Dendengan Dalam Lingkungan V, Kecamatan Tikala.
Sabtu 21 Januari pukul 12.15 Wita: Rumah keluarga Suhemi Idris di Kelurahan Dendengan Dalam, lingkungan II, Manado.
Sabtu 4 Februari 2012 pukul 19.30 Wita: Rumah Milik keluarga Hud Wakid, Kelurahan Istiqlal Kecamatan Wenang.
Rabu 8 Februari 2012 Pukul 14.40 Wita.
Milik Keluarga Djabar Deluma di Kelurahan Ternate Tanjung lingkungan I
Rabu, 15 Februari 2012 Pukul 15.00 Wita: Milik keluarga Giu Hasan di Kelurahan Malendeng Lingkungan III Kecamatan Tikala.
Jumat, 17 Februari 2012 Pukul 10.30 Wita: Milik Keluarga Mombat Tumpia di
Desa Tateli Satu jaga I.
Sabtu 18 Februari 2012 pukul 17.15 Wita: Pastori Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI) Nasareth Pattymana Manado di Kelurahan Pinaesaan Lingkungan III, Kecamatan Wenang nyaris terbakar.
Jumat 25 Februari 2012 pukul 23.30 Wita: Kebakaran terjadi di Rumah keluarga Salasa Barik warga desa Tateli Weru jaga IV kecamatan Pineleng Minahasa.
Senin 26 Februari 2012 pukul 10.00 Wita: Rumah Milik Jafar JA alias Jafar, warga Kelurahan Islam lingkungan V kecamatan Tuminting.
Selasa 27 Maret 2012 pukul 01.15 Wita: Rumah dinas milik universitas Negeri Manado yang di Kelurahan Kleak lingkungan II. Korban Keluarga Sampoel- Pusoh.
Tribun Manado 4 April 2012 hal 1